Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, Headlines, News DPR: Terus Meningkat, Utang Mau Dibayar Pakai Apa?

DPR: Terus Meningkat, Utang Mau Dibayar Pakai Apa?

Utang luar negeri

Sketsanews.com, Jakarta – Tiga tahun pertama pemerintahan Joko Widodo (2014), utang pemerintah mencapai angka Rp 2.608,80 triliun. Kini, Mei 2017 melonjak jadi Rp 3.672 triliun. Utang yang terus membengkak itu ditambah bungan yang tinggi, mau dibayar pakai apa?

“Utang-utang yang terus ditumpuk dibayar pakai apa, di tengah-tengah adanya gap antara realisasi pendapatan dan belanja, di tengah-tengah realisasi pajak yang terus melenceng, di tengah-tengah angka tax ratio yang rendah? Ini nanti bagaimana,” kata anggota Komisi XI Heri Gunawan kepada wartawan di Jakarta, Senin (13/11/2017).

Menurutnya,  utang yang membengkak, menyusul bunga utang tinggi membuat perekonomian negara makin mengkhawatirkan.  “Pemasukan pajak rendah, tapi pemerintah masih berani menumpuk utang. Saya khawatir pemerintah akan sulit merealisasikan target penerimaan pajak tahun ini, terutama target PPh Migas dan Penerimaan Bea Cukai yang stagnan,” ungkapnya.

“Jika kita lihat trendnya, maka fakta menunjukkan bahwa realisasi penerimaan pajak terus melenceng dari rencana. Tahun 2015, realisasinya hanya Rp1.285 triliun atau melenceng dari target APBN-P sebesar Rp1.489 triliun. Tahun 2016 juga melenceng dari target APBN-P TA 2016 sebesar Rp1.539,2 triliun,” ujarnya.

Cara Rizal Ramli

Ekonom senior Dr. Rizal Ramli di banyak kesempatan kerap mengingatkan bahwa Pemerintah harus inovatif dan kreatif dalam menyelamatkan anggaran. Dia menolak Pemerintah terus menjadikan utang sebagai solusi.

“Can we reduce debt by innovative means? Is there other financing options beyond increasing govt debt? Kreatif dong, Innovatif lah,” ungkap Rizal belum lama ini.

Rizal menyampaikan itu saat menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa utang menjadi solusi untuk menutupi kekurangan anggaran.

Saat menjadi Menteri Keuangan pada masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli melakukan terobosan untuk menghindari utang negara menumpuk lebih banyak. Yaitu, dengan cara “gali lubang tutup lubang”.

Misalnya ia menyepakati “Debt for Nature Swap” dengan Jerman. Saat itu, tahun 2000, ratusan juta dolar AS utang Indonesia dihapus dan ditukar dengan konservasi hutan.

Kemudian, tahun 2001, RR juga mengatur “Debt Swap” dengan Kuwait. “Utang mahal ditukar dengan utang bunga rendah. Kuwait saking gembiranya berhadiah gratis flyover Pasopati di Bandung,” ungkapnya.

Tokoh yang pernah dipenjara pada masa Orde Baru ini juga mempunyai terobosan untuk mendapatkan dana membiayai APBN tanpa harus menjual saham perusahaan BUMN selembar pun. Karena berdasarkan anjuran Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia (World Bank) dalam membiayai APBN adalah dengan menjual saham-saham BUMN yang bagus dan menguntungkan.

Rizal menolak anjuran tersebut. Karena menurutnya, jika privatisasi model IMF-Bank Dunia itu dijalankan, sebagaimana dilakukan di Rusia pada masa pemerintahan Boris Yeltsin pada tahun 1991-1999, arahnya berbelok dari privatisasi menjadi piratisasi alias perampokan. Istilah itu diungkapkan oleh Prof. Marshall Goldman dari Harvard University, Amerika Serikat.

Akibatnya raja-raja ekonomi baru bermunculan, yaitu mereka yang mampu dengan cepat menumpuk kekayaannya dengan memborong aset BUMN yang harganya supermurah.

Jika terpaksa melakukan privatisasi, dia memilih dengan menjual saham BUMN ke publik lewat mekanisme pasar modal.  “Saya tidak mau melakukan privatisasi ugal-ugalan seperti itu. Selain itu, yang dilepas ke publik juga bukan BUMN pencetak duit, seperti Telkom dan Indosat, melainkan BUMN yang kinerjanya memble,” ujar mantan Menko Maritim ini. (Tri)

 

Sumber: Harianterbit.

 

 

%d blogger menyukai ini: