Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Politik ‘Gerindra Biasa Difitnah Saracen, Fitnahcen, dan Hoaxcen’

‘Gerindra Biasa Difitnah Saracen, Fitnahcen, dan Hoaxcen’

Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan Partai Gerindra biasa menjadi korban fitnah, termasuk dalam kasus Saracen. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)

Sketsanews.com, Jakarta – Partai Gerindra enggan ambil pusing dengan isu yang mengaitkan partai berlambang kepala burung garuda itu dengan grup penyebar kebencian dan hoax di dunia maya, Saracen.

Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, isu tersebut hanya fitnah untuk menyudutkan partai yang dibentuk Prabowo Subianto itu.

“Gerindra biasa difitnah. Bulan ini kami difitnah begini-begini, entah Saracen, fitnahcen, atau hoaxcen,” ujar Muzani di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (31/8).

Muzani mengatakan, keterkaitan Gerindra dengan terduga dua Dewan Pembina Saracen, purnawirawan Mayjen TNI Ampi Tanudjiwa dan Eggi Sudjana sama sekali tidak benar.

Ia berkata, kedua tokoh itu hanyalah pendukung Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dalam Pilpres tahun 2014. Keduanya membentuk barisan relawan independen bernama Solidaritas Menangkan Prabowo (SMP).

Muzani mengaku baru mengetahui adanya barisan pendukung SMP. Ia juga menegaskan, foto yang memuat dirinya bersama Ampi dan Eggi bukan terkait Saracen atau SMP.

Ia berkata, foto bersama tersebut adalah dokumentasi saat dirinya mengunjungi pendukung Prabowo-Hatta di kawasan Banten tahun 2014.

“Seingat saya, ini pertama kali bertemu beliau (Ampi dan Eggi) dan habis itu tidak pernah bertemu lagi. Ini di Banten, buka puasa dengan pendekar Banten,” ujarnya. Seperti di kutip dari Cnn Indonesia.

Gerindra, kata Muzani tidak terpengaruh akibat fitnah tersebut. Ia berkata, Gerindra hanya fokus untuk melaksanakan visi dan misi partainya.

“Yang penting kami konsisten untuk apa yang kami perjuangkan,” ujar Muzani.

Polisi menangkap tiga orang pengelola grup Saracen di tiga lokasi berbeda dalam rentang waktu 21 Juli hingga 7 Agustus. Ketiganya berinisial JAS (32), MFT (43), dan SRN (32).

Ketiganya dijerat dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, sebelumnya meminta agar polisi mengungkap dalang dan jaringan pengguna Saracen.

Bukan tanpa sebab, Fadli ikut merasa gerah dalam kasus Saracen karena dia dan partainya dikaitkan dengan grup ini akibat sebuah foto viral di media sosial.

“Kami ya tidak pernah mengenal yang namanya Saracen itu dan kita juga tidak pernah meng-approve tindakan-tindakan hoax. Kami adalah korban yang paling banyak fake news hoax dan juga fitnah di media sosial,” kata Fadli.

Senada Wakil Ketua Umum Partai Gerindra lainnya, Arief Poyuono, juga membantah tegas kabar yang menyebut Gerindra berada di balik Saracen.

“Enggak benar itu, enggak benar,” kata Arief.

(Ro)

%d blogger menyukai ini: