Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Internasional, News Idul Adha di Negara Pojok Timur Tengah yang Cuma Ada 1 Masjid

Idul Adha di Negara Pojok Timur Tengah yang Cuma Ada 1 Masjid

Foto: Kubah Blue Mosque. (Danu Damarjati-detikcom)

Sketsanews.com, Yerevan – Beginilah suasana Idul Adha di satu negara pojok Timur Tengah. Pagi hari, tak ada yang berduyun-duyun menenteng sajadah atau mengenakan mukena. Tak ada pula gema takbir membahana.

Ini adalah Yerevan, Ibu Kota Armenia. Saat detikcom melongok ke segala penjuru dari Jalan 19 Sayat Nova Avenue, Jumat (1/9/2017) pukul 07.30 waktu setempat, lalu lintas tampak lengang. Masyarakat baru bersiap memulai aktivitasnya.

Pagi hari di musim panas ini rasa-rasanya cocok untuk orang dari negara tropis. Tak perlu jaket tebal, tak perlu pula khawatir terlalu kepanasan, kecuali bila hari beranjak siang. Beberapa orang berseliweran di trotoar dengan wajah-wajah yang menarik. Hidung mancung seperti orang Timur Tengah, warna kulit cukup terang, beberapa dari mereka bahkan berambut pirang. Ini adalah cerminan Armenia sebagai bangsa di persimpangan Timur Tengah-Eropa. Tetangga mereka ada Iran, Turki, dan Azerbaijan. Di utara, ada Georgia. Armenia tak punya laut alias negara ‘land locked’.

Idul Adha di Blue Mosque, Yerevan, Armenia. Foto: Danu Damarjati-detikcom

Tak berapa lama menikmati suasana sambil mencari kekhasan paras Armenia, saya harus segera berangkat mengikuti rombongan Wakil Ketua DPR Fadli Zon ke Masjid Biru (Blue Mosque). Mereka di Armenia sedang dalam rangka kunjungan muhibah.

Blue Mosque, satu-satunya masjid di negara ini, beralamat di 12 Mashtots Avenue. Yang beraktivitas di sini bukan orang Muslim setempat. Soalnya 92 persen orang Armenia beragama Kristen, bahkan ini adalah negara Kristen pertama di dunia. Lalu siapa masyarakat yang menjalankan aktivitas di Blue Mosque?

Idul Adha di Blue Mosque, Yerevan, Armenia. Foto: Danu Damarjati-detikcom

Adalah komunitas Muslim Syiah dari Iran yang ada di Masjid ini. Iran adalah negara tetangga Armenia yang punya ikatan sejarah sejak berabad-abad lalu. Orang Iran berada di sini dalam rangka bekerja atau juga sebagai warga Armenia keturunan Iran.

Di gerbang, keramik warna biru mendominasi, melambangkan langit. Tulisan Arab tertera di gerbang ini. Arsitektur seperti ini memang khas Persia, seperti Blue Mosque di Tabriz di Iran.

Plakat dalam huruf latin dan huruf Arab berbunyi “Dengan Nama Tuhan, Masjid Pusat (Biru) Yerevan”. Ini adalah masjid tua, dibangun tahun 1765 oleh Gubernur Yerevan bernama Hussein Ali Khan. Pada masa itu, Yerevan memang berada di bawah pemerintahan Iran.

Selepas gerbang, ada taman dilengkapi dengan kolam di tengahnya. Bangunan di pinggirnya adalah museum yang menyimpan barang-barang bersejarah termasuk keramik dan perkakas logam, semuanya khas Persia. Ada pula madrasah dan perpustakaan yang beroperasi di sini. Di belakang, ada minaret setinggi 24 meter. Kubah masjid ini setinggi 20 meter.

Suasana di dalam masjid masih belum terlalu ramai. Tak berapa lama, orang-orang mulai datang, awalnya sekitar 30 orang, kemudian beranjak banyak menjadi sekitar 60 orang. Ini adalah area khusus pria. Jemaah perempuan menunaikan salat di ruangan yang lain.

Saya mengamat-amati benda di atas karpet yang dilapisi kain hijau. Ada benda kotak atau bundar, pipih, kecil warna kuning yang terbuat dari tanah liat. Beberapa ada yang polos, namun banyak yang bertuliskan huruf Arab dan ada pula yang bergambar masjid. Benda ini juga disediakan di dinding masjid, mudah ditemukan oleh jemaah. Saya bertanya kepada seorang jemaah, apa nama benda ini.

“Mohr, terbuat dari tanah di mana saja, tidak harus dari daerah tertentu,” jawab seorang pemuda Iran berambut cokelat, menggunakan Bahasa Inggris sederhana. Ini digunakan untuk sujud dalam cara salat Syiah.

Salat dimulai. Sebagaimana salat Ied cara Sunni seperti di Indonesia, takbir tujuh kali dan lima kali pada masing-masing rakaat dilaksanakan juga. Namun Umat Syiah berlanjut menengadahkan tangan setelah takbir. Gerakan menengadahkan tangan ini mirip kunut. Jemaah berdoa dengan bacaan tertentu.

Imam Blue Mosque, Syekh Muhammad Ali Saj’an. Foto: Danu Damarjati-detikcom

Di bagian depan, ada imam yang memimpin salat. Namun ada satu orang lagi yang ada di mimbar yang dilengkapi mikropon, tidak melaksanakan salat melainkan memandu bacaan untuk para jemaah. Barulah setelah salat berjamaah selesai, pria ini salat sendiri.

Usai khotbah salat, mereka bersalam-salaman. Sementara itu di bagian luar, saya menjumpai perempuan yang mengantarkan seloyang kue manis. Ini adalah suguhan untuk orang-orang di dalam usai salat. Di sebelah pintu, sejumlah pemuda mendorong gerobak berisi sekuali besar gulai daging. Dua orang lain lagi sedang mewadahi roti-roti. Ada pula yang menyiapkan teh.

Saya masuk ke masjid. Hidangan itu disiapkan di atas lapisan karpet plastik panjang. Sepiring gulai daging, roti, secangkir teh, dan gula padat berbentuk dadu kecil-kecil bisa diambil sesuai selera untuk melengkapi teh. Rasa gulai daging ini tak setegas rasa gulai Indonesia, karena gulai ini cenderung lebih tawar. Ada merica dan garam yang bisa menambah rasa.

Apapun rasa gulai ini, yang jelas inilah satu-satunya kebersamaan dalam momen Idul Adha di Armenia. Tak ada lagi masjid yang resmi beroperasi selain di sini. Salah seorang jemaah bernama Azim (48) berbicara kepada saya saat menikmati gulai.

“Di sini sebenarnya lebih ramai saat Idul Fitri. Kalau Idul Adha, banyak orang Iran pulang kampung. Soalnya di Iran, anak-anak sekolah libur 20 hari, jadi orang-orang asal Iran memanfaatkan Idul Adha untuk berkumpul bersama keluarga di sana,” kata Azim yang merupakan pegawai satu bank asal Iran yang beropeasi di Armenia.

Di Armenia sendiri, tak ada hari libur untuk Idul Adha dan Idul Fitri. “Saya masuk kerja pukul 09.30 sebentar lagi. Saya pergi dulu,” kata Azim, pamit.

Sebelum meninggalkan Blue Mosque, dia sempat bercerita bahwa sebenarnya yang datang ke sini bukan hanya syiah Iran saja, tetapi ada juga sunni dari Turki dan Arab. Bebas saja untuk beribadah di sini.

Imam Blue Mosque, Syekh Muhammad Ali Saj’an, menjelaskan bahwa masjid ini memang dibangun orang Iran zaman dulu. Namun ini bukan hanya untuk beribadah orang Iran, melainkan untuk semua orang Islam juga. Bahkan orang yang berlainan agama juga ke sini untuk mencari tahu soal sejarah atau sekadar berwisata.

“Masjid ini untuk semua Muslim, tidak hanya untuk orang Iran. Ini untuk Anda, untuk saya, bahkan untuk semua orang dari berbagai agama. Sebab orang Kristen juga ke sini. Orang Iran membangun ini bukan hanya untuk orang Iran,” tutur Syekh Ali kepada detikcom.

Masjid ini adalah satu yang tersisa dari sembilan masjid di Armenia saat Abad 19. Delapan masjid lainnya dihancurkan oleh Uni Soviet usai 1917. Uni Soviet menghentikan fungsi tempat ini sebagai masjid pada 1931. Masjid di kompleks seluas 7 ribu meter persegi ini kemudian dijadikan sebagai museum. Memasuki dekade ’90-an, masjid ini direstorasi lewat pembiayaan Iran. Sejak itu, otoritas Yerevan memberikan hak kepemilikan jangka panjang masjid ini kepada Iran.

Armenia memang acapkali menjadi medan perebutan pengaruh negara-negara tetangganya, termasuk Turki, Iran, dan Rusia. Namun sejarah Armenia lekat sekali dengan sejarah ke-Kristen-an, bahkan menjadi negara Kristen pertama di dunia. Mayoritas penduduk di sini menganut Kristen Gereja Apostolik Armenia.

Sekarang kebebasan beragama sudah dijamin di sini. Penduduk Armenia ada 3.022.866 jiwa pada Januari 2016. Sebanyak 92,6 persen penduduk adalah pengikut Gereja Apostolik Armenia. Hanya 0,1 persen saja yang beragama Islam. Jumlah umat Muslim lebih sedikit ketimbang umat Yazidi yang berjumlah 0,8 persen dari warga Armenia.

(Ro)

%d blogger menyukai ini: