Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Ini adalah Pelecehan Agama yang Dilakukan Kapolres karena Lantunan Takbir Identik dengan Teroris

Ini adalah Pelecehan Agama yang Dilakukan Kapolres karena Lantunan Takbir Identik dengan Teroris

Kapolres Dahrmasraya, Sumatera Barat, AKBP Roedy Yoelianto

Sketsanews.com, Indonesia – Beberapa hari yang lalu, musibah menimpa Markas Polres Dhamasraya Sumatera Barat diserang dua orang tidak dikenal. Seluruh bangunan Mapolres ludes terbakar.

Dalam kasus tersebut telah ditetapkan bahwa pelaku kebakaran adalah dua orang yang akhirnya meninggal karena terkena timah panas oleh petugas kepolisian karena dianggap melakukan perlawanan.

Namun yang sangat mengagetkan adalah pernyataan Kapolres Dahrmasraya, Sumatera Barat, AKBP Roedy Yoelianto dalam acara wawancara live. Dia mengatakan bahwa pelaku kebakaran Mapolres adalah seorang teroris dikarenakan mereka mengumandangkan takbir.

Pernyataan ini merupakan bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap kalimat yang agung dalam agama Islam. Kapolres mengatakan hal tersebut dengan sadar tanpa adanya pemaksaan dan dia pun dalam keadaan sadar karena tidak dalam keadaan mabok. Pertanyaan adalah kenapa Kapolres ini tetap dibiarkan berkeliaran dan bahkan dibela dan dilindungi.

Dalam masalah ini, sebenarnya Kapolres Dahrmasraya, Sumatera Barat, AKBP Roedy Yoelianto telah melakukan dua kesalahan besar. Pertama, dengan ucapannya bahwa pelaku pembakaran Mapolres adalah teroris karena mengumandangkan takbir, maka secara tidak langsung dia telah menuduh semua orang Islam adalah teroris. Selain itu, dengan ucapannya itu pula, dia telah mencap semua pejuang kemerdekaan Indonesia adalah teroris karena mereka menggemakan takbir untuk mengobarkan semangat perjuangannya. Apakah ini akan tetap dibiarkan terus.

Kesalahannya yang kedua adalah dia telah gagal paham tentang arti kata teroris. Muladi memberi catatan atas definisi teroris, bahwa hakikat perbuatan Terorisme mengandung perbuatan kekerasan atau ancaman kekerasan yang berkarakter politik. Bentuk perbuatan bisa berupa perompakan, pembajakan maupun penyanderaan. Pelaku dapat merupakan individu, kelompok, atau negara.

Jadi kalau kita merujuk kepada pendapat Muladi bahwa yang dimaksud dengan teror atau tindak pidana terorisme adalah aksi kekerasan yang dilandasi politik baik berupa perampokan maupun Penyanderaan. Maka yang berhak menyandang teroris adalah OPM, karena mereka telah melakukan kontak senjata dan ingin melepaskan diri dari NKRI. Pertanyaannya kenapa mereka tidak dijuluki teroris, maka jawabannya satu yaitu mereka tidak memekikan takbir meskipun mereka berjenggot, jidatnya hitam dan celana cingkrang.

Kesimpulannya adalah polisi selama telah melakukan kesalahan yang besar dikarenakan gagal paham tentang arti kata teroris. Sebagai korbannya adalah orang-orang yang terbaik dari umat Islam ini yang ditangkap dan ditembak atas tuduhan teroris.

(jp)

%d blogger menyukai ini: