Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Ini Kronologi Penyerangan Mapolsek Pontianak Timur

Ini Kronologi Penyerangan Mapolsek Pontianak Timur

Sketsanews.com – Kemarin sore, beberapa anggota Reskrim Polsek Pontianak Timur, Kalimantan Barat melakukan penangkapan terhadap Dede Syailendra atas dasar LP Curanmor No Lp 1144 / IV / 2016, dengan korban atasnama Andi Husin, purnawiran Polri.

Ini Kronologi Penyerangan Mapolsek Pontianak Timur

Usai penangkapan itu, dilakukan pengembangan dan penangkapan kembali terhadap Dayat (30), warga Tanjung Pulau, Kampung Beting, Pontianak Timur di kediamannya.

Saat penggeledahan, ditemukan senpi rakitan berikut sembilan amunisinya. Ditemukan juga kerangka sepeda motor berserta dengan onderdilnya dalam jumlah yang banyak.

Dayat kemudian dibawa menggunakan sepeda motor ke Mapolsek dengan diapit dua orang anggota yaitu Brigadir Fajar Fitriyanto, anggota Polsek Pontianak Timur dan Bripka Hery Sutiana anggota Polsek Pontianak Selatan.

Dalam perjalanan, Dayat melawan. Dia berontak dan hendak melarikan diri. Kemudian anggota memberikan tembakan peringatan, namun tetap tak dindahkan Dayat. Sehingga salah satu anggota menembak dan mengenai paha sebelah kanan Dayat.

“Yang bersangkutan ada ditembak di kakinya, satu kali,” kata Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Musyafak, Rabu (31/08/2016).

Setelah ditembak, Dayat tenjun ke sungai di sekitar lokasi. Kemudian Dayat dievakuasi dan dibawa ke RS Anton Soedjarwo Polda Kalbar (dokkes) untuk dilakukan tindakan medis. Namun nyawanya tak tertolong.

“Mungkin karena berenangnya kurang lihai dan pernafasannya kena air, makanya dia meninggal,” ujar Kapolda.

Setelah Dayat dinyatakan tewas, pihak keluarga protes. Warga sekitar pun mendukung aksi protes itu dengan mengumpulkan massa dan memadati ruas-ruas jalan di kawasan Mapolsek. Sementara pihak keluarga membawa jenazah Dayat ke Mapolsek.

Massa terprovokasi dengan isu yang beredar di jejaring sosial. Pihak kepolisian menegaskan bahwa informasi yang beredar menyebutkan Dayat ditembak mengenai dada adalah tidak benar.

Meski demikian, massa terus berdatangan. Diperkirakan lebih dari 500 orang. Sebagian dari mereka membawa kayu dan senjata tajam dan mulai anarkis. Tak sedikit dari mereka melempar batu ke arah blokade pengamanan dari kepolisian maupun TNI. Mereka juga membakar ban bekas di tengah-tengah jalan dan dikabarkan akan membakar Mapolsek.

Aksi protes terus berlangsung. Sedikit demi sedikit mereka maju menuju Mapolsek. Sebagian bangunan Mapolsek rusak akibat lemparan batu massa. Pengamanan pun terus diperketat dengan melibatkan ratusan anggota Polri dari berbagai satuan dan TNI. Termasuk menerjunkan satu unit mobil water canon. Setiap perempatan jalan menuju lokasi kejadian terpaksa ditutup dan dialihkan untuk menghindari kemacetan panjang.

Sekira pukul 22.00 WIB, pihak keluarga melakukan pertemuan tertutup dengan Kapolda Kalbar. Tak lama berselang, kesepakatan damai terjadi. Jenasah di mobil ambulan swasta yang terparkir di halaman Mapolsek pun dibawa ke rumah duka.

Jenazah diiringi puluhan anggota kepolisian yang diikuti massa. Akhirnya, hingga Rabu dinihari, massa perlahan membubarkan diri. Situasi aman dan terkendali. Namun hingga saat ini, kepolisian dan TNI masih terus berjaga untuk mengantisipasi serangan susulan. (Wis/Okezone)

%d blogger menyukai ini: