Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Jejak Surabaya lewat Media Massa Berupa Majalah ’’Warisan’’ sang Pahlawan

Jejak Surabaya lewat Media Massa Berupa Majalah ’’Warisan’’ sang Pahlawan

Sketsanews.com Ada kabar apa dari Surabaya? Banyak perubahan yang terjadi dalam industri media massa. Melalui Surabaya Heritage Track (SHT), kita diajak melihat sedikit perjalanan pers Kota Pahlawan.

DARI mana Anda mendapat kabar atau berita setiap hari? Melalui surat kabar, televisi, radio, atau online? Beragam cara dengan mudah dipilih. Satu berita dapat menyebar ke segala penjuru daerah dalam hitungan detik.

Kemudahan tersebut tentu melalui proses. Media massa berubah dari zaman ke zaman. Kebutuhan dan kondisi yang berbeda turut memengaruhi perkembangan media massa. Begitu pula di Surabaya.

LEGENDARIS: Bagian depan kantor redaksi yang bertulisan aksara Jawa. Peserta tur pun mengabadikannya dengan kamera.

LEGENDARIS: Bagian depan kantor redaksi yang bertulisan aksara Jawa. Peserta tur pun mengabadikannya dengan kamera.

Jalan-jalan bersama bus Surabaya Heritage Track (SHT) pada Selasa (14/2) mengunjungi dua lokasi redaksi surat kabar. Yakni, Radar Surabaya di Kembang Jepun dan Panjebar Semangat di Bubutan. ’’Bulan ini kan spesial, merayakan bulan kasih sayang sekaligus pers nasional,” ujar Bagus, tour guide SHT.

Tujuan pertama adalah kantor Radar Surabaya (Jawa Pos Group) di Jalan Kembang Jepun. Bangunan kantor tersebut termasuk cagar budaya Surabaya. Menjadi salah satu saksi sejarah perkembangan media massa di metropolis.

Sebelum Radar Surabaya, koran ini berkantor di sana. Jawa Pos didirikan The Chung Shen pada 1 Juli 1949. Hingga akhir 1970-an, penghasilan koran itu menurun. The Chung Shen lantas menjual Jawa Pos kepada PT Grafiti Pers pada 1982. Eric Samola, president director PT Grafiti Pers, lantas menunjuk Dahlan Iskan untuk memimpin Jawa Pos. Radar Surabaya berdiri pada 24 Februari 2001. Dulu, koran tersebut bernama Suara Indonesia.

’’Di sini masih ada foto Dahlan Iskan dan spot-spot bangunan zaman dulu yang dipertahankan,” terang Bagus. Para tracker diajak berkeliling bangunan dua lantai itu.

Dari sana, perjalanan berlanjut ke kantor majalah Panjebar Semangat di Jalan Bubutan. Bangunan redaksi majalah tersebut menjadi satu rangkaian dengan SMK Bubutan. Ada dua tempat yang dikunjungi kali ini. Yakni, kantor redaksi dan tempat percetakan majalah.

Panjebar Semangat termasuk majalah legendaris di Surabaya. Diterbitkan pada 1933 oleh dr Soetomo, dokter sekaligus pendiri organisasi Budi Utomo. Dalam editorial berjudul Toedjoean lan Kekarepan (Tujuan dan Harapan), dr Soetomo menjelaskan bahwa bahasa Indonesia masih jarang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Hal itu memicu Panjebar Semangat menggunakan bahasa Jawa ngoko. Dengan begitu, majalah tersebut dapat mengedukasi rakyat biasa dan menyebarkan semangat nasionalisme. Tracker melihat ciri khas itu saat memasuki kantor majalah tersebut.

Di pintu masuk, terdapat tulisan aksara Jawa yang berbunyi sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti. Artinya, sifat angkara murka, keras hati, dan kebencian akan luluh dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar. ’’Ini termasuk media tertua yang menggunakan bahasa Jawa,” kata Bagus. Hingga kini, Panjebar Semangat tetap berproduksi. Majalah yang terbit mingguan itu menjadi salah satu warisan sang pahlawan, dr Soetomo. (Ags)

%d blogger menyukai ini: