Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, Headlines, News Kajian Jepang, Nilai Proyek Kereta Jakarta-Surabaya Rp39 Triliun

Kajian Jepang, Nilai Proyek Kereta Jakarta-Surabaya Rp39 Triliun

Sketsanews.com, Jakarta – Pemerintah berencana akan membangun proyek kereta Jakarta-Surabaya. Terdapat beberapa opsi pada proyek ini, di antaranya adalah kereta cepat dan kereta semi cepat.

Rencananya, proyek ini akan dibangun berkerjasama dengan Jepang. Hanya saja, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Jepang ternyata proyek ini lebih mahal dibandingkan kajian yang dilakukan oleh Indonesia.

Berdasarkan kajian dari PT Kereta Api Indonesia bersama Direktorat Jenderal Perkereta Apian Kementerian Perhubungan dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dana yang dibutuhkan pada proyek ini hanya mencapai sekira Rp23 triliun. Namun, dalam kajian Jepang nilainya mencapai sekira Rp39 triliun.

“Kasarnya iya (lebih mahal), kami mengusulkan angkanya lebih murah karena menggunakan track yang ada, jadi kita pakai track yang sudah ada, cuma keretanya beli dan menghilangkan perlintasan,” tutur Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (6/2/2017).

Pada proyek ini, pemerintah juga berencana akan menghilangkan perlintasan sebidang. Hal ini perlu dihilangkan mengingat tingginya kecepatan kereta yang akan melewati rel dengan rute Jakarta-Surabaya.

“Fly over atau underpass itu dipilih satu. Tapi tidak boleh ada pertemuan lagi, karena kecepatannya tinggi. Lagi distudi, dihitung ulang, karena sekarang kan masih kasar, jadi didetilkan berapa lintasan yang betul mana yang harus dihilangkan. Totalnya 980-an tapi itukan ada perlintasan liar,” jelasnya.

Rencananya, hasil kajian ini nantinya akan digabungkan dengan hasil penelitian Jepang. Diharapkan, hal ini dapat menjadi salah satu kajian yang dapat menekan biaya proyek.

Ditemui pada kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan Budi Karya belum mengetahui mengenai perbedaan hasil kajian ini. Dirinya pun akan melakukan koordinasi dengan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut mengenai hasil kajian ini.

“Saya belum kordinasi dengan Pak Luhut, saya koordinasi dulu ya,” terang Budi.
(Ro).

 

Sumber. Okezone

%d blogger menyukai ini: