Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Kasus Rohingya di Mata Penguasa Indonesia

Kasus Rohingya di Mata Penguasa Indonesia

Sketsanews.com, Jakarta – Konflik Rohingya telah menjadi masalah internasional. Sebagaimana kata Ketua BKSAP DPR RI Nurhayati Ali Assegaf, menegaskan krisis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine, Myanmar sudah menjadi masalah global.

Hal ini dikarenakan sekitar 380.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak kekerasan marak akhir bulan lalu dan semua desa mereka dilaporkan dibakar habis.

RIBUAN pengungsi Rohingya di Bangladesh terancam kelaparan karena sedikitnya bantuan internasional. Banyak pengungsi juga mengalami trauma mengalami kekerasan fisik dan psikis dari tentara Myanmar.

Belakangan pemerintah Myanmar mengklaim bukan pihaknya yang telah melakukan kekerasan fisik baik berupa pembunuhan, pemerkosaan atau pembakaran terhadap kaum muslimin Rohingya, namun justru menuding kekerasan tersebut dipicu pertama kali oleh serangan gerilyawan Rohingya — Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Atas kerusuhan tersebut, puluhan ribu warga Muslim Rohingya menyelamatkan diri dan meninggalkan wilayah konflik itu. Kebanyakan dari mereka memilih Bangladesh sebagai tempat pelarian.

Para Muslim Rohingya yang selamat berjalan selama berhari-hari untuk sekadar mencapai perbatasan. Tragisnya, setelah mencapai wilayah perbatasan, Bangladesh menolak mereka untuk masuk sebagai tempat pelarian.

Menurut salah seorang warga Rohingya yang melarikan diri, Sham Shu Hoque (34 tahun), dia pergi meninggalkan wilayah perbatasan bersama 17 anggota keluarganya. Dia pergi meninggalkan desanya di Ngan Chaung, Jumat lalu setelah diserang pasukan keamanan Myanmar.

Kata Hoque, saat mengusir Muslim Rohingya, tentara menggunakan granat berpeluncur roket dan helikopter untuk membombardir rumah-rumah yang ditempati penduduk Rohingya.

“Saya melihat lima orang terbunuh di depan rumah. Keluarga saya selamat dari serangan tersebut, namun tentara yang melihat kami meminta untuk segera pergi meninggalkan wilayah itu,” kata dia seperti dilansir ABCnews, Sabtu 2 September 2017.

Karena peristiwa ini semua negara di dunia mengecam atas kekerasan yang dilakukan oleh tentara Myanmar terhadap kaum muslimin Rohingya di Rakhine.

Di antara yang mengecam tindakan Myanmar adalah Amerika Serikat. Pemerintah Washington telah mewanti-wanti Myanmar untuk tidak melakukan serangan balasan ke permukiman Rohingya seperti yang sudah-sudah. Yang terjadi justru sebaliknya, desa-desa Rohingya dibakar dan mereka ditembaki oleh tentara.

Selain itu juga, sebagai ungkapan rasa simpati dan empati terhadap apa yang menimpa saudara di Rohingya, banyak ormas yang menggelar berbagai aksi dalam rangka menggalang dana untuk dikirim ke Rohingya.

Sebagaimana aksi 6 September di depan kantor Kedubes Myanmar Jakarta, dimana para peserta aksi menuntut:

  1. Usir kedutaan Myanmar dari Indonesia
  2. Putuskan hubungan diplomasi dengan Myanmar
  3. Perjelas sikap pemerintah tentang tragedi kemanusiaan Rohingnya.

Demikian halnya aksi yang dilakukan di Borobudur. Namun sangat disayangkan terhadap sikap pemerintah Indonesia yang sengaja menghalang-halangi jalannya aksi solidaritas Rohingya. Sebagai buktinya mereka memasang alat deteksi dan memeriksa kepada para peserta aksi.

Bukti yang lain adalah bagaimana para pemegang kekuasaan negeri ini memandang konflik Rohingya.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar angkat bicara terkait peristiwa kekerasan dan pembunuhan yang dialami warga Rohingya di Myanmar satu tahun belakangan ini.

Muhaimin menegaskan bahwa peristiwa kekerasan yang terjadi tersebut tidak ada kaitannya dengan konflik agama antara umat Islam dan Budha.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan isu Rohingya telah dimanfaatkan untuk membakar sentimen masyarakat Islam di Indonesia untuk antipati kepada pemerintah.

“Isu rohingya ini lebih besar dikaitkan dengan pemerintahan pak Jokowi bukan soal isu kemanusiaan,” ucap Tito di Mabes Polri, Selasa, 5 September 2017.

Tito mengatakan kekerasan yang dialami etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar tidak ada kaitannya dengan agama tertentu.

Tito mengatakan Walubi dan kelompok pengurus Buddha sudah mengeluarkan sikap keras dan mengecam tindakan Pemerintah Myanmar terhadap Rohingya.

Berdasarkan data diatas menunjukkan adanya rasa ketakutan dan kekhawatiran para pemimpin negeri ini akan terjadi aksi solidaritas yang lebih besar.

Padahal sudah jelas bahwa konflik Rohingya merupakan bagian dari konflik agama. Pembunuhan terhadap 10 tokoh agama yang tidak diangkat sebagai pemicu konflik tapi justru yang dijadikan pemicu adalah kasus terrbunuhnya gadis Myanmar.

(Jp)

 

%d blogger menyukai ini: