Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Kehilangan Ibu Jari dan Telunjuk, Tina Gugat RS Bersalin di Bandung

Kehilangan Ibu Jari dan Telunjuk, Tina Gugat RS Bersalin di Bandung

Sketsanews.com,Bandung – Tina Retna (37) diduga menjadi korban malpraktik salah satu rumah sakit berinisal RSBM di Kota Bandung. Dua jarinya yakni telunjuk dan ibu jari terpaksa harus diamputasi.

Atas kejadian tersebut dia melayangkan gugatan kepada RSBM melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bandung didampingi Himpunan Lembaga Konsumen Indonesia (HLKI), Jalan Mastraman, Kota Bandung, Selasa (4/4/2017).

Tina bekisah, dugaan malpraktik ini berawal dari operasi kuret yang dijalaninya 2015 lalu. Saat itu Tina mengalami keguguran sehingga harus menjalani operasi kuret. Saat operasi akan dimulai Tina diberi empat kali suntikan bius.

Alasannya kata dia, suntikan bius pertama hingga ketiga tidak berdampak apapun kepada Tina. Setelah suntikan keempat Tina baru mulai tidak sadarkan diri. Operasi dilakukan dan berjalan lancar.
Namun saat mulai sadar, Tina merasa sakit di bagian tangan sebelah kanan. Khususnya di bagian sekitar pergelangan tangan bekas lokasi suntikan yang keempat. “Lama kelamaan makin sakit,” ujarnya.

Tina menanyakan penyebab sakitnya itu kepada salah satu perawat di rumah sakit. Berdasarkan keterangan yang dia dapat dari salah satu perawat, sakitnya itu hanya bekas suntikan. Tanganya lalu dikompres dengan boorwater. “Padahal obat tersebut sudah dilarang sejak 1999 lalu. Saya juga baru tahu,” ucapnya.

Kemudian dia melakukan kontrol untuk memeriksakan rasa sakitnya itu ke RSBM. Oleh RSBM dirujuk ke Rumah Sakit Immanuel. “Sama dokter di Immanuel diperiksa dan kaget kenapa (tangannya) dingin banget,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, tangan kanannya semakin parah. Hingga pada 7 Februari 2017 jari telunjuk dan ibu jari tangan sebelah kanan diamputasi. “Karena kaya udah kebakar dan jaringannya sudah mati jadi harus diamputasi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketum HLKI Firman Turmantara mengatakan sudah mencoba membantu Tina menyelesaikan masalah ini. Pada 31 Maret lalu dilakukan mediasi yang dihadiri pihak rumah sakit dan Tina. Namun tidak menemui titik temu.

Kemudian 1 April pihaknya juga mencoba memediasi agar masalahnya segera selesai. Namun pihak rumah sakit tidak datang. “Akhirnya kita lakukan gugatan ke BPSK sekarang ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, dari barang bukti dan keterangan korban masalah ini bisa dipidanakan. Namun pihaknya ingin menyelesaikan dengan baik-baik. “Kalau di BPSK juga tidak ada kejelasan baru kita akan lakukan langkah hukum lainnya,” ucap dia.Dikutip dari detik.com
(Ags)

%d blogger menyukai ini: