Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, Internasional, News Kekejaman Tentara Myanmar, Tembaki Anak-anak Rohingya

Kekejaman Tentara Myanmar, Tembaki Anak-anak Rohingya

Etnis Rohingya menjadi korban kekejaman tentara Myanmar.

Sketsanews.com, Rakhine – Tentara Myanmar dituduh melakukan pembunuhan di luar hukum di wilayah Rakhine. Penduduk dan pegiat HAM mengatakan tentara Myanmar menembaki warga tanpa pandang bulu. Pria, wanita, bahkan anak-anak menjadi sasaran kebrutalan mereka.

Pihak berwenang di Myanmar mengatakan hampir 100 orang telah terbunuh sejak Jumat lalu, ketika orang-orang bersenjata yang diketahui berasal dari Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), meluncurkan serangan subuh di pos-pos polisi.

Myanmar telah mengumumkan perang melawan terorisme dengan mengepung kota Maungdaw, Buthidaung dan Rathedaung yang menampung sekitar 800 ribu orang, dan memberlakukan jam malam mulai dari pukul 6 sore sampai 6 pagi waktu setempat.Namun, salah satu advokat untuk Rohingya memperkirakan korban tewas jauh lebih tinggi. Dia mengatakan, setidaknya 800 orang Muslim Rohingya, termasuk di antaranya puluhan perempuan dan anak-anak, telah terbunuh dalam kekerasan tersebut.

Aziz Khan, seorang penduduk Maungdaw mengatakan, tentara menyerang desanya Jumat pagi dan mulai menembaki tanpa pandang bulu ke mobil dan rumah-rumah.

“Pasukan pemerintah dan polisi penjaga perbatasan menewaskan 11 orang di desa saya. Ketika mereka tiba, mereka mulai menembaki segala sesuatu yang bergerak. Beberapa tentara kemudian melakukan serangan pembakaran,” kata Khan.

“Perempuan dan anak-anak juga termasuk di antara korban tewas. Bahkan bayi pun tidak terhindar,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Senin 28 Agustus 2017, dan dikutip dari Viva Selasa 29 Agustus 2017

Negara bagian Rakhine di Myanmar adalah rumah bagi sekitar 1.1 juta Rohingya, yang hidup sebagian besar dalam kemiskinan dan menghadapi diskriminasi yang meluas oleh mayoritas umat Buddha. Kaum minoritas Rohingya kerap dicerca sebagai migran ilegal dari Bangladesh, meski telah tinggal di Rakhine selama beberapa generasi.

(Ro)

%d blogger menyukai ini: