Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Peristiwa Kembar, 1 Hati, 2 Kaki, 2 Tangan, 1 Anus, Kompak Mau jadi Dokter

Kembar, 1 Hati, 2 Kaki, 2 Tangan, 1 Anus, Kompak Mau jadi Dokter

Sketsanews.com, Garut – Ai Putri Dwi Ningsih dan Ai Putra Anugrah hanya bisa bersandar, tak bisa berjalan. Mereka dilahirkan dengan kondisi satu hati, dua kaki, dua tangan, dan satu anus pada 29 Oktober 2013.

Dua tubuh yang berdempet pada bagian perutnya itu, hanya bertumpu kepada orangtuanya yang kurang mampu serta kelurganya yang lain. Ketika ditemui Jabar Ekspres di kediamannya di Kampung Padasari RW 07/RT 03, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat, keduanya ramah menyapa siapa pun yang datang. Ai Putri Dwi Ningsih memakai kerudung abu-abu, Ai Putra Anugrah memakai kerudung hitam. Mereka menggunakan satu celana tidur.

Kedua balita kembar siam ini hanya diasuh oleh ibu dan keluarganya. Itu pun seadanya. Penghasilan ayahnya yang bekerja di Bintan, tak seberapa. Bahkan, di tempat ayahnya bekerja, keduanya ini sempat mendapat perhatian pemerintah. Meski kini bantuan tak lagi mengucur.

Sambil malu-malu, Ai Putra Anugrah pun tak malu mengungkapkan kalau dia sudah bisa hafal beberapa doa. ”Sudah hafal doa makan, tidur, sama surat Al-Ikhlas,” kata Ai Putri sambil tersipu malu. Seperti dilansir Jpnn.

Mereka pun pamer hafalan. Beberapa keluarga yang ada di rumah kemudian tepuk tangan ketika mereka selesai membacakan hafalan mereka. Ketika ditanya soal cita-cita mereka, mereka berdua kompak ingin jadi dokter.

Mereka berdua mengaku, ingin jadi anak pintar. Makanya, mereka senang membaca. Tidak hanya membaca buku, mereka juga diajari membaca alquran. “Keinginan mereka untuk belajar memang cukup besar. Selama ini yang ngajarin mereka baru kami dan saudara-saudara saja,” kata ayahnya Iwan Kurniawan.

Iwan mengaku, tetap berupaya mengajari apa saja yang dia bisa ajarkan kepada anak kedua dan ketiganya itu. Sebab, fisik mereka tidak seperti kakaknya Rizky Ramdani yang saat ini duduk di kelas tiga sekolah dasar. ”Saya juga selalu membawa keduanya untuk berinteraksi dengan tetangga. Saya mendorong mereka untuk tidak minder,” ucap Iwan.

Iwan mengungkapkan, meski dalam satu tubuh, keduanya memiliki sifat yang berbeda. Ai Putri Anugrah cenderung lebih manja. Sedangkan, Ai Putri Dwi Ningsih cenderung lebih tegar. ”Dia malah yang kerap menenangkan Putra ketika sedang rewel,” ucap Iwan.

Sementara itu, pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung telah membentuk tim khusus penanganan. Ketua Tim Penanganan Kembar Siam RSHS Prof Dr H Sjarif Hidajat Sp A (K) mengatakan, kasus Kiam Conjoined Twin Abdominophygophagusasal kembar siam asal Kampung Padasari itu masih dilakukan pemeriksaan dan perawatan di ruang Kemuning lantai 2.

Setelah menjalani pemeriksaan mendalam, kata pria yang akrab disapa Dadang tersebut, ada beberapa organ yang berdempet. Antara lain, hati dan terdapat beberapa tulang yang tidak pada posisinya. Sehingga untuk sementara ini belum memungkinkan untuk dilakukan pemisahan.

Sementara itu, berdasarkan indikasi medis, terdapat satu kaki sering dikeluhkan sakit oleh pasien dan mengganggu mobilitas pasien. ”Untuk jangka pendek tim pemisahan bayi kembar siam RSHS akan melakukan operasi pengangkatan satu kaki tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup keduanya,” kata Dadang.

Dia menegaskan, hasil pemeriksaan medis, diketahui salah satu pasien tersebut mengalami kelainan jantung. Sedangkan satu lainnya dalam kondisi normal. Namun demikian, masalah pada jantung tersebut diprediksi bisa teratasi.

Namun, yang jadi masalah adalah banyak organ yang hanya ada satu tubuh seperti saluran ginjal, pembuluh darah dan beberapa tulang yang menyatu, kedua bayi tidak dapat dipisahkan dalam waktu singkat. ”Saat ini kami akan melakukan operasi sederhana pada tungkai kakinya (tidak tumbuh). Kurang lebih tiga sentimeter,” ungkapnya.

Dadang mengungkapkan, saat ini kedua anak tersebut merasa terganggu atas keberadaan tungkai kaki tersebut. Akibatnya putri ke dua dan tiga dari Iwan Kurniawan dan Yani sulit bergerak. ”Kami tentu sangat berhati-hati. Sebab, harapan utama untuk hidup normal dan bisa terpisahkan,” tuturnya sambil menambahkan, berat stabil sejak dirawat mulai 25 Agustus, berat badan keduanya mencapai 18 kilogram.

Rencana jangka panjang, ketika rangkaian operasi itu berhasil, tanggung jawab medis juga mendorong rehabilitasi psikologis pasien. Sebab, si anak pasti berkeinginan untuk beraktivitias bebas tanpa rasa sakit. ”Merasa sangat interest dengan banyak hal. Berkomunikasi dengan tim medis dengan sangat baik. Mereka juga bilang ingin bersekolah,” ucap Dadang. (Sh)

%d blogger menyukai ini: