Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Opini Kemerdekaan Indonesia adalah Kemerdekaan yang Terbelenggu

Kemerdekaan Indonesia adalah Kemerdekaan yang Terbelenggu

Sketsanews.com, Jakarta – Genap sudah usia bangsa Indonesia yang ke-72. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa negara ini telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh rakyat Indonesia melalui tokoh proklamator bung Karno dan Mohammad Hatta.

Dalam waktu yang begitu lama, dengan bergantinya beberapa pemimpin dan berubahnya sistem yang mengatur bangsa ini sehingga menjadikan negara Indonesia bangsa yang makmur dengan banyaknya kekayaan alam di seluruh wilayah Indonesia.

Karena kekayaan alam Indonesia ini, kita masih ingat dengan lagu Koes Plus yang berjudul “Kolam Susu”. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Itu adalah bagian dari lirik lagu tersebut. Karena potensi sumber daya alam Indonesia, sehingga Indonesia diakui di dunia. Berikut ini buktinya:

1. Penghasil Emas Terbanyak Ke-9 di Dunia.

Data ini dikeluarkan oleh US Geological Survey (USGS) pada Januari 2015. Tiap tahunnya, Indonesia mampu memproduksi sebanyak 10 ton emas. Tambang emas Indonesia yang paling besar adalah Grashberg yang terletak di Puncak Jaya.

2. Penghasil Teh Terbanyak Ke-7 di Dunia

Menurut Food and Agriculture Organization of United States (FAO), produksi teh Indonesia mencapai 130 ribu ton (2015) dan hampir 50%-nya menjadi komoditi ekspor.

3. Penghasil Tembakau Terbanyak Ke-6 di Dunia

Bukan hanya kuatitas, tetapi kualitas tembakau Indonesia juga menjadi yang terbaik di dunia kedua setelah Kuba. Tembakau dengan kualitas terbaik itu dibudidayakan di Jember , Jawa Timur.

4. Penghasil Kopi Terbanyak Ke-4 di Dunia

5. Penghasil Beras Terbanyak Ke-3 di Dunia

Menurut FAO, pada tahun 2015 Indonesia mampu menghasilkan beras sebanyak 70,8 juta ton, menempati peringkat ketiga setelah China dan India. Namun, bukannya mengekspor, Indonesia justru masih mengimpor beras sebanyak 1 juta ton.

2. Penghasil Teh Terbanyak Ke-7 di Dunia

Sebelumnya Indonesia menempati peringkat kelima sebagai penghasil teh terbanyak di dunia, tapi peringat tersebut menurun karena banyak kebun teh yang dialihkan fungsinya. Menurut Food and Agriculture Organization of United States (FAO), produksi teh Indonesia mencapai 130 ribu ton (2015) dan hampir 50%-nya menjadi komoditi ekspor.

3. Penghasil Tembakau Terbanyak Ke-6 di Dunia

Bukan hanya kuatitas, tetapi kualitas tembakau Indonesia juga menjadi yang terbaik di dunia kedua setelah Kuba. Tembakau dengan kualitas terbaik itu dibudidayakan di Jember , Jawa Timur.

4. Penghasil Kopi Terbanyak Ke-4 di Dunia

Belanda membawa kopi masuk ke Indonesia pada tahun 1669. Pada abad ke-17, Indonesia menjadi penghasil kopi terbanyak pertama di dunia, sampai-sampai jawa dibaca java menjadi bahasa gaul untuk kopi. Sayangnya produksi menurun karena serangan hama.

5. Penghasil Beras Terbanyak Ke-3 di Dunia

Menurut FAO, pada tahun 2015 Indonesia mampu menghasilkan beras sebanyak 70,8 juta ton, menempati peringkat ketiga setelah China dan India. Namun, bukannya mengekspor, Indonesia justru masih mengimpor beras sebanyak 1 juta ton.

6. Penghasil Batubara Terbanyak Ke-3 di Dunia

Dengan produksi sebanyak 281,7 ton, Indonesia menempati peringkat ketiga penghasil batubara terbanyak di dunia setelah China dan Amerika Serikat. Indonesia juga menempati peringkat kedua eksportir batubara di dunia.

7. Penghasil Tembaga Terbanyak Ke-3 di Dunia

Begitulah kayanya bangsa Indonesia ini, namun sayangnya kemerdekaan yang dirayakan setiap tahunnya hanya sebatas pekikan yang tidak bermakna.

Sejatinya belum memahami betul apa arti kemerdekaan itu sendiri. Coba kita buka kembali lembaran pembukaan UUD 1945 alinea ke-1 yang berbunyi: “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.

Mari kita renungkan sedalam-dalamnya sudahkah kita merdeka sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alinea pertama?

Kalau mau jujur sebenarnya kita belum merdeka kenapa penjajahan masih terus merongrong kedaulatan bangsa Indonesia.

Sebagai bukti kekayaannya alam yang seharusnya dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyatnya namun yang terjadi adalah kekayaan itu dikuasai dan dikeruk oleh bangsa lain. Dan hanya dirasakan oleh segelintir orang dari masyarakat yang jumlahnya ratusan juta jiwa.

Ini adalah bukti nyata bahwa kontrak PT. Freeport dimulai tahun 1967 dan baru akan berakhir tahun 2041. Beberapa sumber menghitung bahwa sejak 1967 sampai 2010 (43 tahun) sudah menghasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas.

Kalau diuangkan dengan patokan harga emas tiap gram sekarang senilai Rp 500.000,- saja, maka jumlah uang yang dihasilkan kurang lebih adalah; 724 trilyun 700 ribu gram dikali Rp 500.000 = Rp 362.350 trilyun

Artinya tiap tahun Freeport menghasilkan kekayaan:Rp 362.350 trilyun : 43 tahun = Rp 8.426,7442 trilyun

Katakanlah setelah dipotong macam2, hasil bersihnya Rp. 8.000 trilyun / tahun (bandingkan dengan APBN tahun ini yang cuma Rp 1.202 trilyun)

Dari jumlah ini, Indonesia hanya mendapat 1% (satu persen). Artinya hanya sekitar Rp 80 trilyun/tahun. (Kalau menurut media massa jumlahnya malah hanya Rp.15 sd Rp.20 trilyun pertahun,alias 1/4 cukai rokok yang tahun 2010 menyumbang devisa sebesar Rp. 66 trilyun). Sementara sisanya yang 99% masuk ke perusahaan di AS.

Indonesia sekarang ini tercatat sebagai negara termiskin di Dunia dengan urutan ke-68 yang torehan pertahunya adalah $3,900.

Menurut pakar ekonomi, Rahman Herry B Koestanto, S.E menyebutkan masuknya Indonesia kedalam negara termiskin di Dunia terjadi karena kurangnya pemanfaatann yang maksimal dalam pengolahan keuangan di Indonesia.

Hutang negara Indonesia ke luar negeri tidak hanya sebesar Rp. 3.672 triliun. Hitung-hitungan Pengamat ekonomi, Ichsanuddin Noorsy, hutang luar negeri Indonesia per Juni 2017 sekitar Rp.4 ribu triliun.

“Angkanya salah, angka per Juni 2017 4364,767 triliun Dollar. Jumlahnya adalah 3.228.178.000 USD dikali Rp.13.300,” jelasnya dalam diskusi bertajuk “Hutang Negara Untuk Siapa?” di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/7).

Angka tersebut didapatkan dari perhitungan yang tidak hanya mengambil dari kewajiban pemerintah Indonesia terhadap negara yang memberi hutang, melainkan juga semua kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemerintah.

Berdasarkan data tersebut sebenarnya kemerdekaan Indonesia masih merupakan kemerdekaan yang terbelenggu.

(tgh)

%d blogger menyukai ini: