Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Tekno-Sains Keren! Satelit Tangkap Detik-Detik Menakjubkan Letusan Gunung Berapi di Alaska

Keren! Satelit Tangkap Detik-Detik Menakjubkan Letusan Gunung Berapi di Alaska


Ilustrasi Foto.

Sketsanews.com, Jakarta  — Satelit Aster menangkap pandangan jelas sebuah aktivitas vulkanik di Siberia, Rusia. Negara yang memiliki daerah sebagai rumah gunung berapi ini adalah Semenanjung Kamchatka.

Dilaporkan Fox News, Rabu (30/8/2017), Aster merupakan singkatan dari Advance Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer, adalah proyek dual-nation yang dioperasikan oleh Propulsion Laboratorium and Japan Space Systems.

Daerah tersebut sering kali mengalami letusan karena lokasinya di dekat lempeng tektonik Eurasia, Amerika Utara dan Pasifik. Letusan dari salah satu daerah vulkanik yang paling aktif di dunia tersebut mengirimkan abu dan uap ke langit pada minggu ini.

Shiveluch, sebuah stratovolcano besar yang terbuat dari abu dan lava yang keras, dan terletak di Semenanjung Kamchatka, Rusia di dekat Samudera Pasifik.

Gunung berapi tersebut memiliki 3.282 mil di atas permukaan laut, menurut NASA. Gunung itu juga berperilaku sama dengan gunung berapi yang terletak di pulau-pulau dekat Alaska.

Kepulauan Aleutian yang berada di laut Bering dan meluas menuju Semenanjung Rusia ini merupakan bagian dari Alaska.

Menurut Program Vulkanisme Global Smithsonian Institution, negara bagian ke-49 tersebut telah menghasilkan 70% dari semua letusan sejarah di Amerika Serikat, dan ‘sebagian besar’ yang terjadi di wilayah ini pada khususnya.

Dalam gambar tersebut, Shiveluch terlihat melepaskan aliran abu yang bergerak ke barat, dan gunung berapi Bezymianny yang sedikit lebih kecil juga terlihat membuang letusan, uap dan bukan abu ke selatan.

Satelit Aster menangkap fenomena tersebut pada 20 Agustus, dan gambar itu mencakup area seluas 12 mil dengan jarak 14 mil (19,5 x 22,7 kilometer).

Diketahui, satelit tersebut memantau pergerakan glasial, gunung berapi berpotensi aktif, sifat fisik awan, degradasi terumbu karang, suhu permukaan tanah dan tekanan panen serta polusi panas.

Gunung berapi sendiri juga membantu para ilmuwan untuk memahami vegetasi kuno. Jutaan tahun yang lalu, abu vulkanik menetap pada pohon sequoia dan metasequoia setelah letusan gunung berapi, yang menciptakan hutan dan membatu para ahli untuk mempelajari paleontologi, di tempat-tempat seperti Pulau Unga di Alaska.

[As]

%d blogger menyukai ini: