Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Olahraga Kisah Yayuk Basuki ‘Dikepung’ Ribuan Suporter Thailand

Kisah Yayuk Basuki ‘Dikepung’ Ribuan Suporter Thailand

 

Yayuk Basuki merayakan emas di Asian Games 1998. (AFP PHOTO / TORSTEN BLACKWOOD)

Sketsanews.com, Jakarta– Masih tergambar dengan jelas suasana Muang Thong Thani Centre ketika belasan ribu orang memadati stadion tenis yang digunakan untuk menggelar final cabang olahraga tenis dalam Asian Games 1998 di Bangkok, Thailand.

Gambaran keriuhan akan padatnya penonton selalu melekat dalam benak legenda tenis Indonesia, Yayuk Basuki. Bagaimana tidak, stadion yang saat itu berkapasitas 6 ribu penonton itu penuh melampaui batas. Mereka datang untuk menyaksikan final cabang tenis antara Yayuk vs Tamarine Tanasugarn yang merupakan andalan tuan rumah dan unggulan pertama di Asian Games 1998.”Pas baru masuk stadion tenis, itu biasa yang namanya penonton mendukung tuan rumah. Penonton beli tiket antre sampai keluar stadion. Stadion itu kapasitasnya mungkin enam ribu, tapi yang mengisi lebih dari itu,” kata Yayuk kepada CNNIndonesia

“Sampai ada yang berdiri, tapi oke. Saya melihat itu pasti ada rasa ketegangan, tapi itu wajar yang dialami seluruh atlet. Indonesia mungkin tidak lebih dari 15 orang. Saya pikir ya sudah, tidak masalah. Kita harus tetap tegar,” katanya menambahkan.

Yayuk Basuki bersalaman dengan Tamarine Tanasugarn usai pertandingan final Asian Games 1998.
Yayuk Basuki bersalaman dengan Tamarine Tanasugarn usai pertandingan final Asian Games 1998. (AFP PHOTO / TORSTEN BLACKWOOD)

Final melawan Tamarine sangat spesial bagi Yayuk. Pasalnya, Yayuk sudah memiliki rencana pensiun usai tampil di Asian Games 1998. Mantan atlet kelahiran Yogyakarta itu berambisi menutup karier dengan torehan emas.

Perjalanan menuju final melawan Tamarine tidak mudah. Yayuk yang merupakan unggulan keempat, bermain di dua nomor yakni beregu dan tunggal putri. Indonesia kalah dari China dalam nomor beregu di babak semifinal dengan skor 0-3 dan meraih medali perunggu usai mengalahkan Jepang.

Laga final melawan Tamarine membuat perasaan Yayuk campur. Ia semangat, sekaligus khawatir. Makan tak enak, tidur pun tidak nyenyak. Namun, Yayuk tak bisa memungkiri laga final melawan Tamarine sangat ditunggunya. Laga final pun berlangsung sangat menarik.Yayuk yang pada saat itu masih 28 tahun menerangkan jelang final ia diberi tanggung jawab target emas. Tekanan dalam diri Yayuk semakin menjadi-jadi. Tekanan itu, menjadi beban dan menyerang mental Yayuk. Akibatnya, Yayuk menjadi susah makan.

“Saya setiap hari sampai tidak bisa makan. Saya terus terang hampir tidak makan nasi. Setiap hari itu mereka ada semacam noodle soup, kalau di Indonesia seperti bakso. Hampir setiap hari tidak bisa makan,” ucap Yayuk.

Yayuk Basuki merayakan emas keempatnya di ajang Asian Games.Yayuk Basuki merayakan emas keempatnya di ajang Asian Games. (AFP PHOTO/Torsten BLACKWOOD)

Memasuki pertandingan final, Yayuk mengaku merasa seperti berada di pertandingan sepak bola daripada tenis. Suasana amat riuh dan ribuan suporter tuan rumah memberikan dukungan luar biasa kepada Tamarine.

“Bayangkan, tenis itu kan harus tenang. Tapi ini karena multi-cabang, beban negara di pundak, mereka juga seperti itu. Itu ada yang namanya drum band, terompet, macam-macam. Ibaratnya tenis dianggap seperti sepak bola, padahal tenis itu harus tenang,” ucap Yayuk.

Di bawah tekanan mental dan pendukung tuan rumah, Yayuk tetap mampu menunjukkan kualitasnya dan menang dua set langsung atas Tamarine 6-4 dan 6-2. Yayuk pun menutup kariernya di Asian Games dengan merebut emas keempat.

Yayuk Basuki kini menjadi anggota Komisi X DPR.Yayuk Basuki kini menjadi anggota Komisi X DPR. (CNN Indonesia/Andito Gilang)

Sebelumnya, Yayuk menyabet medali emas dalam nomor ganda putri Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan, serta dalam nomor campuran dan ganda putri pada Asian Games 1990 di Beijing, China.

“Di situ saya terus terang langsung sujud. Kenapa? Melepaskan beban. Alhamdulillah saya bisa menyumbangkan emas terakhir untuk Indonesia,” ucap Yayuk yang dijuluki Jaguar Asia itu.

(Tb)

%d blogger menyukai ini: