Sketsa News

Komika Lecehkan Agama

ilustrasi pelecehan agama. foto:suduthukum.com

Sketsanews.com, Jakarta – Stand Up Comedy, salah satu ajang pencarian bakat melawak yang awalnya berasal dari negara Amerika Serikat (sekitar tahun 1800an) ramai ramai ditiru oleh pelawak dari berbagai negara, tak terkecuali pelawak Indonesia. Beberapa nama artis (pelawak) menjadi terkenal karenanya, tawaran syuting pun mengalir deras, entah itu untuk pembuatan film atau pun iklan suatu produk.

Kesuksesan yang diraih (bagi beberapa orang), justru melenakan, terlebih bagi seseorang yang punya fans fanatik. Kurangnya kontrol terhadap ucapan, sikap dan perilaku bisa menjadikannya “lupa daratan”.

Dengan kemampuan bermain retorika dan lihainya berolah kata, hal apapun bisa menjadi lelucon. Merendahkan martabat orang lain, berkata tidak sesuai fakta, bahkan tak jarang, hal-hal sensitif dijadikan guyonan demi mendapat aplous dari audience.

Masih hangat diingatan kita. Beberapa hari yang lalu, seorang komika (Ge Pamungkas) jebolan Stand Up Comedy, mengucapkan kalimat yang sesungguhnya kalau ditelaah adalah sebuah penghinaan.

Pria bernama lengkap Genrifinadi Pamungkas tersebut mengawali penampilannya dengan membahas film komedinya (Susah Sinyal). Setelah itu topik tentang banjir di Jakarta dan masalah-masalah yang kerap ditemui di zaman yang serba modern ini menjadi pilihan Ge.

“Dulu nih, Jakarta banjir. Apa coba itu, weh, netizen itu, ini gara-gara (Ahok),” tukasnya menyinggung gubernur DKI Jakarta sebelumnya. “Giliran banjir yang terjadi saat ini, ini adalah cobaan dari Allah SWT,” lanjutnya.

“Sesungguhnya Allah memberikan cobaan terhadap hamba yang dicintai-Nya,” ujar Ge sambil mengutip sebuah ayat. Kemudian ia berkomentar: “Cintai apaan? Ini banyak genangan, cobaan, stress banget gue”.

Joshua Suherman, saat tampil di acara Stand Up Comedy pun juga melakukan hal yang sama dengan Ge pamungkas. Dalam materi lawakannya, dia menjelaskan, mengapa Anisa lebih terkenal dibandingkan dengan Cherly, tak lain karena agama yang dianut oleh Anisa.

Berikut ini, kalimat selengkapnya:
“Semuanya Anisa, Anisa, Anisa ya kan? Padahal skill-nya tipis-tipis, nyanyi tipis, nge-dance tipis, cantik relatif, ya kan? Gue mikir kenapa Anisa selalu unggul dari pada Cherly, ah sekarang gue ketemu jawabannya. Makanya Che, Islam,” ujarnya dalam video tersebut.

Sontak materi lawakan yang dibawakan penyanyi diobok-obok itu langsung mendapat sambutan tawa dari penonton. Salah satu peserta stand up comedy lainnya yang ada di belakangnya pun sontak langsung berkata, “Allahhu Akbar”.

“Karena di Indonesia ini ada satu hal yang dengan hal sebesar apapun, mayoritas,” tutur Joshua.

Pelawak legendaris Indonesia, S Bagio punya prinsip beda dalam melawak. Ia berkata:
“Jadi pelawak itu susah, Mas. Kita nggak bisa sembarangan ndagel… Agama, suku, warna kulit itu BUKAN bahan lelucon.”

Saat masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Bagio menang dalam hampir semua lomba lawak.

Baginya, lawak bukan sekedar candaan, buat orang ketawa, tetapi lebih dari itu. Pesan informatif dan mendidik selalu ditonjolkan Bagio tiap kali melawak. Dengan begitu ada masukan yang didapat para penonton setelah melihatnya tampil.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selaku lembaga yang berwenang, sudah selayaknya memberikan teguran kepada acara Stand Up Comedy dan memberikan sanksi kepada komika yang terbukti telah melakukan pelecehan terhadap agama tertentu.

Sanksi penodaan agama diatur dalam Pasal 2 UU PNPS No.1/1965 (jo Undang Undang No.5/1965) dan Pasal 156a KUHP.

Pasal 2 UU PNPS No.1/1965 menyebutkan: (Ayat 1).” Barangsiapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal 1, diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu didalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negri.

Pasal 156a KUHP berbunyi : “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan; a. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. b. Dengan maksud agar orang tidak menganut agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sanksi tersebut diterapkan sebagai efek jera, agar tidak diikuti oleh orang lain. Agar tidak semakin banyak orang yang dengan ringannya menjadikan agama/ajaran agama tertentu sebagai bahan lelucon.

(Fya)

%d blogger menyukai ini: