Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Wawancara Kurban dan Haji di Mata Kaum Sufi

Kurban dan Haji di Mata Kaum Sufi

Sketsanews.com – Kerap kali didengar sebuah istilah humor sufi. Biasanya, ia ditempelkan pada sebuah lelucon bernuansa Islam. Belakangan, potongan kisah yang sering menggunakan nama tokoh Abu Nuwas atau pun Nasruddin Hoja ini menyebar cepat di jagat maya. Bacaan-bacaan ini menjadi favorit di kala Ramadan, Iduladha, atau perayaan Islam lainnya.

Sufi adalah sebutan bagi mereka yang mendalami ilmu tasawuf. Sebagai sebuah pandangan tersendiri terhadap prinsip keagamaan, tasawuf tampak lentur, humanis, tenang, bahkan sesekali akrab dengan humor. Oleh orang-orang sufi, Islam mencoba dipandang dan ditampilkan dengan cara yang unik, mengejar inti, sedikit menanggalkan hal-hal yang berbau formalitas, namun tetap berjalan sesuai koridor syariat Islam.

Termasuk ketika orang-orang sufi memandang ibadah kurban dan haji. Budayawan Sufi Candra Malik menceritakan sedikit banyak tentang sisi lain kaum sufi dalam memaknai ibadah haji dan kurban. Sosok yang akrab disapa Gus Candra ini mengatakan beribadah haji adalah tentang keluar dari gelap menuju Cahaya.

Mina-d-dlulumaati ila-n-nuur. Dari khilaf Adam dan Hawa menuju insafnya. Dari silaunya gemerlap dunia yang menggelapi dan menggelapkan pandangan ruhani menuju kemuliaan cahaya di atas cahaya,” kata Candra Malik kepada Metrotvnews.com, Jumat (9/9/2016).

Berikut kami sajikan wawancaranya secara lengkap:

Bagaimana gambaran seorang sufi memahami Islam, haji, dan kurban?

Islam adalah rumah rahmatan lil ‘aalamiin dengan salat lima waktu sebagai sokoguru. Berpondasikan syahadatain (dua kalimat sahadat), berdinding puasa, dan berpintu-jendela zakat. Rumah ini mengayomi siapapun makhluk Allah di semesta raya. Nah, semuanya itu beratapkan haji.

Tidak hanya sampai di situ. Sebagai dua sisi yang menyatu dan tak terpisahkan, perdamaian adalah prinsip utama Islam dan keselamatan jadi asasnya. Tak ada pengingkaran atas manusia dan kemanusiaan di dalam Risalah Islam yang diturunkan Allah kepada Rasul Muhammad SAW.

Allah bahkan berfirman dalam Q.S. Al Maidah 5:32, “Dan siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, ia seperti halnya telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.”

Itu Islam dan haji, pandangan terhadap kurban?

Allah Yang Maha Menghidupkan, Mematikan, dan Menghidupkan lagi memelihara kehidupan Ismail AS, sebagaimana termaktub di dalam kisah kurban. Dan, benar-benar itu berarti memelihara kehidupan manusia seluruhnya: dari garis Ismail AS itulah terlahir Muhammad SAW.

Oleh karena itulah, sesungguhnya peristiwa agama adalah peristiwa manusia dan kemanusiaan. Tuhan memanifestasikan KehadiranNya di semesta melalui penciptaan manusia. Dan, Allah memperkenalkan diriNya melalui berbagai medium, terutama dalam hal ini melalui risalah kenabian Ibrahim AS, Sang Bapak Tauhid.

Petuah yang populer di kalangan sufi menuturkan, Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu, sesiapa yang mengenal dirinya sendiri, maka ia mengenal Tuhannya. Dan, Ibrahim AS terus berikhtiar untuk mengenal dirinya sendiri sepanjang hayat untuk mengenal Allah.

Kurban bersumber dari kisah Nabi Ibrahim mendapat ujian Allah SWT untuk menyembelih anaknya. Seperti apa pelajaran dan hikmah yang bisa diambil jika menggunakan kacamata sufi?

Lulus dari ujian yang lebih tinggi, yaitu mendapat perintah Allah untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail AS, ia dikaruniai ilmu paling tinggi tentang manusia dan kemanusiaan. Yaitu bahwa puncak tertinggi dari kemanusiaan seorang anak manusia adalah berserah diri pada Ilahi.

Pengalaman hidup Ibrahim AS telah mengajarkan tiga tahap utama proses mengenal diri sendiri demi mengenal Tuhan. Yang kesatu, Tarwiyah atau perenungan. Pada 8 Zulhijah, ia bermimpi mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih Ismail AS.

Nabi Ibrahim merenung, yakin dan ragu saling berjibaku meski Ismail AS berharap ayahandanya melaksanakan perintah Allah itu. Betapa berat menimbang keimanan dengan kepatuhan sebagai neraca. Ibrahim AS merenung begitu dalam demi mengetahui kebenaran.

Merenung dalam hal ini diartikan menimbang dan belajar?

Ya, demi mengetahui. Tahap yang kedua adalah Arafah atau mengetahui sesuatu secara mendalam dengan pengenalan yang benar-benar yakin berdasar kesadaran yang mumpuni. Keyakinan ini dibangun dengan empat pilar Arafah itu meliputi ‘ilmal yaqin, ‘ainul yaqin, haqqul yaqin, dan ikmal yaqin.

Perjalanan batiniah mencari Tuhan, keberanian menghancurkan berhala, melawan Raja Namrud dan dibakar hidup-hidup adalah babak-babak Ibrahim AS mengenal dirinya sendiri hingga mengenal Allah. Tapi, ia masih harus menempuh satu tahap lagi.

Apa pesan Tuhan yang bisa dipahami ketika Ibrahim diuji untuk mengorbankan putra tercintanya?

Ibrahim, yang dalam buku karya Omar Hashem berjudul “Muhammad Sang Nabi – Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail” disebutkan bahwa namanya berasal dari suku kata ib/ab dan rahim, yang jika disatukan bermakna ayah yang penyayang, itu lulus uji.

Setelah pada 9 Zulhijah melewati tahap Arafah, yakni setelah bermimpi yang sama untuk kali kedua dan ketiga, serta diingatkan Jibril AS bahwa perintah dalam mimpi itu benar-benar dari Allah, Ibrahim AS memasuki tahap ketiga. Yaitu Nahr, penyembelihan, kerelaan untuk kurban.

Budayawan Sufi, Penulis Buku Makrifat Cinta, Candra Malik/ist
Budayawan Sufi, Penulis Buku Makrifat Cinta, Candra Malik/ist

Pada 10 Zulhijah, Ibrahim AS pun menetapkan atas dirinya untuk hanif, lurus berserah pada Allah. Dalam Q.S. An Nahl 16:120 difirmankan, “Sesungguhnya Ibrahim adalah teladan kepatuhan kepada Allah dan seorang hanif, dan ia tidak termasuk orang yang menyekutukan Tuhan.”

Sang Khalilullah, Kesayangan Allah, putra dari Azar bin Nahur bin Sarugh bin Ra’u bin Faligh bin Abir bin Shaleh bin Arfakhsad bin Sam bin Nuh ini telah membulatkan tekadnya untuk melaksanakan perintahNya.

Ibrahim AS dan Ismail AS, ayah dan anak, telah sama-sama menyembelih keakuan masing-masing. Ibrahim AS menyembelih cinta dan rindu dendam yang teramat sangat kepada Ismail AS. Ismail AS menyembelih cinta dan rindu dendam yang teramat sangat kepada Ibrahim AS. Dan, Allah pun menyelamatkan keduanya.

Keagungan cinta dan kasih sayang ayah kepada anak, demikian pula cinta dan kasih sayang anak kepada ayah, tidak akan kuasa melampaui keagungan Allah, Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Allah Maha Pencemburu, terutama kepada Para KekasihNya.

Bagaimana cara sufi menerjemahkan hikmah dari rangkaian ibadah haji?

Selain terhadap Ismail AS, Ibrahim AS pun dipisahkan jarak dan waktu terhadap Hajar, istri kedua yang telah melahirkan Ismail AS. Kedua permata jiwa itu diasingkan di Tanah Haram. Diasingkan dari kehidupan dunia untuk diserahkan kepada cinta dan kasih sayang Allah semata.

Dianugerahkan kepada Ismail AS dan Hajar lebih dari air Zamzam. Allah bahkan meneguhkan cintaNya dengan melanggengkan Hijir Ismail dalam kemuliaan Kakbah. Abadi di sana hingga akhir zaman, dan turut dipusari oleh gelombang besar tawaf lautan manusia.

Di radius Hijir Ismail itulah dahulu Hajar dan Ismail AS ditinggal oleh Ibrahim AS dalam keberserahan yang mutlak kepada Allah. Di sana pulalah peristirahatan terakhir Hajar dan Ismail AS. Ibu dan anak yang tunduk patuh kepada Allah itu senantiasa dijagaNya.

Hajar Aswad, Hijir Ismail, dan Maqam Ibrahim berada dalam satu kesatuan Baitullah yang tak bisa dipisahkan. Jejak Hajar dari Safa ke Marwa tak hanya mewariskan ikhtiar sa’i, namun juga mengajarkan betapa doa ibu menembus langit ke tujuh.

Segenap perjuangan hidup Ibrahim AS, Hajar, dan Ismail AS ini tak cuma diperingati sebagai hari raya. Namun, ditetapkan sebagai satu dari lima rukun Islam, yaitu Haji. Dalam Q.S. Al Hajj 22:27, Allah berfirman, “Dan serulah manusia untuk melaksanakan haji.” Namun, ada catatan “bila mampu” dalam ibadah haji. Inilah ujian terberat manusia untuk mencapai keberserahan diri pada Ilahi.

Seperti apa tafsir lain dari penjelasan “bila mampu” itu?

Betapa kita mudah terjebak pada pikiran dan perasaan mampu untuk melakukan sesuatu berkat prestasi kita sendiri. Padahal, sangat jelas betapa tiada daya dan upaya selain dengan izin Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Laa haula walaa quwwata illa bi-l-Laahi-l-‘Aliyyi-l-‘Adziim.

Sejak di Miqat, sebelum memasuki Mekkah, Muslim yang berhaji wajib meniadakan diri dari hubbu-d-dunya (kecintaan terhadap urusan dunia), dan dengan sadar mengambil sendiri kematiannya, mutu qabla antamutu. Ia menetapkan atas dirinya ihram; haram melakukan hal-hal yang pada mulanya halal baginya. Inilah niat hamba Allah untuk kembali fitrah.

Tiada daya dan upaya Ibrahim AS untuk selamat dari api yang membara dan kekejaman Raja Namrud selain dengan izin Allah. Tiada daya dan upaya untuk memeroleh keturunan selain atas izin Allah. Tiada daya dan upaya memelihara Hajar dan Ismail AS di tengah gurun pasir Mekkah selain dengan izin Allah.

Tiada daya dan upaya Hajar dan Ismail AS memeroleh setetes air selain dengan izin Allah yang telah mencurahkan Air Zamzam yang abadi. Tiada daya dan upaya Ibrahim AS untuk memenuhi perintah Allah menyembelih anaknya selain dengan izin Allah.

Tiada daya dan upaya Ismail AS untuk mematuhi ayahnya selain dengan izin Allah. Tiada daya dan upaya ayah dan anak, Ibrahim AS dan Ismail AS, untuk saling menguatkan hati memenuhi perintah Allah itu selain dengan izin Allah.

Tiada daya dan upaya untuk selamat dari tajamnya pedang yang telah menempel di leher Ismail AS selain dengan izin Allah. Tiada daya dan upaya Ibrahim AS dan Ismail AS membangun Ka’bah selain dengan izin Allah. Tiada daya dan upaya bagi kita menapak jejak keberserahan Ibrahim AS, Hajar, dan Ismail AS dalam ibadah Haji selain dengan izin Allah.

Intinya, berserah diri?

Keberserahan diri yang mutlak kepada Allah adalah kemenangan yang nyata seorang manusia. Pada puncak inilah, ketika ia merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah, menjadi Abdillah, Hamba Allah, ia telah mencapai Al Insanu al Kamil dan niscaya Allah mengangkat derajatnya setinggi-tingginya.

Muhammad SAW yang diperjalankan Allah dalam Isra Mikraj pun bukan dalam kedudukannya sebagai Rasul, Nabi, atau pemimpin umat terbaik, melainkan sebagai Abdillah, seperti tercantum dalam Q.S. Al Isra’ 17:1. Dan, Subhanallah, Muhammad SAW disambut oleh Ibrahim AS di Bait al-Makmur di langit ketujuh.

Dalam Q.S. Ath Thuur 52:4, Allah bahkan bersumpah, “Demi Bait al-Makmur.” Diyakini bahwa Kakbah dan Bait al-Makmur berada dalam satu garis lurus yang vertikal. Lautan manusia tawaf mengelilingi Kakbah dan para malaikat tawaf mengelilingi Bait al-Makmur dan salat di sana, seperti disebut dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Pemaknaan dari rangkaian haji yang lain?

Di Padang Arafah bukan hanya untuk wukuf. Anak cucu Adam AS juga merenungi dosa asal manusia yakni berdusta; dan dosa awal manusia yaitu mengambil yang bukan haknya, atau mencuri. Sejak diturunkan ke dunia dari surga setelah peristiwa buah kuldi, Adam AS dan Hawa dipertemukan lagi di Padang Arafah.

Beribadah haji adalah tentang keluar dari gelap menuju Cahaya, mina-d-dlulumaati ila-n-nuur. Dari khilaf Adam dan Hawa menuju insyafnya. Dari silaunya gemerlap dunia yang menggelapi dan menggelapkan pandangan ruhani menuju kemuliaan cahaya di atas cahaya.

Oleh karena itulah, Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa ada perang yang lebih besar daripada perang Badar, yakni perang melawan diri sendiri. Jumrah bukanlah akhir dari peperangan itu. Sebab, sepulang dari ibadah haji, setiap kita masih harus terus mengendalikan nafsu agar takluk dan patuh kepada Allah.

Siapa yang selalu menjaga dzikir tetap hidup, hatinya senantiasa dalam keadaan tawaf. Siapa yang tidak putus asa dalam berusaha dan berdoa, ia sesungguhnya sedang sa’i. Siapa yang selalu sadar dan siaga menepis bisikan setan dan godaan nafsu, ia selalu Jumrah.

Siapa yang mawas diri, ia pada hakikatnya dalam keadaan wukuf. Dan, siapa yang telah berserah diri kepada Allah, hatinya telah berhaji. Inilah kemenangan yang sejati. (Wis/Metrotvnews)

 

%d blogger menyukai ini: