Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Membongkar Kebangkitan Neo Komunis Indonesia

Membongkar Kebangkitan Neo Komunis Indonesia

G30S PKI. wordpress.com

Sketsanews.com, Jakarta – Berita tentang bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia semakin hari semakin panas dibicarakan di media sosial.

Sebenarnya isu tentang kebangkitan Partai Komunis Indonesia mulai berhembus sejak masa kampanye pemilihan presiden 2014. Ketika itu Jokowi memberikan angin bahwa akan memberi maaf kepada keluarga PKI.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono menghadiri acara doa bersama memperingati hari pemberontakan kelompok komunis, G30S/PKI. Dalam kesempatan tersebut, Mulyono mengingatkan semua pihak untuk waspada.

“Kebangkitan ideologi komunis makin terlihat nyata, ada kelompok yang ingin memutar fakta sejarah seolah mereka adalah korban,” ujar Mulyono.

Hal tersebut diungkapkan KSAD kepada tamu yang hadir di lokasi acara peringatan G30S/PKI di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jaktim, Rabu (30/9/2015). Ia pun juga mengingatkan bahwa komunis sebagai sebuah ideologi tidak akan pernah padam.

Musuh Besar PKI adalah Islam

Sebelumnya kita mencoba menengok kembali sejarah munculnya paham komunis pertama kali.

Berbicara tentang Komunisme tentunya kita akan membicarakan pencetus dan pendiri dari ideologi tersebut, menurut pandangan umum yang hidup di dunia sekarang ini, yaitu tidak lain adalah Karl Marx yang dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di Trier Jerman dari keluarga Yahudi.

Tetapi menurut Freemasonry, organisasi Yahudi di bawah tanah, pencetusnya tidak lain ialah sekelompok golongan cahaya (Freemasonry), yang telah diputuskan di dalam Kongres Internasionalnya di Amerika Serikat.

Karl Marx, begitu kata Freemasonry, sebenarnya hanya orang bayaran dari Freemasonry, yang dimintakan untuk menyusun teori komunis dan atheisme; dengan imbalan semua biaya penghidupan Karl Marx dijamin sepenuhnya oleh Freemasonry.

Sebagai buktinya bahwa ternyata ia memang tidak menguasai sepenuhnya teori-teori yang ia ambil dari berbagai konsepsi-konsepsi filsafat yang berasal dari orang-orang non Marxis.

Karl Marx hanya menyusun atau lebih tepatnya menyetel konsepsi-konsepsi filsafat yang dia pungut dari orang-orang non Marxis dalam suatu teori yang dia namakan “Komunisme”.

Para pencetus teori komunisme tentu saja menolak semua agama, karena agama-agama tersebut menurut keyakinannya semuanya mempunyai tanggung jawab yang sama atas pengasingan spiritual manusia.

Pandangan yang naif dan emosional terhadap agama, mengakibatkan kaum komunis bersikap sangat benci dan garang terhadap agama. Lenin melihat agama lebih mempunyai sifat seperti vodka yang buruk.

Pada tahun 1905 Lenin rnenulis: “Agama adalah semacam vodka spiritual yang buruk, yang di dalamnya budak-budak kapitalisme membenamkan sifat manusia dan rasa sakit hati mereka yang timbul dari suatu kehidupan yang sangat tidak berharga”.

Bagi Stalin, yang pemah menjadi seorang siswa Seminari dari Tiflis, unsur-unsur emosional pribadi dari agama memainkan peranan yang lebih eksplisit dibanding bagi Lenin.

Meskipun demikian, tak seorang pun dari pemimpin Soviet dapat membayangkan adanya kemungkinan agama tetap hidup di negara komunis tersebut. Sebab sikap bermusuhan terhadap agama sedemikian garangnya, sehingga sejak tahun 1961, jadi lebih dari 100 tahun setelah kelahiran Marx, teks program resmi negara Soviet dan Partai Komunis menegaskan: “peperangan tanpa ampun dan terus menerus melawan kepercayaan agama dengan tujuan membangun komunisme di tengah-tengah Soviet”.

Pemikiran semacam ini yang juga dianut oleh para tokoh Partai Komunis Indonesia. Bisa dilihat faktanya tentang kekejaman PKI terhadap umat Islam.

Pejagalan yang dipimpin oleh Musso dimulai pada hari kedua (19 September 1948) sesudah Proklamasi Republik Sovyet di Kota Madiun, dengan penyembelihan kiai, santri, dan pamong praja di Blumbang luar kota.

Masaker ini berlanjut ke Soco, Cigrok, Gorang Gareng, Tanjung, Magetan, Takeran, Rejosari (pabrik gula), Bangsri, Dukuh Sedran, Geni Langit, Lembah Parang, Nglopang, Dungus, Kresek, Mangkujayan, Batokan, Jeblok, Randu Blatung, Blora, Pati, Wirosari, Donomulyo, Tirtomoyo.

Di setiap tempat itu, PKI menjagal 25-100 rakyat antikomunis (Lubang Lubang Pembantaian — Petualangan PKI di Madiun, Tim Jawa Pos: Maksum, Agus Sunyoto, A. Zainud din, Grafiti, 1990).

Di samping lubang pembantaian yang sengaja digali, tempat penyembelihan itu praktis dilakukan di sumur-sumur tua tak terpakai, yang banyak terdapat di desa-desa itu.

Karena repot dan sibuk, di Cigrok korban dikubur hidup-hidup. Di sebuah sumur tua yang tak tertimbun penuh, terdengar suara azan dari dalamnya. Tapi, Kiai Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari tidak tertolong.

Pesantren-pesantren yang menjadi sasaran utama PKI adalah Pesantren Takeran, Burikan, Dagung, Tegalredjo (tertua), Kebonsari, dan Immadul Falah.

Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu algojo menggergaji badannya sampai putus dua, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

Dubur warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan berdiri di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah seorang di antaranya, wanita, ditusuk kemaluannya sampai tembus ke perut, juga ditancapkan PKI di tengah sawah.

Seorang ibu, Nyonya Sakidi, mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul ke sana, sambil menggendong dua anak, umur satu dan tiga tahun. Dia nekat minta melihat jenazah suaminya. Karena repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan malang itu, dimasukkan dan dikubur di sumur yang sama, sementara kedua anaknya itu menyaksikan pembunuhan ibunya. Adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannya itu. Yel-yel PKI di Madiun dalam gerakan tersebut.

“Pondok bobrok, pondok bobrok! Langgar bubar, langgar bubar! Santri mati, santri mati!” Yang disorakkan dengan penuh kebencian dan ancaman. Cara mengekspresikan kebencian dan ancaman ini khas gaya komunis Leninis-Stalinis, yang dari Moskow diimpor Musso, proklamator Republik Sovyet Indonesia 1948 itu.

Menjelang Gestapu pada tahun 1964- 1965 di berbagai tempat di Indonesia. Untuk mengukur kekuatan sebelum merebut kekuasaan, PKI memprovokasi umat Islam dengan berbagai cara. Sesudah 1959 ketika konsep Demokrasi Terpimpin dilaksanakan dengan dalil poros Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), PKI mendapat angin buritan yang sangat menguntungkannya.

Berturut-turut berlangsunglah: pembubaran Masjumi dan PSI, dua partai anti-PKI, penangkapan dan penahanan tokoh-tokoh anti-PKI, pemberedelan koran antikomunis, yaitu Indonesia Raya, Pedoman, Abadi, teror Bandar Betsy, teror Kanigoro, pelarangan buku, pemburukan nama dan karakter di bidang seni budaya, pementasan “Matine Gusti Allah” dan “Sunate Malaikat Jibril”, pembakaran buku, serangan terhadap umat antikomunis di pers Ibu Kota, oleh Bintang Timur dan Harian Rakyat, untuk menyebut kasus-kasus besar saja, karena tidak seluruh peristiwa dicatat di sini.

Coba perhatikan bagaimana caranya PKI menghabisi musuh besarnya dengan cara yang mengerikan, mirip dengan gaya Komunis Soviet dalam menghadapi umat Islam.

Methoda untuk melenyapkan umat Islam di Turkistan Timur, meniru metoda yang dilakukan oleh regim komunis Rusia. Para pemimpin politik dan agama ditangkap, dimasukkan ke kamp-kamp kerja-paksa atau dibunuh. Seluruh posisi-posisi pemerintahan dikuasai oleh Cina Han yang komunis.

Pada masa kampanye tentang “Commune”, tanah-tanah penduduk dirampas, malahan simpanan persediaan pangan yang ada juga dirampok oleh pemerintah komunis serta pasar-pasar ditutup. Kaum muslimin dipaksa bekerja untuk “commune” di bawah pengawasan petugas partai komunis yang kejam dan sadis. Jam kerja rata-rata antara 8-10 jam sehari dengan upah yang sangat murah. Mereka yang dianggap membangkang ditangkap dan dimasukkan ke kamp-kamp kerja-paksa.

Berdasarkan fakta dan data di atas maka sebetulnya indikasi bangkitnya Komunis Gaya Baru Indonesia sudah nyata.

Mulai dari penangkapan para aktivis Islam dengan dalih perang melawan terorisme maupun mengkambinghitamkan para ulama.

Bukti yang terkini adalah diterbitkannya Perppu Ormas yang sebagai dampaknya adalah adalah dibubarkannya ormas Islam yaitu HTI dan FPI.

Ini semuanya mirip dengan metode Komunis Soviet dalam melenyapkan umat Islam.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah diselenggarakannya seminar pro PKI di gedung LBH Jakarta pada tanggal 16 dan 17 September yang diakhiri dengan kerusuhan dan penangkapan para tokoh antikomunis.

Kesimpulan

1. Partai Komunis Indonesia tidak akan pernah mati dan terus menerus melakukan kudeta sampai berdirinya negara Komunis.

2. Musuh besar PKI adalah umat Islam sehingga dengan berbagai cara dilakukan untuk melenyapkan Islam.

(jp)

 

%d blogger menyukai ini: