Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Tekno-Sains Menakjubkan! Penjelasan Bahan Bakar Fosil dari Pandangan Alquran dan Sains

Menakjubkan! Penjelasan Bahan Bakar Fosil dari Pandangan Alquran dan Sains


(Foto: Reuters)

Sketsanews.com, jakarta  —  Bahan bakar fosil dibentuk oleh pembusukan atau dekomposisi secara anaerobik (tanpa bantuan oksigen) dari sumber daya alam, sisa tumbuhan dan binatang, termasuk zooplankton dan fitoplankton yang mengendap dalam jumlah besar di dasar laut.

Zooplankton dan fitoplankton yang mengendap itu selama jutaan tahun yang lalu. Skala waktunya kadangkala melebihi 650 juta tahun. Dalam jangka waktu geologi yang lama ini material organik akan bercampur dengan lumpur, dan tertimbun di bawah lapisan sedimen yang sangat tebal dan berat.

Tekanan dan suhu yang tinggi mengubah bahan organik tersebut secara kimiawi menjadi cairan (minyak), bahan keras (batubara), dan gas. Bahan bakar yang dihasilkannya terutama mengandung bahan karbon dan hidrokarbon yang tinggi.

Dalam buku Tafsir Ilmi ‘Tumbuhan dalam perspektif Alquran dan Sains‘ yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan, konsumsi bahan bakar fosil pada 2007 diperkirakan mencapai 86,4 persen dari total konsumsi bahan bakar secara umum.

Jumlah itu terdiri dari minyak Bumi (36 persen), batubara (27,4 persen), dan gas Bumi (23 persen). Sisanya yang 13,6 persen disumbangkan oleh bahan bakar nonfosil, seperti listrik tenaga air, nuklir, geotermal, tenaga matahari, gelombang, angin, kayu dan lainnya. Pada umumnya, peningkatan keperluan energi dari tahun ke tahun naik sebesar 2,3 persen.

Bahan bakar fosil adalah sumber daya tak terbarukan karena pembentukannya memerlukan jutaan tahun. Masa pembentukannya yang sedemikian lama itu tidak seimbang dengan pengambilannya yang sangat cepat, sehingga ia dimasukkan ke dalam kategori sumber daya tak terbarukan.

Uraian di atas menunjukkan bahwa bahan bakar utama yang digunakan manusia dewasa ini berasal dari fosil, tepatnya dari sisa-sisa material organik binatang, tumbuhan dan plankton yang mati jutaan tahun lalu.

Sayangnya, kata fosil seringkali disalahartikan penjelasan tentang hal ini dapat dibaca pada bahasan tentang batu. Yang benar, fosil adalah cetakan batu dari bagian keras organisme. Fosil daun umpamanya, adalah cetakan daun pada batuan, yang daunnya sendiri sudah membusuk dan tidak tersisa.

Pembicaraan yang sedikit menyinggung perihal fosil dapat ditemukan pada salah satu ayat Alquran. “Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru? Katakanlah: Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu. Maka mereka akan bertanya: Siapa yang akan menghidupkan kami kembali? Katakanlah: Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: Kapan itu (akan terjadi)? Katakanlah: Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat,” Surah Al-Isra’ Ayat 49-51, dilansir dari laman Okezone.

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa manusia akan dibangkitkan pada Hari Kebangkitan, meski tubuhnya telah hancur dan tercerai-berai. Allah juga menegaskan bahwa meski tubuh manusia sudah berubah menjadi fosil (batu) atau besi sekalipun, Allah tetap berkuasa untuk membangkitkan mereka.

[As]

%d blogger menyukai ini: