Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Menguak Tabir Siapa Teroris Sejati

Menguak Tabir Siapa Teroris Sejati

Sketsanews.com, Jakarta – Kasus terorisme merupakan masalah yang sangat sering terjadi di negeri ini. Dan ini seolah-olah menjadi peristiwa yang terjadwal, makanya saat pertama kali masuk dalam diskursus politik, kata ‘terorisme’ dimaksudkan terhadap pemerintah teror rezim Jacobin Prancis, seiring dengan perkembangan waktu, teror negara nampak lebih sulit ditemukan. Bukannya tidak terjadi, tapi istilah tersebut mulai jarang sekali terdengar di publik.

Diskusi mengenai terorisme di kalangan akademisi cenderung hanya fokus pada terorisme non-negara. Di media juga demikian, terorisme diasumsikan aktor-aktor non-negara sebagai aktivitas saja. Jika pasukan keamanan melakukan suatu tindakan yang jika dilakukan oleh kelompok non-negara selalu disebut sebagai teroris, jawabannya selalu bahwa setiap aksi tersebut dilakukan atas nama negara, demi tercapainya tujuan negara yang sah. Pasukan keamanan atau aparat keamanan menangkal ancaman demi keamanan kita bersama.

Semua bentuk terorisme secara moral bisa dikatakan salah. Tapi tidak semua hal yang secara moral salah, dalam arti salah dengan derajat yang sama. Terorisme negara bisa dikatakan secara moral lebih buruk dibanding terorisme non negara. Ada tiga alasan yang mendukung argumen tersebut:

Pertama, Laquer mencatat bahwa aksi teror yang dilakukan oleh aparat keamanan dan pemerintah tiran, secara umum, telah memakan korban yang jumlahnya ribuan kali lebih banyak, dan menimpakan kepedihan yang lebih mengerikan dibanding seluruh teror yang pernah dilakukan oleh terorisme individual. Ketidakseimbangan ini bukan sekadar fakta statistik; ia merupakan buah dari sifat negara dan jumlah serta variasi sumber daya yang dimiliki oleh negara, meski negara kecil sekalipun. Tak peduli berapa banyak kelompok teroris non negara berusaha untuk memperkaya peralatannya dan meningkatkan organisasi, perencanaan, dan metode aksinya, mereka tidak akan banyak mengubah skor secara signifikan. Tidak ada pemberontak, betapa pun mereka didanai, terorganisir, diiringi dengan tekad yang kuat, dan berpengalaman dalam metode terorisme, bisa berharap untuk mendekati pembunuhan dan kerusakan yang pernah ditimbulkan oleh angkatan udara Inggris dan AS di kota-kota di Jerman dan Jepang pada Perang Dunia II, atau bisa mendekati kerusakan psikologis jutaan penghuni kamp Soviet dan Nazi.

Serangan 11 September tahu 2001 adalah aksi yang dilakukan oleh aktor non-negara. Jumlah korbannya dianggap belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dikarenakan media menyoroti serangan tersebut sebagai ‘kasus terorisme terburuk yang pernah ada’. Jumlah korban yang terbunuh waktu itu, diyakini sekitar 3.000 , terdengar cukup mengejutkan. Mantra ‘kasus terorisme terburuk’ yang pernah ada adalah contoh lain kecenderungan media untuk menyam akan terorisme sebagai aksi eksklusif yang hanya mungkin dilakukan oleh aktor non-negara saja. Jika kita membuang asumsi bahwa hanya pemberontak atau kelompok non-negara saja yang bisa melakukan terorisme, gambar keseluruhan akan berubah secara signifikan. Contoh, saat pasukan Sekutu melakukan teror bom terhadap Jerman. Pada malam tanggal 27 Juli 1943, Angkatan Udara Inggris menyerang Hamburg. Pada pagi harinya, saat serangan reda, 40.000 rakyat sipil tewas.

Kedua, terorisme negara cenderung diselubungi d engan kerahasiaan, tipu daya, dan kemunafikan. Ketika mereka terlibat dalam terorisme oleh agensi mereka sendiri maupun melalui proxy baik dilakukan negara akan melakukannya secara sembunyi-sembunyi, menolak segala keterlibatan, dan mendeklarasikan nilai-nilai mereka yang menolak adanya terorisme.

Atau, jika mereka memandang bahwa menyangkal keterlibatan justru akan kontra produktif, mereka akan menceritakannya dengan sudut pandang lain: bahwa mereka melakukannya sebagai tindakan yang diambil dalam rangka melindungi keamanan negara. Mereka akan dengan mudah melakukannya, tanpa banyak kesulitan, karena adanya kecenderungan penggunaan alibi-alibi di atas.

Ketiga, sebetulnya segala tindakan yang merupakan bentuk terorisme dilarang dalam berbagai deklarasi atau konvensi hak asasi manusia yang menjadi dasar hukum perang. Hukum tersebut memberikan imunitas kepada warga sipil dalam sebuah konflik bersenjata, dan karenanya melarang terorisme dari kedua belah pihak.

Terorisme pada waktu perang dilakukan oleh kelompok yang tidak dikenal oleh kedua belah pihak yang bertikai, sedang terorisme pada masa damai dilakukan oleh semua pihak. Semua bentuk terorisme sudah diatur dalam deklarasi hak asasi manusia.

Saat ini, mereka yang melakukan terorisme non-negara bukanlah pihak yang menandatangani deklarasi dan konvensi tersebut, seperti yang kita ketahui bahwa semua negara hari ini adalah pihak yang sepakat dan menandatangani sebagian besar, atau bahkan semua, deklarasi dan konvensi tersebut. Karenanya, ketika sebuah negara terlibat dalam terorisme, mereka melanggar komitmen mereka sendiri. Tuduhan ini tidak bisa diberlakukan terhadap mereka yang mengambil jalan terorisme non-negara.

Kesimpulannya adalah bahwa semua tindakan terorisme sebenarnya justru disponsori dan dilakukan oleh negara-negara yang telah menandatangani konvensi dan deklarasi Hak Asasi Manusia.

(jp)

 

%d blogger menyukai ini: