Sketsa News
Home Berita Terkini, News Menhan: ISIS Sudah Babak Belur di Suriah

Menhan: ISIS Sudah Babak Belur di Suriah

Menhan Ryamizard Ryacudu. ©2016 merdeka.com/andrian salam wiyono
Menhan Ryamizard Ryacudu. ©2016 merdeka.com/andrian salam wiyono

Sketsanews.com – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, aparat kepolisian masih mendalami aksi teror bom bunuh diri di Mapolres Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (5/7) kemarin, terkait jaringan Negara Islam Suriah (ISIS). Menurut dia, ISIS telah babak belur di Suriah dan berpencar untuk terus melakukan aksi teror salah satunya adalah ke Indonesia.

“Sama-sama semua intelejen menyelidik. Termasuk kita menyelidik,” katanya di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (6/7).

Ryamizard mengatakan, Filipina dan Indonesia merupakan negara singgahan ISIS dari Suriah. Oleh karena dugaan keterlibatan pelaku teror di Solo terkait ISIS atau tidak masih diselidiki kepolisian.

“ISIS sudah babak belur di Suriah. Ada yang balik ke Filipina, ke lain-lain, kita belum tahu. Ndak tahu ini yang mana kita belum tahu. Mudah mudahan sebentar lagi kita akan tahu. Polisi sudah menyelidiki itu. Semua badan intelejen arahnya ke sana termasuk kementerian pertahanan yah,” tutup Ryamizard.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Tito Karnavian mengatakan, pelaku bom di Solo tak lepas dari jaringan internasional. Bahkan, ia meyakini Nur Rohman yang melakukan bom bunuh diri di Mapolresta Solo, Selasa (5/7) pagi termotivasi oleh jaringan internasional termasuk gerakan Negara Islam Irak Suriah (ISIS).

“Sebenarnya kita sudah melakukan pemetaan jaringan ini. Sekarang ini, pelaku pemboman di Solo, ini bukan berdiri sendiri. Jadi adanya jaringan internasional, adanya ISIS menjadi daya tarik motivasi para kelompok ini untuk melakukan teror,” ujar Tito saat mendampingi Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti, dalam konferensi pers di Solo.

Tito mengatakan, untuk penyelesaian tersebut ada 3 level. Yakni tingkat lokal yakni dengan menetralisir paham paham radikal. Yang kedua, lanjut dia, memperkuat dasar hukum yang saat ini sedang digodok di kalangan dewan. Karena itu, pihaknya meminta pemerintah dan DPR mempercepat revisi UU Terorisme.

“Saya mohon kepada para anggota Dewan, pansus bisa memahami betul, bagaimana kelompok-kelompok ini sekarang lebih pintar menghindar dari jeratan hukum, mengelak dari deteksi petugas. Petugas memiliki keterbatasan dari UU Terorisme lama. Revisi UU betul-betul memperkuat penegak hukum. Jadi kita mohon supaya undang-undang ini jangan lama pengesahannya,” jelas Tito.

Kemudian langkah ketiga, lanjut Tito, diperlukan adanya kerja sama dengan pihak internasional untuk menetralisir paham radikalisme dari asing masuk ke Tanah Air. Dia menilai, konflik yang terjadi di Timur Tengah dan ISIS harus dilemahkan dan dinetralisir.

“Harus bisa dinetralisir, kalau konflik masih terus berlangsung, ISIS atau kelompok radikal masih ada, maka akan tumpah di negara lain yang ada jaringannya,” terang dia.

Para pelaku itu, lanjut dia, bisa saja melakukan aksinya saat bulan Ramadan, karena pahalanya akan lebih banyak. “Mungkin saja pelakunya berfikir, kalau bikin aksi saat Ramadan, pahalanya akan lebih banyak,” pungkas Tito.

(ab/merdeka)

%d blogger menyukai ini: