Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Mental Figur Pegawai dari Hasil Suap

Mental Figur Pegawai dari Hasil Suap

Sketsanews.com, Jakarta – Dewasa ini kita melihat fenomena yang sangat memalukan, namun ini benar-benar terjadi di negeri ini. Dan ini sesungguhnya telah melenceng dari tujuan kehidupan sosial masyarakat yang berketuhanan.

Fenomena yang dimaksudkan adalah gaya hidup dan ethos kerja yang rendah lagi hina dari para pejabat baik dari tingkat bawah atau tingkat atas. Baik pejabat dari tingkat desa atau kelurahan maupun tingkat nasional.

Mereka para pejabat memiliki mental jam karet, maksudnya adalah sering datang terlambat bahkan molor. Sebagai buktinya adalah mereka datang ke kantor melebihi jam masuk, kantor masuk jam 07.00 pegawainya baru datang jam 08.00. Belum saatnya istirahat, mereka sudah tidak ada di kantor. Mereka tidak menyadari bahwa ini adalah salah satu bentuk korupsi yang mereka lakukan.

Alangkah malunya sebagai seorang atasan ketika melakukan sidak didapatinya kantor kosong tidak ada pegawai satu pun. Sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Muaro Jambi.

Ini merupakan potret buram dunia kesehatan di Kabupaten Muaro Jambi, Pasalnya, masih jam kerja sebuah Puskesmas yang terletak di Penyengat Olak, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi itu sudah tertutup rapat bahkan tergembok.

Kondisi itu tak ayal membuat Bupati Muaro Jambo Hj Masnah Busro yang melakukan sidak ke lokasi naik pitam. “Ini pelayanan publik. Tidak ada satu pun petugas. Bagaimana mau melayani,” ujar bupati wanita pertama di Provinsi Jambi ini.

Contoh lainnya adalah bupati Subang Imas Aryumningsih dibuat marah saat melakukan inspkesi mendadak di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Jl. KS Tubun, Subang. Dia dibuat geram dengan disiplin anak buahnya itu.

Kemarahan Imas, dipicu minimnya pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang mengikuti Apel pagi. Dari 146 PNS yang ada, hanya 45 orang yang hadir pada Apel pagi.

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa mental pegawai negeri ini menjadi rendah dan hina. Jawaban karena tatanan birokrasi yang bobrok, kualitas pegawai yang tidak meningkat, revolusi mental yang tidak kunjung digalakkan secara massif, oknum gelap yang menyelinap dalam tubuh pegawai, nepotisme dalam perekrutan PNS, korupsi yang merajalela di tubuh pegawai, banyaknya jumlah pegawai yang tidak sepadan dengan kualitasnya dan hal buruk lainnya. Hasil dari semua itu satu: membuat Indonesia tak kunjung maju.

Selain itu adalah kurikulum pendidikan Indonesia yang berbasis pendidikan karakter sebetulnya tidak bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas. Namun target mereka adalah kuantitas artinya lembaga pendidikan itu akan bangga apabila bisa lulus 100% tanpa memperhatikan kualitas lulusan.

Dengan kondisi yang demikian maka jangan disalahkan jika para pejabat mentalnya bukan mental yang dimaksudkan tapi pejabat yang punya mental korupsi, baik korupsi waktu apalagi korupsi uang. Masalahnya, si penyusun kurikulum sendiri merupakan hasil dari KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme)

(jp)

%d blogger menyukai ini: