Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, Headlines, News Menteri Jonan Dicap Inlander atas Kebijakannya

Menteri Jonan Dicap Inlander atas Kebijakannya

Mentri ESDM Ignasius Jonan. Foto:Eksplorasi.id

Sketsanews.com, Jakarta – Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi kecewa dengan Kementerian ESDM yang ingin memperbesar porsi saham kepada kontraktor existing yakni Total E&P Indonesia dan Inpex Corporation dari 30 persen menjadi 39 persen pada Blok Mahakam setelah blok itu mengalami terminasi pada tahun 2018.

Untuk diingat, Menteri ESDM sebelumnya, Sudirman Said telah membatasi porsi kepemilikan saham kedua Kontraktor Asing tersebut maksimal 30 persen, pasca masa kontraknya berakhir.

Ironisnya ujar Fahmy, keinginan menteri ESDM saat ini, Ignasius Jonan, tidak hanya memperbesar kepemilikan saham hingga 39 persen, tetapi juga menawarkan kepada Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation untuk tetap mengelola Blok Mahakam sebagai operator.

“Alasan yang dikemukakan oleh Jonan adalah untuk menjamin tidak terjadi penurunan volume produksi pada saat dikelola oleh Pertamina. Alasan itu secara tersirat menunjukkan bahwa Jonan masih meragukan kemampuan Pertamina untuk mempertahankan volume produksi dalam mengoperasikan Blok Mahakam,” kata dia secara tertulis, di Jakarta Selasa (12/9).

Menurut Fahmy, secara teknis dan teknologi, kemampuan Pertamina dalam mengelola lapangan Migas di lepas pantai sebenarnya sudah tidak diragukan lagi. Selama ini Pertamina telah berhasil meningkatkan produksi di lapangan Migas Offshore North West Java, yang tingkat kompleksitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan Blok Mahakam.

Pertamina saat ini memiliki lebih dari 1.500 karyawan dengan pengalaman rata-rata 20 tahun di operasi Migas offshore. Selain itu, Pertamina masih dapat memperkerjakan mantan karyawan Total E&P Indonesie, yang 95 persen merupakan warga negara Indonesia.

“Karenanya, hanya orang yang memiliki Inlader Mentality, yang beranggapan bahwa pihak asing (Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation) selalu superior ketimbang pribumi (Pertamina), yang masih meragukan kemampuan Pertamina,” Tegas dia.

Selain itu tambah Fahmy, Pertamina sebenarnya juga sudah mewaspadai potensi penurunan produksi Blok Mahakam selama masa transisi. Untuk menjaga produksi gas tetap di atas 1 miliar kaki kubik (bcf), Pertamina akan meningkatkan jumlah sumur pengeboran dari 6 hingga mencapai 19 sumur.

Pertamina bahkan telah menyiapkan dana sebesar USD 180 juta atau sekitar Rp 2,34 triliun untuk membiayai pengeboran 19 sumur itu.

Sehingga harus dipahami memang di awal pengambilalihan oleh Pertamina, produksi berpotensi mengalami penurunan. Namun, dengan dioperasikan 19 sumur itu, produksi Gas akan kembali meningkat, yang diperkirakan bisa mencapai 1,6 bcf, pada tahun berikutnya.

“Tidak ada alasan bagi Menteri ESDM Ignasus Jonan untuk meragukan kemampuan Pertamina dalam mempertahankan volume produksi, pasca pengambil-alihan Blok Mahakam. Oleh karena itu, Menteri ESDM Ignasius Jonan harus membatalkan rencana pemberian 39 persen saham Blok Mahakam kepada Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation, cukup 30 persen,” tegas dia, seperti dikutip dari laman Aktual.

Dia khawatir pemberian saham 39 persen kepada total menjadi sebuah preseden yang mendorong Total E&P Indonesie dan Inpex Corporartion untuk melakukan berbagai manuver hingga dapat menguasai mayoritas saham blok Mahakam, seperti pada kontrak sebelumnya.

 

(Fya)

%d blogger menyukai ini: