Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hankam, News Menunggu KPK Membuka Jilid Demi Jilid Lembaran Korupsi e-KTP

Menunggu KPK Membuka Jilid Demi Jilid Lembaran Korupsi e-KTP

Foto: Tim Infografis/detikcom

Sketsanews.com, Jakarta – Pengusutan kasus dugaan korupsi pengadaan proyek e-KTP diprediksi akan memakan waktu cukup lama bila harus menguliti sampai habis para pihak yang terlibat. Bahkan, proses hukum nantinya disebut akan bertahap sedikit demi sedikit.

“Prediksi saya, kasus e-KTP ini tampaknya kalau yang disampaikan kemarin ada beberapa jilid. Ini merupakan jilid satu, jilid kedua, hasil pembuktian besok, kan saling membantah, itu pintu masuk untuk mencari bukti, menguatkan, itu merupakan pintu masuk ke jilid dua, saksi-saksi yang disebut kemarin itu bisa berpotensi menjadi tersangka menjadi jilid dua,” ujar guru besar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof Hibnu Nugroho, ketika berbincang, Senin (20/3/2017).

Menurut Hibnu, penyebutan banyak pihak dalam surat dakwaan itu merupakan strategi yang menarik. Pasalnya, nantinya pembuktian terkait hal itu berada di ranah pengadilan dan publik dapat melihat langsung.

“Rupanya KPK memberikan alur untuk pembiaran, biar di sidang itu kan akan banyak saksi mahkota. Di persidangan inilah yang nantinya akan konfrontasi, ini metode bagus, biar semua orang tahu, ini bagus,” ujar Hibnu.

Memang dalam proses penyidikan, para saksi yang dipanggil KPK tidak bisa terungkap ke publik secara gamblang lantaran pemeriksaan dilakukan di ruangan antara penyidik dan saksi. Namun di ruang pengadilan, kesaksian itu dapat dilihat langsung sehingga masyarakat bisa memantau seperti apa kesaksian orang-orang yang disebut KPK.

“Itu saya kira dalam ilmu hukum, langkah strategi bagus, ketimbang investigasi,” ujar Hibnu.

Dalam penanganan kasus itu, KPK memang mengumbar banyak nama-nama besar yang disebut menerima duit haram. Sejauh ini, baru ada 2 orang yang telah berstatus terdakwa yaitu Irman dan Sugiharto yang berasal dari Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri).

Seperti dikutip detikcom, mereka didakwa melakukan perbuatan korupsi ini bersama dengan pihak lainnya. Perbuatan mereka disebut merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun.

(Jp)

%d blogger menyukai ini: