Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Wawancara Menyambung Hidup Dari Secangkir Kopi

Menyambung Hidup Dari Secangkir Kopi

Pedagang Kaki Lima

Sketsanews.com, Lampung – Beragamnya pekerjaan atau usaha yang ada di lingkungan kita hampir kesemuanya berorintasi kepada pemenuhan keperluan hidup. Dari pedagang emperan sampai mol bertingkat.

Walaupun cuma padagang kaki lima jangan remehkan usaha ini. Belum tentu semua orang bisa menjalaninya. Untuk menjalaninya penuh tantangan dari pesaing para pedagang. Sebut saja Ibu Suhaianah dan Bapak Zahar. Pedagang di Pasar Sekampung – Lampung Timur. Mereka merasakan tersaingi oleh pedagang di kanan kirinya.

Berikut ini obrolan saya dengan mereka;

Saya: Maaf, dengan ibu dan bapak siapa ini ya?

Ibu: Suhaianah -+50 th bapak Zahar 78 th.

Saya: Bagaimana jualannya hari ini, rame?

Ibu: yaaa ada ajalah Alhamdulillah cuma kopi doang yang laku, kalau Es teh sudah tidak laku lagi banyak saingannya, di depan situ ada es dugan baru buka kemarin, disamping situ ada es bubur baru buka juga.

Saya: Biasanya sehari bisa mendapatkan uang berapa Bu?

Ibu: Tidak tentu jang, tidak lebih dari Rp.25.000. Kalau lagi sepi jangan di tanya.

Saya: Pada usia yang sudah sepuh seperti ini ibu pernah dapet bantuan dari pemerintah?

Ibu: Boro-boro jang, Ibu mah gak pernah dapet. Yang dapet malahan orang-orang kaya, punya mobil dan rumahnya mewah. Padahal rumah ibu sudah pada bocor, di dapur kayu-kayunya sudah minta di ganti soalnya kondisinya keropos semua. Cucu ibu juga di sekolahan nya gak pernah dapet bantuan padahal kita orang susah. Coba tolong ibu jang supaya dapet bantuan dari pemeritah.

Saya: Ya mudah-mudahan bisa Bu, Ibu sama sekali belum pernah dapet bantuan too?

Ibu: Dulu pernah dapet sekali tapi setelah di ganti kartu apa itu Ibu juga gak tau
Malah gak dapet lagi. Bantuin ibu ya jang, tolong di urusin.

Saya: iya, saya do’a kan, semoga mereka terketuk hatinya mau membantu Ibu. Terima kasih ya Bu sudah menemani saya ngobrol-ngobrol.

Dapat kita ambil kesimpulan dari obrolan diatas. Bahwa Ibu Suhaianah merasa belum diperhatikan oleh pemerintah. Kalaupun pertanyaanya “kenapa tidak melapor?”, nah itu, namanya juga rakyat kecil. Untuk beranjak dari tempatnya saja dia masih enggan. Minimnya jumlah penghasilan menyebabkan dia tidak bisa beraktifitas lain.

Seharusnya para aparat pemerintahan lebih tanggap dengan kondisi masyarakat yang menengah ke bawah. Itu satu contoh kondisi pedagang kali lima yang ada. Sangat mungkin sekali bahwa banyak Ibu SUhaianah yang lainnya di Indonesia ini yang masih butuh perhatian.
(As)

%d blogger menyukai ini: