Sketsa News
Home Berita Terkini, News Pangan Segera Masuk Pusat Logistik Berikat

Pangan Segera Masuk Pusat Logistik Berikat

Sketsanews.com – Pemerintah bakal membuka akses bagi komoditas pangan dan minuman beralkohol agar bisa masuk ke pusat logistik berikat. Pemberian akses diberikan untuk mempercepat stabilisasi harga pangan sekaligus memangkas penyelundupan.

PUSAT LOGISTIK BERIKAT
PUSAT LOGISTIK BERIKAT

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, dalam tahun ini, pihaknya bakal merampungkan aturan terkait pembukaan akses tersebut. Sembari membenahi aturan, fasilitas gudang pun bakal ditingkatkan.

“Saya harap tahun depan , tapi dari Kemenko bilang tahun depan terlalu lama karena itu menyangkut stabilisasi harga pangan. Jadi, tahun ini yang pasti peraturannya selesai, lalu implementasinya karena kita perlu menambah fasilitas tertentu untuk gudang,” ujar Enggar seusai menggelar dialog dengan pelaku usaha di Pusat Logistik Berikat (PLB) PT Gerbang Teknologi Cikarang, Bekasi, Jumat (23/9).

Menurutnya, prioritas utama keterbukaan akses akan diberikan untuk ko moditas pangan. Keistimewaan itu diberikan karena pemerintah tengah berfokus menstabilkan harga pangan yang cenderung fluktuatif.

Berikutnya, akses tersebut akan dibuka juga bagi minuman beralkohol. Pembukaan akses bagi minuman beralkohol dilandasi fakta tingginya penyelundupan produk tersebut. Penyebabnya, bea cukai yang tinggi.

“Jadi, kami pikir turunkan saja sehingga nanti volume nya akan basah. Apalagi di sini kan akan diawasi dan dikontrol. Kalau diselundupkan lewat laut akan lebih susah mengontrolnya,” ujar Enggar.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pihaknya mempersiapkan pembukaan akses bagi usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mengambil bahan baku impor dari PLB. Jika rampung, pelaku UKM dipastikan bisa mendapat bahan baku impor dari luar negeri secara ritel tanpa harus membeli dalam partai besar.

“Ini sedang kami proses . Selain untuk impor bahan baku, mereka juga bisa melakukan ekspor melalui PLB,” jelas Airlangga.

DORONG DAYA SAING

\Deputi Bidang Industri dan Perdagangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edy Putra Irawadi, menyatakan PLB sebagai im plementasi dari cetak biru Sistem Logistik Nasional mampu mendorong daya saing industri.

“PLB tujuannya fasilitas supaya inventory cost, transportation cost pindah ke negara kita. Kepentingannya agar harga barang akhir pangan industri lebih efisien,” kata Edy.

Selama ini, Indonesia sering menjadi korban tingginya biaya pro – duksi akibat kelangkaan barang. Ke beradaan PLB akan membantu penguasaan barang dan ketersediaan stok agar tidak terjadi kelangkaan.

“Tidak semua komoditas dihasilkan di negara kita, misalnya, kiwi, kapas, kedelai. Kalaupun ada ha nya kecil. Daripada kita dipermainkan spekulan, lebih baik kita masukkan saja ke PLB,” ungkapnya. Edy mencontohkan, selama ini dari komoditas timah, Indonesia ke – hi langan sekitar US$700 juta akibat aksi spekulan. Begitu pula dengan komoditas minuman beralkohol, pemerintah hanya mendapat pemasukan 20%, sisanya adalah penyelundupan.

Dia menyebutkan invisible payment terbesar saat ini adalah biaya logistik.

“Ini semua terjadi karena perniagaannya tidak terkontrol. Makanya perlu ada PLB,” tuturnya.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi menyatakan, 12 PLB yang diresmikan Maret lalu memberikan dampak positif bagi industri. Salah satunya penurunan angka waktu inap barang atau dwelling time khususnya bagi barang-barang PLB menurun jadi 1,03 hari.

“Sampai dengan terakhir, dwelling time untuk barang-barang masuk PLB hanya 1,03 hari. Sementara jika kita bandingkan dengan barang-ba -rang umum yang di Tanjung Priok masih 3,36 hari,” ungkap Heru.

Heru menyebutkan, prosedur pengalihan barang dari pelabuhan ke PLB sangat ketat. Pengawasan dilakukan secara bersama-sama antarinstansi sehingga PLB belum tentu menjadi arena penyelundupan barang.

“Ini programnya Bea dan Cukai sehingga kami mengundang seluruh stakeholders menjaga fasilitas kami. Harus ada sistem real time memantau antara PLB dan Bea dan Cukai,” tuturnya.

General Manager Commercials PT Cikarang Inland Port (Cikarang Dry Port/CDP) Imam Wahyudi menyatakan, prospek bisnis PLB yang kian positif mendorong perusahaannya menambah satu PLB lagi.

Bisnis mencatat, total logistik yang dikirim ke Cikarang, sekitar 60% impor. Dari total impor tersebut, sebanyak 30% berasal dari gudang negara Malaysia, sedangkan 10% dari para peritel domestik.

CDP optimistis gudang PLB kedua untuk komoditas kapas akan rampung akhir tahun ini.

“Gudang sekitar 30%—40% selesai ke rangka, mudah-mudahan akhir September atap dipasang. Ekspektasi akhir Desember rampung,” imbuhnya.

Adapun PLB kapas yang telah berjalan memiliki luas 11.960 m2 dengan kapasitas tampung hingga 1,25 juta ton kapas.

(Ro/Bs)

%d blogger menyukai ini: