Sketsa News
Home Berita, Internasional, News PBB Ingatkan Dampak Bencana Bagi Palestina Jika AS Setop Dana

PBB Ingatkan Dampak Bencana Bagi Palestina Jika AS Setop Dana

Liga Arab akan melobi PBB untuk mengakui negara Palestina dengan Yerusalem timur ibukotanya. Foto/Istimewa

Sketsanews.com, Washington – Sebuah badan PBB mengingatkan dampak bencana bagi para pengungsi Palestina, jika mereka kehilangan bantuan dana signifikan dari Amerika Serikat. Peringatan ini disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghentikan bantuan dana AS untuk Palestina.

“Dampak kemanusiaan dari hilangnya dana yang signifikan bisa menjadi bencana besar dalam kehidupan nyata orang-orang yang oleh mandat PBB harus dilindungi,” ujar Chris Gunness, juru bicara UN Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA), badan PBB yang menyalurkan bantuan untuk para pengungsi Palestina.

Hal itu disampaikan sepekan setelah Trump mengatakan, Washington mungkin akan menghentikan pembayaran dana bantuan untuk UNRWA atas apa yang disebutnya sebagai ketidaksediaan Palestina untuk membicarakan perdamaian dengan Israel.

Menurut situs resmi UNRWA, Amerika Serikat merupakan donatur terbesar badan PBB tersebut dengan janji bantuan hampir US$ 370 juta pada tahun 2016.

“Para pengungsi Palestina termasuk di antara orang-orang yang paling rentan di Timur Tengah. Layanan kesehatan kami menawarkan garis hidup, secara harfiah, bagi kaum wanita dan anak-anak yang rentan, orang sakit dan orang-orang lanjut usia,” imbuh Gunnes seperti dilansir mediaPress TV, dan dari detik, Sabtu (13/1/2018).

Didirikan pada rahun 1949, misi UNRWA adalah membantu para pengungsi Palestina. Badan PBB ini memberikan layanan pendidikan dan kesehatan di wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Sebelumnya pada Selasa (9/1) waktu setempat, Duta Besar Swedia untuk PBB, Olof Skoog, juga menyampaikan keprihatinan atas ancaman penghentian dana bantuan AS. Diingatkannya, langkah itu akan sangat buruk dalam hal kebutuhan kemanusiaan bagi lebih dari lima juta orang, juga akan mendestabilisasi kawasan Timur Tengah.