Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Pendidikan Era Jokowi dan Pembunuhan Karakter Terorganisir

Pendidikan Era Jokowi dan Pembunuhan Karakter Terorganisir

Sketsanews.com – Dunia pendidikan sedang gencar mengkampanyekan pendidikan karakter dalam rangka untuk membentuk kepribadian yang diharapkan dengan cara membiasakan diri yang kemudian menjadi sebuah perilaku.

Dalam waktu yang begitu lama untuk bisa membentuk karakter seseorang agar menjadi sebuah perilaku yang menjadi sebuah kebiasaan.

Namun sangat disayangkan karakter yang sudah terbentuk ini justru dikerdilkan bahkan dimatikan atau yang dikenal dengan Character Assassination.

Character assassination / Pembunuhan karakter adalah usaha-usaha untuk mencoreng reputasi seseorang. Tindakan ini dapat meliputi pernyataan yang melebih-lebihkan atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang tidak benar tentang orang yang dituju. Pembunuhan karakter merupakan suatu bentuk pencemaran nama baik dan dapat berupa argumen ad hominem.

Istilah ini sering digunakan pada peristiwa saat massa atau media massa melakukan pengadilan massa atau pengadilan media massa di mana seseorang diberitakan telah melakukan kejahatan atau pelanggaran norma sosial tanpa melakukan konfirmasi dan bersifat tendensius untuk memojokkan orang itu.

Pembunuhan karakter lazim sekali terjadi dalam dunia pilitik dan dunia kerja, dengan tujuan merubah karakter unik seseorang yang disukai menjadi tidak disukai, untuk penolakan seseorang yang seharusnya tidak ditolak, bahkan menghina sesutau yang seharusnya tidak boleh dihina.

Dengan membunuh satu karakter, secara otomatis membunuh karakter – karakter lainnya, bahkan bisa menyebabkan si-empunya karakter menderita lahir bathin, kelaparan, malu, tersiksa, rasa bersalah dan lain sebagainya.

Pembunuhan karakter dalam dunia politik disebabkan oleh persaingan yang ketat dengan tujuan untuk melemahkan kreatifitas seseorang atau sekelompok demi memenangkan persaingan tersebut, atau bisa juga karena adanya sentiment pribadi atau kelompok.

Dalam dunia politik pembunuhan karakter ini disebut dengan istilah “black campaign, yaitu kampanye negative dalam upaya menjatuhkan lawan melalui isu-isu negative, terkadang tidak benar atau cenderung fitnah.

Kondisi ini tidak saja menyangkut fitnah dan menyebarkan berita bohong tentang seseorang. Namun juga menyangkut pencitraan tentang seorang dari orang lain.

Karena pembunuhan karakter dilakukan dengan cara memfitnah dan memanipulasi data, maka faktor kebohongan memegang peranan yang sangat menentukan.

Semakin besar kebohongan itu, semakin dia meyakinkan, kata Joseph Goebbel, seorang menteri ahli propaganda pada rezim Nazi.

Dan seorang ahli strategi Italia bernama Niccolo Machiavelli menulis dalam bukunya “the ends justify the means” bahwa tujuan menghalalkan cara.

Pemikiran ini kemudian melahirkan istilah “Machiavellism” yang bermakna taktik yang licik. Dua prinsip inilah yang dianut pelaku pembunuhan karakter.

Beberapa contoh kasus pembunuhan karakter seseorang adalah kasusnya Muhammad Al Zahra atau yang dikenal dengan panggilan Zoya. Seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan taat beribadah tiba-tiba dituduh mencuri amplifier mushola.

Kalau kita mau jujur ini merupakan bentuk pembunuhan karakter seseorang, karena sedikit sekali bahkan dibilang jarang ada tukang rongsok ketika mendengar adzan langsung mampir ke masjid atau mushola untuk melaksanakan sholat.

Karakter seperti ini membutuhkan waktu yang lama, tiba-tiba difitnah. Anehnya selang beberapa hari ramai di facebook ada sebuah keluarga yang mampir ke masjid terus sholat dan diberitakan media melakukan pencurian di tempat mereka sholat.

Contoh kasus yang lain adalah kumpulan anak sekolah yang aktif sebagai rohis di sekolah nya mereka dituduh radikal sehingga perlu diwaspadai.

Dengan adanya kasus semacam itu akan menjadikan orang takut melakukan sesuatu yang baik karena khawatir akan bernasib sama.

Sumber masalah ini karena lemahnya hukum yang berlaku di negara ini, hukum yang ada hanya untuk orang-orang yang lemah “Tumpul di Atas Tajam di Bawah”

(Hr)

%d blogger menyukai ini: