Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Video Pengakuan Mengejutkan Eks-Cakrabirawa, Temui Soeharto sebelum Culik Para Jenderal

Pengakuan Mengejutkan Eks-Cakrabirawa, Temui Soeharto sebelum Culik Para Jenderal

Sketsanews,com, Jakarta – Sebuah video yang diunggah ke Youtube mendadak viral karena berisi pengakuan mantan Cakrabirawa yang terlibat dalam penculikan jenderal TNI AD.

Mereka mengungkap aksi yang dilakukannya ketika Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) meletus.

Meski begitu, mereka tak mau disebut sebagai komunis. Karena yang mereka lakukan hanyalah mematuhi apa yang diperintahkan oleh atasan.

Video dokumenter ini sebenarnya berjudul “Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!” dan dibuat oleh Gerilya Pak Dirman film dengan sutradara Ilman Nafai.

Film yang berisi sedikit tentang sejarah kelam Indonesia ini juga menyabet Predikat Film Terbaik dokumenter SMA FFP 2016 dalam Festival Film Pelajar Jogja 2016 dan Film Terbaik kategori Apresiasi Film Dokumenter Pelajar/Mahasiswa Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016.

Cuplikan film ini kemudian diunggah oleh kanal Sekilas kabar Viral di Youtube, Minggu (1/10/2017) lalu. Video ini pun mendadak viral dan telah ditonton lebih dari 200 ribu kali.

Pada cuplikan tersebut, terdapat tiga prajurit mantan Cakrabirawa Pasukan Pengawal Presiden Soekarno saat itu. Mereka adalah Sulemi, Iskak, dan Masruri. Ketiganya mengaku, saat itu doktrin Cakrabirawa menyatakan bahwa prajurit dilarang melawan perintah atasan. Apapun yang diperintahkan atasan harus dilakukan.

Sulemi kala itu mendapat perintah menjemput Jenderal A.H Nasution. Sebab, ada kabar bahwa pada 5 Oktober akan digelar pertemuan dewan jenderal untuk mengadakan kup pada Presiden Soekarno.

“Ya karena memang betul pada waktu itu ada informasi akan ada kup dari dewan jenderal ke pimpinan besar revolusi Bung Karno, sehingga perlu diadakan pencegahan,” tutur Sulemi, dilansir tribunnews.com.

Namun, ketika dijemput, A.H Nasution malah loncat dari jendela untuk melarikan diri. Oleh karena itu, para prajurit menganggap bahwa dia membangkang perintah presiden dan melepaskan tembakan.

“Berarti apa yang mau dilakukan Pak Nas itu menurut para pengertian para prajurit ya benar mereka membangkang perintah padahal Bung Karno itu panglima tertinggi,” lanjutnya.

Bahkan, soal penembakan anak A.H Nasution, Ade Irma Suryani, Sulemi mengaku bahwa itu adalah peluru nyasar.

“Penembakan pintu itu barangkali menurut perhitungan logika kita peluru ini nyasar anaknya. Jadi bukan semata-mata anaknya ditembak, itu gendeng apa,” tegasnya.

Sementara itu, Iskak mengaku bahwa ia dijemput Letkol Untung untuk menemui Soeharto. Dia diminta membawa dua senjata pistol ketika tiba-tiba dijemput dan dibawa kerumah sakit menemui Soeharto.

Kala itu, Soeharto berada di rumah sakit karena Tommy Soeharto tersiram sup panas dan dirawat. Mereka mendatangi Soeharto untuk melapor, tapi ternyata hanya didiamkan.

“Latif dan Untung laporan besok ada ini ini begini begini kudeta tapi pak Harto diam saja,” kata Iskak, seperti dikutip dari Suratkabar.

Setelah tugasnya selesai, Iskak mengaku baru tahu bahwa yang diculik adalah para jenderal TNI AD. Dia pun menuturkan bahwa dirinya yang mengomandoi supir truk untuk kembali ke Halim.

Sedangkan Masruri mengaku mendapat tugas menjemput Jenderal Suprapto.

Ketiganya mengaku bahwa hari itu mereka hanya menjalankan perintah atasan. Mereka pun tak tahu bahwa penculikan tersebut berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). (Wis)

%d blogger menyukai ini: