Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Tekno-Sains Pengamat: Single Mux Bentuk Monopoli dan Kapitalisasi Frekuensi

Pengamat: Single Mux Bentuk Monopoli dan Kapitalisasi Frekuensi

(Foto: Wikipedia)

Sketsanew.com, Jakarta  —  Pembahasan mengenai RUU Penyiaran masih menjadi perdebatan panjang antara pihak regulator dengan para penyelenggara televisi analog.

Salah satu poin yang disorot dalam revisi Undang-Undang Penyiaran ini antara lain adalah adanya perubahan yang nantinya akan menetapkan LPP Radio Televisi Republik Indonesia (RTRI) sebagai satu-satunya penyelenggara infrastruktur multipleksing digital atau dikenal juga dengan istilah single mux operator.

Hal tersebut, dianggap sebagai bentuk otorisasi dan kesewenang-wenangan pemerintah terhadap dunia penyiaran. Kamilov Sagala, Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII), mengatakan, hal ini tak akan menimbulkan pertumbuhan industri penyiaran.

Selain itu ia juga berpendapat, jika single mux menjadi pilihan terakhir maka masyarakat akan kehilangan keuntungan sebab tak lagi memiliki pilihan yang variatif. Malahan, kata Kamilov, ini bisa menjadi tindakan monopoli di dunia penyiaran.

“Itu jelas monopoli karena hanya ditangani oleh satu pihak yakni dari RTRI dan ini dikendalikan oleh pemerintah. Meskipun di sana terdapat badan penasihat tapi independensinya untuk kepentingan pemerintah. Padahal kita ini negara demokrasi tapi kesannya tidak demokratis,” tuturnya kepada Okezone, Jumat (13/10/2017).

Sementara itu soal target pemerintah untuk menaikkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), ia menilai bahwa itu hanya alasan belaka. Menurutnya frekuensi yang merupakan Sumber Daya Alam (SDA) terbatas bukan untuk pemerintah, melainkan hak masyarakat.

Oleh karena itu, ia meminta agar SDA tersebut diberikan kepada masyarakat melalui sistem hibrid agar masyarkat diberikan pilihan yang variatif dan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik pelaku industri maupun pemerintah.

Dengan menargetkan pada PNBP, dikhawatirkan akan terjadi kapitalisme pada dunia penyiaran dan digunakan sebagai penguatan kekuatan dan keuangan semata.

“Ujung-ujungnya ya kapitalisme dan monopoli. Sistem single mux ini dikhawatirkan cuma menjadi penguatan kekuatan dan keuangan saja. Bisa dikatakan ini juga merupakan bentuk abuse of power,” imbuh Kamilov.

Ia pun meminta pemerintah untuk mencontoh negara Jerman dan Malaysia yang sudah menjalankan single mux. Negara terdekat, Malaysia, saat ini masih belum berhasil melakukan perpindahan dari analog ke digital dengan single mux. Ia juga meminta pemerintah untuk memperhatikan Sumber Daya Manusia di industri penyiaran jika single mux diterapkan.

[As]

TAGS:

Sketsanewscom

SEDIKIT BANYAK TAU

%d blogger menyukai ini: