Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Peristiwa Perjuangan Warga Sunda Wiwitan di Kuningan Pertahankan Tanah Adat

Perjuangan Warga Sunda Wiwitan di Kuningan Pertahankan Tanah Adat

Perjuangan warga sunda wiwitan di Kuningan mempertahankan tanah adat. ©2017 Merdeka.com

Sketsanews.com, Kuningan  —  Pengadilan Negeri Kuningan gagal mengeksekusi tanah adat di Blok Mayasih, RT 29 RW 10 Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (24/8). Puluhan masyarakat adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan sepakat menolak. Mereka menggelar aksi, membuat barikade. Terlentang hingga membuat rantai manusia di akses masuk lahan.

Di petak kurang lebih 224 meter persegi ini berdiri rumah penyimpanan berbagai benda pusaka, yang dirawat keluarga Mimin Saimah dan Kusnadi (sudah meninggal dunia).

Warga Sunda Wiwitan Ira Indrawardhana yang juga anak dari Mimin Saimah menurutkan, banyak kejanggalan dalam proses eksekusi lahan. Salah satunya terkait status tanah dan tak diakuinya kesaksian sesepuh adat.

“Harapan ke depan eksekusi ini harus dicabut. meski secara hukum eksekui harus dijalankan. tetapi yang namanya hukum ada hal-hal yang tidak memenuhi rasa keadilan. Hukum zaman sekarang bisa dibeli, bisa ditekan,” kata Ira saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (25/8).

Kasus sengketa tanah adat Sunda Wiwitan ini sudah berlangsung lama, dan sudah beberapa kali disidangkan. Selaku penggugat adalah Djaka Rumantaka, pria yang mengaku sebagai ahli waris Ratu Siti Djenar Sriningpuri Alibassa, yang diklaim pemilik sah tanah tersebut.

Ira menceritakan, kesaksian pihaknya dari sesepuh adat Pangeran Djati Kusuma dalam persidangan tidak diakui sebagai bukti kuat. Hal ini lantaran terbentur aliran kepercayaan yang tidak diakui Negara.

“Sehingga tidak disumpah, sehingga kesaksian beliau tidak kuat. ini pelanggaran HAM,” tuturnya.

Warga Sunda Wiwitan tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan tanah adat. Salah satunya mencari dukungan dari sejumlah tokoh politik dan tokoh Sunda. Warga juga berencana melaporkan balik kubu penggugat karena sejumlah kejanggalan tersebut.

“Karena ini ada kejanggalan yang bermain di semua konteks hukum ini. Ini pertarungan antara hukum adat, negara dan agama,” tekan Ira.

[As]

%d blogger menyukai ini: