Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, Hukum, News, Peristiwa Pupusnya Mimpi-mimpi Sang Hafiz Dermawan

Pupusnya Mimpi-mimpi Sang Hafiz Dermawan

Sketsanews.com, Jakarta  – Impian pasutri Husni Zakarsih (58) dan Zakiah Husni (53) membangun masjid di kampung halamannya, Pekalongan, Jawa Tengah, kandas. Pengusaha garmen yang dikenal sebagai hafiz nan dermawan ini tewas di tangan anak buahnya gara-gara pesangon.

Husni dan Zakiah berencana membangun masjid di kampungnya sejak setahun lalu. Terlebih karena hanya ada musala terdekat dari permukiman kampung halaman mereka. “Rencananya, dia pulang pada hari Selasa ini untuk membangun masjid di gang sebelah,” cerita seorang kerabat Husni, Maskuri. Seperti dilansir Detikcom.

Masjid itu rencananya mereka bangun di wilayah Banyuripalit. “Dan hari ini (Selasa 12 September), rencananya mulai akan dilakukan pembangunan. Pak Kaji (Husni) akan bawa uang untuk membeli material,” ujar Maskuri.

Pelaku mengaku membunuh Husni dan Zakiah karena sakit hati pesangon mereka tidak dibayar.Pelaku mengaku membunuh Husni dan Zakiah karena sakit hati pesangon mereka tidak dibayar. Foto: Angling Adhitya Purbaya

Husni dipanggil dengan sebutan ‘Pak Kaji’, yang berarti ‘haji’ oleh kerabat dan masyarakat di kampungnya. Namun, mimpi Husni pupus. Niatnya memberi uang untuk membeli material pembangunan masjid tidak terwujud. Husni dan istrinya tidak kunjung datang hingga akhirnya jasad mereka ditemukan terbungkus bedcover di Sungai Klawing, Purbalingga, Jawa Tengah, pada Senin 12 September 2017.

Husni dan Zakiah dikenal sebagai pengusaha sukses. Kisah sukses Husni berawal dari keberaniannya mengubah haluan dengan keluar sebagai karyawan PT Krakatau Steel pada 1990 dan mencoba membangun usaha garmen di Jakarta bersama istrinya. Dengan kegigihannya, usaha konfeksi ini berkembang pesat. Husni, yang bergelar master bisnis internasional alummnus Universitas Indonesia (UI), merupakan pemilik merek dagang Alton Kids. Usaha garmen yang dirintisnya mulai maju pesat. Selain di Jakarta, Husni membuka usaha di Pekalongan dengan nama yang sama. Sekitar 2005, dia dan istrinya mulai melirik pasar luar negeri, mulai Asia, Amerika, Eropa, hingga Afrika.

Meski telah sukses, pasutri ini dikenal dermawan dan ramah. “Dia orang yang soleh, baik dan taat agama serta dia termasuk di Pekalongan orang yang sering berdonatur. Terakhir ke Posting sekitar 10 hari yang lalu untuk keperluan Idul Adha korban dua sapi,” kenang salah seorang keluarga korban bernama Sodikin (57).

Mendiang Husni dan Zakiah dikenal dermawan dan ramah.Mendiang Husni dan Zakiah dikenal dermawan dan ramah. Foto: Robby Bernardi

Tidak hanya di kampung halamannya, kebaikan Husni dan Zaskia dikenang tetangganya di Jakarta. “Dia keseharian baik sih, sering salat kalau bapaknya ya, sering salat ke masjid. Baik sih, ramah sama anak-anak. Nggak ada macam-macam, sih,” kata penghuni kos di rumah Husni dan Zakiah, Vika yang menghuni indekos milik Husni dan Zakiah sejak dua tahun itu saat ditemui di rumah korban, Jalan Pengairan No 21 RT 11/6, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Waktu magrib pada Minggu 10 September 2017 itu menjadi salat terakhir Husni dan Zakiah. Dari penuturan salah satu jemaah di Musala Al-Ma’ruf, Husni menjadi imam salat magrib tersebut. Di kehidupan sehari-harinya, Husni memang menjadi imam di salat subuh, magrib dan isya. Pada malam itu sosok Husni juga terlihat berbeda. Seolah menjadi pertanda dirinya akan segera ‘pergi’. “Iya, dia magrib masih jadi imam. Saya juga ada, saya pasti ikut karena yang azan kan saya,” ujar jemaah Musala Al-Ma’ruf, Satria di Jalan Pengairan, Kelurahan Benhil, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin 11 September 2017 malam.

“Nggak ada tanda-tanda sih (usai salat), cuma keliatan diam saja, biasanya kan senyam-senyum, nanyain kabar saya saja, biasanya ngobrol lama, cuma ini nggak, dia langsung pulang,” lanjutnya.

Satria yang juga merupakan pengurus di musala tersebut mengungkapkan, Husni sempat menitipkan pesan kepadanya. Pesan terakhirnya yakni agar musala tersebut dijaga dan dirawat dengan baik. “Pada saat saya sama beliau bersih-bersih (untuk yang terakhir kalinya), beliau berpesan ya supaya musala itu dijaga dan dirawat. Cuma pesan itu saja, saya nggak ngeh kalau ujungnya ada begini,” ungkap Satria lirih.

Kini, mimpi-mimpi Husni dan Zakiah telah terkubur bersama kepergian mereka untuk selama-lamanya. Jasad Husni dan Zakiah yang terbungkus bedcover ditemukan di ke Sungai Klawing, Purbalingga pada Senin (11/9).

Saat ditemukan, Husni masih mengenakan baju koko, peci putih dan sarung yang dipakainya saat salat magrib. Begitu pun dengan Zakiah yang mengenakan mukena berwarna ungu. Husni dan Zakiah telah dimakamkan di Pekalongan, Desa Kradenan, Kecamatan Pekalongan Selatan.

Usut punya usut, pasutri ini dibunuh olah anak buahnya Engkos Kuswara (33), Sutarto (46), dan Ahmad Zulkifli. Ketiga pelaku itu juga menggasak barang-barang berharga milik Husni dan Zakiah senilai Rp 1 miliar. Trio pembunuh itu akhirnya ditangkap polisi saat asyik foya-foya di sebuah hotel di Grobogan, Jawa Tengah. Mereka mengaku membunuh Husni dan Zakiah karena sakit hati pesangonnya tidak dibayar. Para pelaku pembunuhan ini terancam hukuman mati.
(Sh)

%d blogger menyukai ini: