Sketsa News
Home Berita Terkini, News Soal Vaksin Palsu, Bareskrim Dalami Keterlibatan Dua RS di Bandarlampung

Soal Vaksin Palsu, Bareskrim Dalami Keterlibatan Dua RS di Bandarlampung

Sketsanews.com – Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Agung Setya mengatakan pihaknya menemukan 12 rumah sakit yang diduga terindikasi terlibat dalam jaringan penyebaran vaksin palsu. Dua di antaranya disinyalir di Bandarlampung dengan inisial RS MP dan RS St.

1023196-vaksinasi-780x390-696x348

Hal ini, sambung Agung, berdasarkan hasil indentifikasi dan penelusuran yang dilakukan pihak kepolisian. “Kami sudah identifikasi ada 12 rumah sakit sedang kami dalami,” kata Agung di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Senin (10/7).

Agung menyebut, 12 RS itu tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Namun untuk nama-nama RS tersebut, Agung masih merahasiakannya. Sebab menurutnya, hal ini masih terus didalami.

“Karena kami memerlukan fakta yang riil dari proses penyebaran vaksin palsu seperti apa,” ucap dia. Dari informasi yang beredar di lapangan, dua rumah sakit diduga berada di Bandarlampung dengan inisial RS MP dan RS St.

Sebelumnya, total tersangka atas kasus vaksin palsu masih 18 tersangka. Mereka diantaranya adalah J yang memiliki apotek dan toko obat di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Pemilik apotek lain yang ditangkap adalah MF, dia punya apotek di Kramat Jati, Jakarta Timur. Kemudian T dan S yang berperan sebagai kurir.

Lalu ada HS, H, R, L, dan AP yang berperan sebagai produsen atau pembuat vaksin palsu di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Sedangkan AP biasanya menjalankan bisnis haramnya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Kemudian ada tiga distributor yang ditangkap di kawasan Subang, Jawa Barat. Selain itu, polisi juga menetapkan seorang tersangka yang berperan sebagai pencetak label.

Selain itu penyidik juga mengamankan sepasang pasutri dari wilayah Semarang, Jawa Tengah berinisial M dan T. Mereka berperan sebagai distributor penjualan vaksin palsu. Yang terakhir, polisi mengamankan seorang distributor berinisial R di kawasan Jakarta Timur pada Selasa 28 Juni 2016 lalu.

Yang terakhir, polisi mengamankan R seorang distributor dan seorang bidan Monagu Elly Novita di Ciracas, Jakarta Timur.

Seperti diketahui, inisial RS MP merujuk pada RS Ibu dan Anak Mutiara Putri. Namun sayang ketika wartawan radarlampung.co.id hendak mengonfirmasi untuk mengetahui kebenarannya, pihak RS MP bersikap tertutup. Tak hanya kepada media ini, namun juga ke beberapa jurnalis yang datang dengan niat sama.

Hal itu terjadi pada Senin (4/7). pihak RSIA Mutiara Puti melarang wartawan yang hendak meliput. Padahal penjelasan dari RS ini sangat diperlukan lantaran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 37 RS dan klinik diduga terindikasi memakai vaksin palsu. BPOM menyebut dua di antaranya di Bandarlampung dengan inisial MP dan St.

Wartawan radarlampung.co.id yang menemui Humas RSIA Mutiara Putri, Rugun, tegas menyatakan tidak boleh meliput atau mengambil foto RS itu. “Tadi kan saya sudah jelaskan, saya tidak bisa memberi keterangan dan tidak membolehkan untuk mengambil gambar,” tegas Rugun.

Larangan sama diterima Andres Afandi, wartawan MNC grup. “Sebelum saya ingin meliput, saya menemui bagian humas. Namun ia mengatakan tidak bisa memberikan keterangan karena tidak boleh Direktur RS,” bebernya.

Andres pun maklum karena kabar miring yang tengah menerpa RS itu. Karenanya ia bermaksud hanya mengambil gambar. “Humas mempersilahkan. Tapi sempat mengancam jika beritanya aneh-aneh akan mengadukan ke kuasa hukumnya,” jelas Andres.

Saat Andres mulai membidik, salah satu pegawai RS yang mengaku Kapala Perawat melarang. “Mas-mas saya tidak ijinkan ngambil gambar di sini. Kita punya kuasa hukum lho, kami bisa tuntut Mas’,” tiru Andres.

Meski sudah dijelaskan telah mendapat izin humas, kepala perawat tadi tetap melarang.
“Saya kesini datang baik-baik lho Mbak, tidak perlu berteriak seperti itu. Saya juga kan sudah nemui humas dan ia mengatakan untuk pengambilan gambar terserah saya,” tutur Andres.

Tak lama berselang, wartawan dari jejamo juga datang. Namun ia malah “dilempar” kesana-sini. “Awalnya saya menemui salah satu pegawai bagian pendaftaran dan mengatakan ingin menemui Humas. Bagian pendaftaran meminta saya menunggu,” papar Andi, jurnalis itu.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, tidak juga ada tanggapan dari pihak humas. Padahal, bagian humas ada di ruangan Apoteker yang berhadapan dengan bagian pendaftaran. “Saya merasa dipermainkan dan tidak dianggap,” tegas Andi.(Ro/Radarlampung)

%d blogger menyukai ini: