Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Stok Darah di PMI Bengkulu Tercemar Virus HIV

Stok Darah di PMI Bengkulu Tercemar Virus HIV

Unit Donor Darah PMI Kota Bengkulu

Sketsanews.com, Bengkulu – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bengkulu menemukan 169 kantong darah yang tercemar atau terinfeksi, virus HIV, Hepatitis B, Hepatitis C dan Sifilis.

Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Bengkulu, dr. Annelin, mengatakan, dalam stok darah selama selama tahun 2016, terdapat 149 kantong darah yang terinfeksi, terdiri dari Hepatitis B 48 kantong, hepatitis C 52 kantong, sifilis sebanyak 47 kantong dan HIV 2 kantong darah, sementara di awal tahun 2017 ini ditemukan sebanyak 20 kantong darah yang terinnfeksi.

“Pemeriksaan HIV, hepatitis B, hepatitis C dan sifilis merupakan prosedur wajib yang dilakukan di PMI terhadap semua kantong darah yang diterima dari pendonor,” kata Annelin, hari ini.

Annelin menjelaskan, hampir semua pendonor yang darahnya diketahui mengandung virus HIV, Hepatitis B, C, serta Sifilis, tidak menunjukkan gejala penyakit. Para pendonor umunya merasa sehat-sehat dan tidak mengetahui, bahwa didalam darahnya terdapat penyakit. “Penemuan kantong darah yang terinfeksi HIV dan infeksi lainnya itu rutin didapatkan,” ujar dia.

Menindaklanjuti temuan itu, kata Annelin, UTD PMI selanjutnya bekerjasama dengan klinik Volunteer Conseling Test (VCT) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu, untuk melakukan pemeriksaan ulang sampai dengan pengobatan. Sementara untuk pendonor yang terinfeksi hepatitis B, hepatitis C dan sifilis, terang dia, dilakukan pemberitahuan via telepon atau surat, kemudian dirujuk ke Spesialis penyakit dalam.

“Semua pendonor yang positif terinfeksi, dicekal untuk donor darah. Kecuali bisa menunjukkan hasil pemeriksaan negatif di kemudian hari,” tegas Annelin.

Dikuti dari Rimanews, Sistem pencekalan donor reaktif, jelas Annelin, melalui sistem informasi donor darah yang berlaku secara nasional. Sebab dengan menerapkan sistem ini, tegas dia, pendonor yang berniat mendonorkan darah, akan ditolak oleh warning system yang sudah dibangun oleh PMI Pusat.

“Itu diketahui melalui kartu atau nomor ID pendonor yang terinfeksi,” tutup Annelin.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: