Sketsa News
Home Berita Terkini, Internasional, News Suu Kyi Kritik Menyebarnya Foto Foto Hoax Tragedi Rohingya

Suu Kyi Kritik Menyebarnya Foto Foto Hoax Tragedi Rohingya

Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Sketsanews.com, Rakhine – Konselor Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, dalam komentar pertamanya soal Rohingya mengkritik terjadinya penyebaran informasi yang keliru. Ia menyebut penyebaran itu sebagai “sebuah gunung es besar dari informasi yang keliru”

Komentar Suu Kyi soal Rohingya disampaikan saat ia berbicara melalui telpon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

“Kami tahu persis, lebih tahu banyak, apa artinya dicabut hak asasi manusia dan perlindungan demokrasi. Jadi kami harus memastikan, bahwa semua orang di negara ini berhak dilindungi hak-haknya. Bukan hanya hak-hak politik, tapi juga hak sosial dan perlindungan kemanusiaan,” ujarnya seperti dikutip dari Viva.co.id, 6 September 2017.

Melalui pernyataannya kepada Erdogan, Suu Kyi juga menyayangkan banyaknya foto palsu alias hoaks yang beredar luas. “Sederhana, penyebaran foto palsu itu anya merupakan puncak gunung es besar dari kesalahan informasi yang bisa dihitung, untuk menciptakan banyak masalah di antara komunitas yang berbeda dan dengan tujuan untuk mempromosikan kepentingan para teroris,” ujar Suu Kyi menambahkan.

Pekan lalu, Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Simsek bermaksud menggugah perhatian dunia atas tragedi di Rakhine. Melalui akun Twitternya ia mengunggah empat foto dan menyebut foto-foto itu sebagai korban tragedi Rohingya. Setelah banyak warganet yang membongkar asal usul foto, yang ternyata bukan berasal dari konflik Rakhine, Mehmet Simsek menghapus postingan itu. Di Indonesia, kasus yang sama juga dilakukan oleh mantan Menkominfo Tifatul Sembiring. Tifatul meminta maaf setelah warganet memprotes foto palsu tragedi Rohingya.

Sejak pecah konflik pada 25 Agustus 2017, sudah lebih dari 123.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Rohingya adalah etnis minoritas tanpa kewarganegaraan di Rakhine. Etnis ini terus mengalami kekerasan dan penganiayaan di Myanmar. Suu Kyi, yang menerima penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1991 terus mendapat kritik dan kecaman keras karena memilih diam atas penindasan brutal yang terjadi di depan matanya.

Warga Rohingya yang berhasil mencapai Bangladesh menggambarkan, militer dan warga Budha di Rakhine menyerang desa mereka, dan membunuh warga sipil untuk membuat mereka meninggalkan wilayah tempat tinggalnya. Tapi militer Myanmer mengatakan, mereka berperang melawan militan Rohingya yang menyerang warga sipil.

(Eni)

%d blogger menyukai ini: