Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, News Tak Dilirik Pemerintah, Kopi Gunung Sumbing Dirangkul Australia

Tak Dilirik Pemerintah, Kopi Gunung Sumbing Dirangkul Australia

Gunung Sumbing di Jawa Tengah tempat Produk kopi lokal jenis arabika yang dibudidayakan menggunakan konsep kebun mikrolot. Salahsatunya produk kopi yang dikelola oleh Sigit Prasetya yang menamai produk kopinya dengan merek dagang Kelompok Tani Kopi Hujan Mas.. Foto: myforesthouse.blogspot.com

Sketsanews.com, Jakarta – Kelompok Tani Kopi Hujan Mas, begitu Sigit Prasetya menamai produk kopi Gunung Sumbing, Jawa Tengah yang dikelolanya.

Produk kopi lokal jenis arabika yang dibudidayakan menggunakan konsep kebun mikrolot itu, turut serta meramaikan ajang Jakarta Coffee Week pada akhir pekan lalu.

Metode kebun mikrolot adalah sistem berkebun dengan luasan lahan yang kecil sehingga kuantitas produksi tidak besar. Dimana dalam proses pascapanen, Sigit lebih berfokus untuk menghasilkan buah kopi yang berkualitas agar memenuhi syarat ekspor Internasional.

“Yang kita bawa kesini produk full wash, natural sama semi wash… Full wash ini jagoannya. Yang sering dicari orang,” ujarnya.

Lebih mengutamakan kualitas dari pada kuantitas produk, membuat kopi Hujan Mas masuk di daftar 20 besar kopi Indonesia yang terstandarisasi oleh Speciality Coffee Association of America (SCAA) di Atlanta pada tahun lalu.

Untuk pemasaran, lelaki asal Karanganyar, Kebumen itu menuturkan, produk kopi Kelompok Tani Hujan Mas sudah tiga tahun terkahir di ekspor ke pasar Australia. Dan baru-baru ini mulai menembus pasar Amerika.

“Kopinya dijual di Jakarta, di Tanah Merah, ke Bali juga ada. Terus Australia, sekarang Amerika juga” katanya.

Disinggung mengenai jumlah produksi dalam setahun, Sigit mengatakan besarannya fluktuatif karena dalam memanen buah kopi sangat dipengaruhi oleh faktor alam yang kerap tidak terprediksi. Namun begitu dalam sekali pengiriman biji kopi green bean berkisar diangka 5 ton.

Terkait jumlah petani yang tergabung dalam Kelompoknya, Sigit mengatakan, saat ini setidaknya terdapat 50an orang yang terlibat dalam Kelompok Tani Hujan Mas.

Selanjutnya, menurut lelaki paruh baya itu, sejauh ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah yang diberikan kepada petani kopi di daerahnya. Kendati demikian, pihaknya sering sekali dibantu oleh perusahaan asing asal Australia, terlebih dalam proses mengekspor kopi.

“Ada perusahaan milik Australia ke kebun, mereka sering bantu-bantu kalau ekspor, seperti tahun lalu mereka juga kasih pembinaan disini,” tukas Sigit, seperti dikutip dari laman Akurat.

Pada kesempatan itu dirinya juga berharap, perkebunan kopi di gunung sumbing bisa terus berkembang, dan generasi muda tidak perlu merasa malu untuk menjadi petani kopi. Sebab hanya dengan adanya regenerasi, produk kopi asli Jawa tengah tersebut bisa terus dilestarikan.

 

(Fya)

%d blogger menyukai ini: