Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Tekno-Sains Tak Ingin Sembarang Blokir, Kominfo Panggil Google Cs

Tak Ingin Sembarang Blokir, Kominfo Panggil Google Cs

Dirjen Aptika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan (Foto: CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina)
Sketsanews.com, Jakarta   —  Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan akan segera memanggil kembali perwakilan penyelenggara Over The Top (OTT) yakni Google, Facebook, Twitter dan lainnya.

Maksud Kominfo kembali mengumpulkan mereka adalah untuk menyatukan suara dan meminta komitmen ulang. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi pemblokiran di masa depan seperti yang baru-baru ini dialami oleh layanan chat asal Rusia, Telegram.

“Iya dipanggil minggu depan. Sama yang mau dibicarakan, meminta mereka lebih proaktif,” kata Semuel kepada awak media, Senin (17/7).

Lebih lanjut, Semuel mengatakan pemerintah menghargai sistem yang dimiliki masing-masing OTT dalam menangani konten negatif. Namun, perlu adanya komunikasi untuk mensinkronkan sistem tersebut sesuai dengan peraturan di Indonesia.

“Kalau nggak Kamis ya Jumat ini saya inginnya. Mereka semua ada di sini, kita undang aja mereka pasti datang. Kita sebenarnya juga menghargai apa yang dimiliki para penyelenggara itu mereka punya yang namanya komunikasi standarnya. Nah ini perlu kita sinkronkan dengan peraturan di Indonesia,” pria berkacamata itu menerangkan.

Selain itu, Semuel juga mengatakan bahwa Indonesia tidak menganut sistem backdoor yang digunakan oleh negara lain seperti Amerika misalnya. Dalam setiap penutupan situs berkonten negatif, Kominfo melaksanakan pengawasan hingga pemblokiran jika mendapatkan pengajuan dari lembaga terkait atau masyarakat, dikutip dari kantor Cnn.
“Indonesia tidak pernah menganut itu [akses backdoor] karena memang lebih ke kasus. Kita hanya minta begini, ‘hey ini ada temuan tolong ini diawasi. Kita perlu data orang ini, kejahatannya ini,” ujar pria yang kerap disapa Semmy ini.
Sekadar informasi, akses backdoor biasanya digunakan oleh badan intelijen untuk mengawasi percakapan mencurigakan oleh pelaku kasus terorisme, narkoba, pornografi, penculikan anak dan lain sebagainya. Di sisi lain, Semuel menegaskan bahwa sistem di Indonesia tidak akan memantau masyarakat biasa.
“Sekali lagi kita hanya memantau orang-orang yang ada niat jahat terhadap bangsa dan negara ini. Kita melindungi masalah privacy. Kita sudah punya peraturannya, Permen data pribadi yang sekarang akan diangkat menjadi undang-undang… Setiap orang yang punya niat baik kita akan lindungi malah kita beri kebebasan untuk berkarya,” ungkap dia.
[As]
%d blogger menyukai ini: