Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Hankam, Headlines, News Teror Lagi ……………….

Teror Lagi ……………….

Anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror menggiring dua dari enam terduga kasus teroris saat akan dipindahkan, di Markas Detasemen B Pelopor Satuan Brimob Polda Jatim, Ampeldento, Malang, Jawa Timur, Minggu (21/2). Enam orang terduga teroris yang disinyalir terlibat bom Thamrin, Jakarta, ditangkap dalam penyergapan di salah satu rumah di kawasan Karangploso – Malang. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/kye/16.

Sketsanews.com – Densus 88 kembali melancarkan aksinya melakukan penggerebekan para terduka teroris di Cilegon Banten, Kamis, 23/3/2017. Penangkapan ini dilakukan secara marathon mulai dari Cilegon sampai wilayah Tangerang Selatan.

Aksi penangkapan para terduga teroris berawal dari penangkapan Mulyadi, ini didasarkan pada waktu kejadian. Tim berlambang kepala burung hantu menangkap Mulyadi di jalan Raya Labuan Cisata tepatnya di depan Man Kenanga kecamatan Cisata, Kamis 23 Maret 2017 sekira jam 08.28. Wib. Terduga teroris Mulyadi ketika itu sedang mengendarai sepeda motor Yamaha warna Hitam MIO Z.2499. MF.

Kemudian sekitar pukul 12.00, densus 88 mengamankan empat terduga teroris di Cilegon, Banten, satu orang bernama Nanang Kosim tewas saat terlibat baku tembak. Keempat terduga teroris ini awalnya berangkat dari arah Anyer menggunakan dua mobil Avanza. Dalam satu mobil, masing-masing berisi dua orang.

Selain di wilayah Banten, tim Densus 88 Anti Teror Polri juga melakukan penangkapan di wilayah Kabupaten Bekasi, dan Tangerang Selatan. Alhasil, total terduga teroris yang ditangkap sebanyak delapan orang di mana satu orang di antaranya meninggal dunia.

Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan, penangkapan pertama dilakukan di Jalan Pesanggrahan Desa Tanjung Baru, Kecamatan Cikarang Timur Kabupaten Bekasi sekira pukul 05.00 WIB dini hari. Adapun identitas yang ditangkap adalah Suryadi Mas’ud alias Abu Ridho (45).

“Keterlibatan yang bersangkutan mengetahui dan membangun jaringan kelompok teror Indonesia dengan Filipina Selatan. Dia mengetahui dan mendanai terjadinya bom Thamrin Jakarta Pusat Januari 2016 lalu,” kata Boy melalui keterangan tertulisnya, Kamis (23/3/2017).

Suryadi berhasil ditangkap di Hotel Lafa Park Family Adventure Jalan Kampung Pesanggrahan, Desa Tanjung Baru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi.

Demikian kronologi penangkapan para terduga teroris. Yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan isu terorisme ini akan berakhir? Ataukah ini memang sudah menjadi proyek besar bagi bangsa Indonesia, dengan sering muncul berita terorisme mulai penggerebekan sampai isu terror bom, dunia internasional akan menjustifikasi bahwa Indonesia adalah Negara tempat bersarangnya para pelaku terorisme, sehingga akan dengan mudahnya dana akan mengalir.

Dalam waktu sebulan ini, kalau kita mau perhatikan sejak dari awal bulan Maret 2017 sampai menjelang berakhirnya bulan ini masih disuguhi dengan berita terorisme.

Sebelum datangnya raja Salman bin Abdul Azis ke Indonesia, sudah diawali dengan kasus bom panci di Cicendo yang kemudian disusul dengan aksi penangkapan terhadap orang-orang yang diduga terlibat dalam aksi bom panci tersebut.

Pertanyaan kedua, apakah ini bukan sebuah rekayasa politik dalam rangka pengalihan isu.

Masyarakat kita hari ini sudah tidak lagi berkutat pada kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, tapi mereka justru disibukan dengan berita kasus penculikan anak meskipun banyak pihak menyatakan berita penculikan adalah HOAX.

Mari kita belajar dari seorang penulis buku “Otak dan Perilaku”, Fikri Suadu yang sekaligus sebagai dosen Neuroscience di Indonesia Brain Research Surya University.

Dalam kasus penculikan anak dia mengatakan, bisa jadi isu penculikan anak ini memang segaja dihembuskan untuk menimbulkan kepanikan massal di masyarakat. Dia juga menambahkan kasus ini terkesan musiman artinya kasus ini pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Ia mengamati kehebohan penculikan muncul bersamaan hampir di setiap daerah, menghebohkan dan meresahkan jutaan rakyat Indonesia. Tujuannya menciptakan semacam kepanikan dan teror.

“Anehnya tak ada satu pun pelaku penculikan anak yang berhasil ditangkap. Kalaupun ada berita penculikan, judul beritanya agak menggelikan mulai dari pelaku bisa menghilanglah, berhasil kaburlah, dan lain sebagainya,” jelas Fikri.

Logikanya, lanjut Fikri, di saat muncul kecemasan pasti kewaspadaan meningkat. Orang semakin hati-hati berjaga. Ini berarti seharusnya ada komplotan penculik yang berhasil ditangkap. Ia curiga semacam ada “setting media” yang secara sengaja memberitakan kehebohan penculikan anak. Karena jumlah anak yang diculik hingga saat ini tidak terkonfirmasi sama sekali.

Kita fokus pada permasalahan yakni tentang terorisme, kalau mau mengambil pelajaran dari kasus diatas ada kesamaan antara kasus penculikan anak dan kasus terorisme. Letak kesamaannya pada waktu kejadian peristiwa tersebut yakni terkesan musiman.

Selain itu kasus terorisme seperti ada settingan, kalau akan ada peristiwa besar dan momumental, kasus ini dimunculkan dan dimainkan karena kasus ini memang masih laku untuk dijual. Apalagi ini mendekati pilkada DKI putaran kedua sehingga masyarakat tidak lagi berpikir tentang siapa yang bakal jadi gubernur DKI.

(Jp)

%d blogger menyukai ini: