Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Tekno-Sains Tiga Aplikasi Jagoan FPI Pengganti WhatsApp, Facebook, dan Google

Tiga Aplikasi Jagoan FPI Pengganti WhatsApp, Facebook, dan Google

Greevv. Foto: Internet

Sketsanews.com, Jakarta – Gaung penggunaan aplikasi layanan lokal kembali menggema, seiring dengan ancaman Front Pembela Islam (FPI) yang berencana memboikot layanan Google, Facebook, dan WhatsApp. Terlebih dengan seringnya akun mereka diblokir di Facebook.

Geevv, RedaksiTimes (RTimes), dan Callind menjadi aplikasi lokal yang diserukan oleh FPI. Layanan-layanan tersebut dinilai FPI layak menggantikan Google, Facebook, dan WhatsApp. Penasaran, detikINET pun melakukan penelusuran mengenai ketiga aplikasi yang dimaksud.

Geevv

“Geevv adalah search engine berbasis sosial yang bertujuan untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat dunia,” begitu dikutip berdasarkan yang tertulis di platform Geevv, Jumat (29/12/2017).

Perbedaan Geevv dengan Google, yaitu Geevv menyatakan komitmen bahwa perusahaannya akan mendonasikan 80% pendapatan iklan untuk program sosial dan 20% untuk meningkatkan kualitas layanan dan situs Geevv.

Berdasarkan pengalaman detikINET, setiap satu pencarian yang dilakukan melalui Geevv, pengguna menghasilkan paling kecil Rp10 sampai Rp30 di saldo donasi yang tertera di atas paling kanan.

Angka donasi tersebut akan berlipat ganda seiring aktifnya melakukan pencarian di Geevv. Geev melakukan transparansi mengenai alur donasi tersebut dengan menghimpun data-datanya pada laporan bulanan.

Secara tampilannya, Geev terlihat enak dipandang dengan wujud ala-ala startup. Terpajang logo Geevv di tengah-tengah yang masih hadir dalam versi beta. Dibawahnya ada kotak untuk mengetik kata kunci untuk pencarian serta informasi jumlah donasi yang telah terkumpul.

Usai melakukan pencarian, tampilan berubah di mana wujudnya mengingatkan kita akan halaman yang tidak jauh berbeda dengan Google.

Foto: Internet

RTimes

RTimes disebut sebagai sebagai media sosial buah karya anak bangsa yang mengusung open source. Di platform ini dikenakan secara cuma-cuma bagi yang ingin mendaftar sebagai penggunanya. Sayangnya untuk mengakses RTimes, pengguna harus bersabar karena tidak terlalu gesit untuk membuka layanannya.

Seperti media sosial pada umumnya, RTimes juga memungkinkan pengguna dapat berinteraksi satu sama lain sesama ‘warga RTimes’ sampai mengunggah foto dan video.

Meski menampilkan halaman yang serupa Facebook, di mana itu ada kotak untuk update status hingga warna paduan biru, abu, dan putih, secara keseluruhan RTimes hadir lebih sederhana. Namun, jangan terkejut apabila ada penghuni baru RTimes, maka terotomatis ada akun lain yang muncul di beranda.

Foto: Internet

Callind

Novi Wahyuningsih, seorang gadis asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah merupakan perancang aplikasi pesan instan bernama Callind. Layanan yang ditawarkan dikatakan akan menyaingi peta persaingan pesan instan yang sudah ada saat ini, seperti WhatsApp dan BBM.

Kepada detikcom, ia menceritakan awal mula memiliki ide hingga sekarang menjadi Direktur Utama di sejumlah perusahaan IT (Teknologi Informasi) yang didirikannya. Sebut saja PT Wahyu Global Abadi, PT Rise Solution International, dan PT Callind Network International.

“Dulu saya kuliah di UGM mengambil jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, lulus tahun 2011. Saat kuliah saya juga nyambi sebagai penjaga warnet. Dari situ saya mulai belajar bikin blog dan website. Sebelum muncul ide pembuatan Callind malah saya dulu pengennya buat aplikasi medsos seperti Facebook namun belum kesampaian,” kata Novi

“Meski kurang sreg, tapi jujur saya pertama kali belajar bisnis dari dunia MLM itu. Saya yang tadinya pendiam dan hanya fokus belajar biar jadi anak cerdas di kampus akhirnya mulai belajar leadership dan marketing,” imbuh Novi.

Callind yang merupakan singkatan dari Calling Indonesia merupakan aplikasi yang mirip dengan WhatsApp dan BBM yang memungkinkan kita melakukan chat privat, broadcast message, kirim foto, telepon, hingga video call.

Callind yang diklaim oleh Novi sebagai aplikasi chatting buatan asli Indonesia ini rencananya baru akan resmi diluncurkan pada bulan Februari 2018 nanti di Jakarta. Ia pun berharap, Callind bisa diterima oleh masyarakat Indonesia, jadi raja di negara sendiri dan juga diterima dunia. (Wis)

%d blogger menyukai ini: