Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Internasional, News Trump Sebut Presiden Venezuela ‘Pemimpin Buruk Mimpi Jadi Diktator’

Trump Sebut Presiden Venezuela ‘Pemimpin Buruk Mimpi Jadi Diktator’

Nicolas Maduro (REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)

Sketsanews.com, Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ikut mengomentari gejolak politik yang sedang melanda Venezuela, negara tetangganya. Trump menyebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai ‘pemimpin buruk yang bermimpi menjadi diktator’.

Dalam pernyataannya, Trump memuji referendum tak resmi yang digelar oposisi Venezuela pada Minggu (16/7) waktu setempat. Nyaris 7,2 juta warga Venezuela ikut memilih dalam referendum untuk menentang Maduro itu.

Hasil referendum itu menunjukkan lebih dari sepertiga warga Venezuela menolak rencana Maduro untuk membentuk Dewan Konstituen yang akan menyusun ulang Konstitusi negara itu. Dewan Konstituen akan dipilih dalam pemilu yang digelar 30 Juli mendatang.

“Kemarin, rakyat Venezuela kembali memperjelas bahwa mereka berjuang untuk demokrasi, kebebasan dan penegakan hukum,” tegas Trump dalam pernyataannya.

“Namun aksi berani dan tegas mereka terus diabaikan oleh si pemimpin buruk yang bermimpi menjadi diktator,” imbuh Trump merujuk pada Presiden Maduro.

Dalam pernyataan terpisah, Departemen Luar Negeri AS juga memuji referendum tak resmi yang digelar oposisi Venezuela pada Minggu (16/7) waktu setempat. Deplu AS bahkan menyerukan dunia mendorong Presiden Maduro menunda rencana pembentukan Dewan Konstitusi itu.

“Mendorong pemerintah di seluruh belahan bumi ini dan di seluruh dunia untuk menyerukan kepada Presiden Maduro agar menangguhkan proses ini yang hanya akan membahayakan demokrasi di Venezuela,” demikian pernyataan Deplu AS.

Referendum tak resmi yang digelar oposisi Venezuela dianggap ilegal oleh pemerintahan Presiden Maduro. Kepala Dewan Pemilu Nasional Venezuela juga memperingatkan kelompok oposisi bahwa hasil referendum ini tidak akan memiliki konsekuensi hukum.

Namun bagi warga, ikut serta dalam referendum ini menjadi cara bagi mereka untuk ‘memberitahu’ Maduro agar lengser dari jabatannya. Diumumkan oleh Presiden Central University of Venezuela, Cecilia Garcia Arocha, sebagai penjamin referendum ini bahwa 6.492.381 warga memilih di wilayah Venezuela dan 693.789 warga lainnya memilih di luar negeri.

Dikutip dari laman Detikcom, referendum ini digelar setelah berbulan-bulan unjuk rasa mematikan digelar rakyat Venezuela untuk melawan Presiden Maduro. Nyaris 100 orang tewas dalam unjuk rasa yang berlangsung sejak April lalu. Warga secara terang-terangnya memprotes kekurangan pangan, kekurangan obat-obatan, inflasi melejit dan pengangguran merajalela di Venezuela.

(Fya)

%d blogger menyukai ini: