Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Viral Foto Tidur di Rumah Sakit, Ini Kata Ganjar Pranowo

Viral Foto Tidur di Rumah Sakit, Ini Kata Ganjar Pranowo

Ganjar Pranowo menyambut jenazah ayahnya S Parmudji dari mobil ambulan, a Senin (3/4/2017) (Dok. Keluarga Ganjar)

 

Sketsanews.com, Semarang – Wafatnya ayahanda Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, S Parmudji (88) menyisakan duka bagi keluarga besar di Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Parmudji menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin pukul 09.15 WIB dan dimakamkan pada sore hari sekitar pukul 15.30 WIB.

Sebelum sang ayah meninggal, Ganjar mengaku kerap bolak-balik ke Rumah Sakit Sardjito, Sleman Yogyakarta untuk menjenguknya. Kebiasaan itu dilakukan karena ayahnya dirawat sejak 22 Februari karena komplikasi.

Sejak itu, dia bolak balik Semarang-Yogyakarta untuk ikut merawat mantan anggota Brimob Polda Jateng itu. Parmudji menjadi anggota polisi dengan pangkat terakhir Letnan Satu.

Ganjar pun menceritakan terkait perawatan sang ayah, hingga dia kala menunggu difoto sedang tidur di lantai rumah sakit. Foto Ganjar tidur di rumah sakit ini sempat viral di dunia maya.

“Saya beberapa hari ini memang tidur di sana, ya memang panggilan dalam konteks relasi keluarga. Kami (menunggu) bergiliran,” kata Ganjar, seusai pemakaman Parmudji, Senin (3/4/2017) kemarin, seperti dilansir dari Kompas.

Dalam foto yang sempat ramai itu, foto Ganjar tidur mengenakan baju biru, serta ada satu foto lagi mengenakan baju berwarna kuning. Foto itu juga disebarkan oleh akun milik dinas sosial Provinsi Jawa Tengah.

Ia mengatakan, semua anggota keluarg mendapat giliran untuk merawat sang ayah. Tujuh anaknya mendapat giliran, baik yang berada di Jakarta, Bandung, Purworejo dan dirinya di Semarang.

Pria berambut putih ini seusai menunggu ayahnya pada Minggu (2/4/2017) malam juga izin untuk kembali ke Semarang, menemui rombongan Badan Anggaran DPR RI yang sedang berkunjung di Kompelks Gubernuran.

Setelah paparan pukul 09.20 WIB, Ganjar minta izin kembali ke Purworejo karena mendapat kabar duka.

“Maka semalem (kemarin) tidur disana, lalu pagi di semarang. Saat itu sudah terasa saja kayaknya pingin mbalik lagi, dan ternyata bener,” ujar dia.

Kematian sang ayah, sebut Ganjar, karena takdir. Saat dirawat, kondisinya sudah dalam keadaan melemah.

Empat hari sebelum meninggal, ginjalnya sudah tidak berfungsi, serta saluran pernafasan menipis. Pihak dokter juga membantu menggunakan alat pernafasan, namun kapasitas yang terpakai hanya 75 persen.

“Sejak itu sebenarnya keluarga sudah pasrah, apakah itu akan merembet ke jantung atau tidak. Ilmiah saja, medisnya bicara kondisinya menurun, ketika sudah menurun itu keluarga sudah prediksi bahwa itu tidak lama,” tambahnya.

Ia akhirnya melepas sang ayah dengan penghormatan terakhir, dengan menapak keranda, memanggul keranda hingga di tempat peristirahatan terakhir. Sesekali, mantan anggota DPR RI ini mengenang ayahnya sebagai pribadi disiplin, keras namun sederhana.

Orangtuanya selalu mengajarkan hidup sederhana dan rasa berterima kasih. Tujuh anaknya, sambung dia, pernah kena marah sebagai bagian dari pendidikan. Namun, ketika anak sudah menginjak bangku SMP atau SMA, anak diberikan kebebasan.

“Di keluarga saya, yang terjun di politik cuma saya, ya itu jalan. Bapak saja membolehkan. Pesannya ya, kalau urus negara harus tenanan (sungguh-sungguh),” ucapnya.

Ucapan duka terhadap Parmudji datang dari para tokoh di Indonesia. Bahkan, warga yang berseberangan idenya dengan Ganjar turut datang seperti halnya warga penolak Pabrik Semen di wilayah Pegunungan Kendeng, Gunretno. Semua datang menyampaikan ucapan belasungkawa.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: