Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Pendidikan Warga Tulungagung Belum Banyak Tahu SMA Terbuka

Warga Tulungagung Belum Banyak Tahu SMA Terbuka

Mukhib, koordinator SMA Terbuka Kabupaten Tulungagung. (Foto: Sutrimo/Tulungagung TIMES)

Sketsanews.com, Tulungagung – Keberadaan lembaga pendidikan jalur khusus seperti SMA terbuka belum banyak diketahui masyarakat Tulungagung. Selain baru dibuka, sosialisasi kepada masyarakat juga belum optimal.

Belum familiarnya SMA terbuka diakui Mukhib selaku koordinator SMA Terbuka Kabupaten Tulungagung. Menurut dia, publikasi tentang SMA terbuka selama ini dilakukan melalui door to door. Tim mencari anak-anak usia sekolah yang tidak bisa menikmati pendidikan secara regular atas dasar keterbatasan, baik keterbatasan waktu maupun biaya.

“Jadi, kami deteksi anak-anak yang tidak sekolah,. Kami dekati dan kami beri wawasan bahwa sekolah ini gratis. Di samping itu, bisa sambil kerja. Semuanya gratis sampai lulus,” ujar Mukhib kepada Tulungagung TIMES saat ditemui usai melakukan upacara di puncak Argo Patuk Candi Dadi, Desa Junjung, Boyolangu, Tulungagung.

Keberadaan SMA terbuka sendiri baru tahun 2014, sesuai dengan Permendikbud Nomor 72 Tahun 2013. Sebagai pilot project, di Jawa Timur SMA terbuka dibasiskan di SMA 1 Kepanjen, Kabupaten Malang. Sedangkan di Tulungagung SMA terbuka baru dirintis 2016.

“Tahun 2016 kemarin saya merintis di Tulungagung. Alhamdulillah dapat siswa 37. Itu hanya satu tempat kegiatan belajar (TKB). Saya berharap ke depan muncul TKB-TKB baru di Tulungagung,” ucap Mukhib. “Syukur jika di setiap kecamatan ada sehingga bisa menyerap banyak siswa yang tidak bisa melanjutkan sekolah,” imbuh dia.

Untuk di Tulungagung, lanjut Mukhib, induk SMA terbuka berada di SMAN 1 Rejotangan. Selain itu ada sejumlah titik TKB, yakni Pucanglaban, Desa Sumberagung, Rejotangan, Ngunut dan Karangrej yang tahun ini sudah deklarasi.

Proses belajar mengajar sekolah ini relatif fleksibel. Dalam satu minggu, cukup tatap muka dua kali di TKB. Itu pun dipilih Minggu dan Jumat sore. Rata-rata anak yang sudah bekerja melakukan negosiasi dengan bosnya dan diperbolehkan. Metode belajarnya 20 pesen tatap muka,m dan 80 persen berbasis online.

Sementara, Lili Agus Prasetya selaku ketua Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Layanan Khusus mengatakan, keberadaan SMP dan SMA regular selama ini, baik yang negeri maupun swasta, hanya menjangkau anak-anak yang tidak mempunyai permasalahan dengan waktu serta mampu secara ekonomi.

“Sedangkan realitanya, di masyarakat kita masih banyak anak-anak yang seharusnya jadi calon peserta didik. Mestinya mereka duduk di bangku belajar SMP maupun SMA, tapi harus bergelut menjadi tulang punggung ekonomi keluarga,” tukas dia, seperti dikutip dari dari Jatimtimes.

Rata-rata, lanjut Agus, anak usia sekolah SMA kelas 1 dan 2 ini banyak yang harus bekerja di sektor formal di perusahaan swasta. Bahkan ada juga bekerja di instansi pemerintah, baik sebagai pesuruh, bekerja di kantin dan sebagainya.

“Meskipun ada larangan dari Kemenakertrans bahwa bekerja itu ada batas usia,i kenyataannya masih banyak anak-anak yang masih usia belia, baik usia sekolah SD, SMP, dan rata-rata anak SMA kelas 1 dan 2, harus bekerja,” imbuh Agus.

Melalui momen HUT Ke-72 RI ini, Agus berharap SMP dan SMA terbuka mandiri bisa benar-benar merdeka dan memperoleh pengakuan serta payung hukum yang layak. Sehingga pada akhirnya SMA terbuka memiliki kontribusi untuk mencerdaskan anak bangsa.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: