Sketsa News
Home Citizen-Jurnalism, Headlines, News, Opini Waspadai “Lone Wolf” Teror di Indonesia

Waspadai “Lone Wolf” Teror di Indonesia

Sketsanews.com – Bom bunuh diri yang terjadi di Mapolresta Surakarta Selasa pagi 5 Juli 2016 dapat digolongkan sebagai lone wolf terror, atau teror yang dilakukan seorang diri. Meskipun ada temuan yang menunjukkan bahwa pelaku yaitu Nur Rohman (30 tahun) berafiliasi dengan JAKDN (Jamaah Ansarut Daulah Khilafah Nusantara). Nur Rohman diketahui adalah anak buah dari Arif Hidayatullah.

polisi-identifikasi-pelaku-bom-bunuh-diri-di-mapolresta-solo-dlQQ19skyu

Arif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Abu Musab adalah salah satu anggota JAKDN yang berhasil ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror pada 23 Desember 2015. Penangkapan Arif Hidayatullah cukup mengejutkan, bukan karena aktifitas radikalnya tetapi kesehariannya yang merupakan karyawan sebuah perusahaan spare part otomotif yang cukup besar dan terkenal di Jakarta. Arif sudah menjadi karyawan di perusahaan tersebut selama kurang lebih 5 tahun.

Kepala BNPT Komjen Pol Tito Karnavian menjelaskan bahwa Nur Rohman pelaku bom bunuh diri di Solo dicari sejak tahun 2000. Nur Rohman saat itu adalah anggota kelompok Laskar Si Lebah kemudian bergabung dengan JAKDN. Selanjutnya dia bergabung dengan Arif Hidayatullah di Bekasi.

Lone Wolf Terror

Aksi bunuh diri yang dilakukan oleh Nur Rohman oleh beberapa pihak dikategorikan sebagai lone wolf terror, atau aksi teror yang dilakukan seorang diri dan biasanya tidak terkait oleh kelompok manapun. Meskipun masih perlu dikaji lebih lanjut karena diketahui bahwa Nur Rohman adalah anggota JAKDN yang berafiliasi dengan ISIS.

Aksi Nur Rohman diduga dan patut diselidiki lebih lanjut kebenarannya terkait dengan teror-teror di negara lain selama bulan ramadhan ini. Seperti yang terjadi sebelumnya, bom bunuh diri di Bagdad, Madina, Jedah, Dhaka, Istanbul  disinyalir dipicu oleh perintah dari petinggi ISIS, Abu Muhamad Al Adnani (juru bicara),  kepada simpatisannya untuk melakukan aksi pada bulan ramadhan. Hal ini termasuk aksi bunuh diri di Orlando  oleh Omar Mateen yang sudah diklaim oleh ISIS, meskipun dibantah oleh Barack Obama

Lone wolf terror sangat berbahaya. Tingkat kesulitan untuk mengungkap aksi ini lebih besar daripada teror yang dilakukan oleh kelompok. Sebelumnya di Indonesia pernah terjadi aksi lone wolf terror. Di Mall Alam Sutera, 28 Oktober 2015 pukul 12.05 terjadi ledakan bom di toilet kantin karyawan lantai LG. Aksi ini menimbulkan satu korban luka.

Setelah diselidiki ternyata aksi bom di Mall Alam Sutera dilakukan seorang diri dengan motif ekonomi (pemerasan). Aksi teror dengan motif pemerasan tentu berbeda dengan aksi teror dengan motif ideologi. Aksi teror motif ekonomi skalanya kecil dan cenderung hanya untuk menakut-nakuti. Berbeda dengan aksi teror dengan motif ideologi, pelaku tidak segan untuk mengorbankan nyawanya demi keyakinan yang sudah dia miliki.

Hal yang patut diwaspadai adalah aksi lone wolf terror dengan motif ideologi sebagai dampat dari tidak terkonsilidasinya kelompok teror. Motif ideologi dan hasrat untuk menunjukkan eksistensi tidak perlu berpikir ulang untuk mekalukan teror hingga mengorbankan nyawa sendiri, teror dengan cara bom bunuh diri.

Pasca Bom Bunuh Diri Solo

Kemungkinan terjadi lagi teror bom bunuh diri dengan pelaku tunggal di Indonesia masih besar. Saat ini Bahrun Naim, simpatisan ISIS asal Indonesia yang saat ini berada di Suriah diperkirakan akan mengendalikan gerakan teror di Indonesia. Bahrun Naim ingin menunjukkan kepada petinggi ISIS bahwa dia layak dijadikan pemimpin dan orang penting untuk gerakan ISIS di Asia Tenggara. Bahrun Naim akan mengerahkan segala cara termasuk mengkondisikan orang tertentu agar melakukan teror bom bunuh diri.

Aksi teror bom yang dilakukan seorang diri maupun kelompok di Indonesia diperkirakan mempunyai kepentingan ideologi yang sama yaitu ideologi untuk mendukung ISIS. Serangan berbagai negara terhadap ISIS di Suriah membuat kekuatan ISIS di Suriah menjadi tidak beraturan, termasuk kekuatan simpatisan dari Indonesia. Kemungkinan para combatan ISIS dari Indonesia akan pulang kandang dan melakukan teror di Asia Tenggara.

Jika konsilidasi dengan anggota lain tidak berhasil dilakukan maka para combatan Suriah ini akan melakukan aksi sendirian, tetapi jika mereka bisa melakukan konsilidasi maka mereka akan tiarap untuk menyusun kekuatan dan melakukan aksi lebih besar. Pasca aksi bom bunuh diri di Solo tetap ada kemungkinan untuk terjadi aksi bom bunuh diri lagi, bahkan lebih besar.

Sasaran Teror

Simpatisan ISIS di Indonesia melakukan teror dengan sasaran aparat kepolisian. Polisi dianggap sebagai kafir harbi, yaitu kafir yang memerangi atau menjadi musuh ISIS.  Simpatisan ISIS di Indonesia jarang sekali secara terang-terangan menganggap TNI sebagai sasasaran teror atau musuh mereka. Hal ini diduga karenaTNI tidak terlibat langsung dalam kegiatan penanggulangan terorisme atau kemungkinan lain adalah simpatisan ISIS sadar bahwa bermusuhan dengan TNI adalah sesuatu yang sebainya jangan dilakukan karena pasti kalah. TNI sebagai angkatan perang dontrinnya adalah hidup atau mati, ditembak atau menembak, kecil kemungkinan mereka dapat berada di tangan TNI dalam keadaan hidup.

Rumah ibadah agama lain dan simbol-simbol barat menjadi prioritas setelah polisi dalam sasaran teror simpatisan ISIS di Indonesia. Meskipun dalam melakukan aksinya pelaku teror pasti mempunyai rencana R-A-E (reguler – alternatif – emergency). Kemungkinannya adalah polisi sebagai sasaran reguler, rumah ibadah dan simbol-simbol barat sebagai alternatif, dan pusat keramaian lainnya sebagai rencana emergency.

Mencegah Teror

Ada beberapa kelompok pelaku teror di Indonesia, seperti kelompok Santoso di Poso, kelompok JAKDN yang sebagian berasal dari Solo, kelompok mantan combatan Suriah yang kemungkinan tidak lama lagi akan memasuki Indonesia, dan kelompok mantan tahanan kasus terorisme yang masih mempunyai pemikiran radikal. Siapapun dari kelompok tersebut  jika tidak terkonsilidasi namun masih mempunyai keyakinan ideologi radikal dapat menjadi pelaku teror tunggal.

Untuk mencegah terjadinya teror maka pemerintah perlu meningkatkan kinerja aparat intelijen. Dengan kemampuan yang baik maka aparat intelijen dapat melakukan deteksi dini dan memberikan peringatan dini kepada pemerintah. Deteksi dini dan peringatan dini dari intelijen dapat dilakukan jika intelijen diberikan kewenangan untuk hal tersebut. Undang-Undang tentang Terorisme dan Undang-Undang tentang intelijen perlu ditinjau ulang agar intelijen mempunyai ruang gerak sewajarnya supaya dapat menjalankan tugas melakukan deteksi dini dan memberikan peringatan dini kepada negara atas potensi ancaman yang terjadi.

Di tingkat masyarakat, pemerintah harus proaktif mendorong masyarakat untuk melakukan kontrol sosial di lingkungannya. Masyarakat dapat berfungsi sebagai ujung tombak negara untuk mencegah paham radikal berkembang biak. Kontra radikalisasi harus dilakukan oleh masyarakat sebagai entitas paling luas dan paling berdekatan dengan kelompok teror.

Penutup

Aksi teror diperkirakan tidak hanya berhenti di Solo. Simpatisan kelompok ISIS dan kelompok radikal lainnya masih bersebaran. Pemerintah secara simultan bersama para pemangku kepentingan diharapkan bekerja sama untuk mencegah dan menangani aksi dari kelompok radikal ini.

Penguatan kemampuan dan kapasitas intelijen, pemberdayaan masyarakat sebagai ujung tombak kontra radikalisasi, dan kerja sama yang baik dengan dunia international diharapkan dapat mencegak aksi teror terjadi lagi  di Indonesia.

Paham radikal mungkin akan sulit untuk dihilangkan, namun mencegah paham radikal tersebut diaplikasikan sebagai aksi teror tetap wajib dilakukan demi menjaga eksistensi bangsa dan negara Indonesia.

*) Stanislaus Riyanta, peneliti dan editor di jurnalintelijen.net, menempuh S2 Kajian Stratejik Intelijen di Universitas Indonesia.

%d blogger menyukai ini: