Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Waspadalah! Komunis Indonesia Gaya Baru Lebih Berbahaya

Waspadalah! Komunis Indonesia Gaya Baru Lebih Berbahaya

Massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan Front Pancasila membakar kain bersimbol komunis di depan kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (1/6). Mereka menolak rekonsiliasi, rehabilitasi dan kompensasi terhadap PKI serta menyerukan bahaya laten komunis. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/ama/16

Sketsanews.com, Jakarta – Isu bangkitnya Komunis Indonesia semakin meramaikan suasana perpolitikan Indonesia. Partai Komunis Indonesia ini mulai menampakkan batang hidungnya sejak kampanye calon presiden Jokowi pada pemilu 2014.

Pasalnya, Jokowi pada saat kampanye memberikan angin segar kepada keluarga PKI untuk memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh PKI.

Dengan meminta maaf ke eks Partai Komunis Indonesias (PKI) dan keluarganya, Presiden Joko Widodo artinya merealisasikan janji kampanye pada Pilpres 2014 lalu.

Begitu pandangan peneliti Perludem, Heroik Muttaqien Pratama yang ditemui usai diskusi di bilangan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (11/7).

Heroik berpendapat, permintaan maaf ini merupakan tahapan awal bagi Jokowi membuka kembali ruang untuk memproses kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu. Apalagi selama ini masyarakat, terutama yang hidup di zaman orde lama dan orde baru masih memandang negatif PKI.

“Tapi kita tidak tahu ada transformasi politik dan transformasi sosial yang selama ini berkembang,” imbuhnya.

Pakar Anti Komunis, Alfian Tanjung mengungkap hal mencengangkan tentang dugaan gerakan komunis di balik kemenangan Jokowi.

Hal itu disampaikan Alfian Tanjung yang mengungkapkan bahwa lingkungan tempat tinggal Jokowi di Solo dikenal sebagai Basis Revolusioner.

“Jokowi secara pribadi memang tidak bisa distigma sebagai sosok PKI, tetapi kampungnya, secara historis lingkungan tempat tinggalnya di Solo itu memang Basrev, Basrev itu Basis Revolusioner, itu sudah diketahui banyak orang,” kata Alfian Tanjung usai menjadi pembicara Majelis Taqarrub Ilallah (MTI), di Masjid Abu Bakar Siddiq, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Sabtu (25/10/2014).

Dan kini lebih jelas lagi siapa dan Antek-antek PKI tatkala Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginstruksikan untuk nonton bareng film Pengkhiatan G30S PKI.

Dengan munculnya pro dan kontra terhadap instruksi nobar sudah bisa dipetakan siapa yang pro PKI dan siapa yang menolak kebangkitan Partai Komunis Indonesia. Siapa pun yang kontra berarti perlu diwaspadai bisa jadi dia pendukung Partai Komunis Indonesia.

Waspadalah

Sikap yang perlu diambil adalah waspada, karena kebangkitan Partai Komunis Indonesia lebih berbahaya daripada para pendahulunya.

Apalagi dengan munculnya statement bahwa jumlah kader PKI yang sekarang lebih banyak bergabung dengan PDIP mencapai kisaran 20 juta orang. Ini merupakan angka yang fantastis kenapa demikian.

Mari kita coba berhitung dengan angka 20 juta dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini. Seperti yang diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia sekitar 262 juta, artinya kalau dibuat perbandingan berarti 1 : 16, satu orang PKI melawan 16 orang warga Indonesia.

Makanya dengan jumlah 20 juta, mereka berani bersuara kenapa harus malu dan menutup nutupi sebagaimana yang dikatakan oleh seorang anak PKI.

Dr Ribbka Tjiptaning sudah memberikan penjelasan dengan bangganya Komunis bangkit kembali di Indonesia 20 jutaan kader PKI siap menghabisi kalian !!! anak dan cucunya tidak mungkin berpaling dengan idiologi Komunis.

Waspadalah PKI ada di sekitar kita

Dengan strategi senyap, partai yang dulu dilarang hidup di atas bumi Indonesia akhirnya mampu unjuk gigi bahkan bisa merambah ke setiap lini baik politik, tokoh masyarakat maupun artis. Mereka para kader PKI mampu berbaur dengan pakaian kebohongan (misal, yang Islam tetap mereka melakukan aktivitas rutin seperti orang Islam, namun sejatinya menolak Islam)

Ambil contoh, seorang Oneng dengan bangga tanpa merasa bersalah mengatakan, kalau PKI bangkit memangnya kenapa.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif memandang isu kebangkitan komunis di Indonesia hanya mimpi di siang bolong. Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini juga tidak percaya kebangkitan komunisme di Indonesia akan terjadi.

“Apa (Isu kebangkitan Komunisme di Indonesia) itu bukan mimpi di siang bolong. Saya kok enggak begitu percaya,” ujar dia, Senin (18/09/2017).

Dan yang paling penting adalah bahwa sekarang peperangan telah dilancarkan oleh PKI terhadap bangsa Indonesia ini. Peperangan yang mereka lakukan bukan dengan menggunakan perang fisik namun dengan merusak pemikiran generasi muda bangsa ini.

Cara pandang agama harus dipisahkan dengan dunia politik, in toleransi sebenarnya merupakan cara pandang Partai Komunis yakni sama rasa sama rata. Pandangan semua agama sama.

Kesimpulan

Perang yang dilancarkan oleh P artai Komunis Indonesia sebenarnya sedang berlangsung saat ini.

Komunis Indonesia Gaya Baru lebih berbahaya karena strategi yang digunakan adalah mematikan dengan merusak pemikiran baik generasi muda bangsa ini

Waspadalah Waspadalah!!!!

(jp)

 

%d blogger menyukai ini: