Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Wawancara Wawancara Eksklusif dengan Nur Huda Ismail

Wawancara Eksklusif dengan Nur Huda Ismail

Nur Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian. (Foto: Supadiyantoro/Sketsanews.com)

Sketsanews.com, Jakarta – Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang aktif  melakukan penanganan terhadap mantan narapidana teroris (napiter).

Misi YPP adalah untuk melakukan pendampingan dan mendorong proses disengagement bagi mantan teroris dan mantan combatan agar tidak kembali pada jalan kekerasan.

Nur Huda Ismail sebagai founder yayasan ini tidak memakai term deradikalisasi untuk membina para mujahid atau mantan narapidana teroris. Dia melihat perlunya kesadaran individu dalam melepaskan diri.

Dijelaskan, istilah deradikalisasi relatif kontraproduktif, karena menjadi radikal, berpikiran radikal, berpikir kritis pada dasarnya bagus.

YPP melalui sayap komunikasinya, Prasasti Production mangadakan Counter Violence and Extrimism (CVE) Communication Workshop yang digelar selama tiga hari, 14 sampai 16 Maret 2018 di Park Hotel, Jakarta.

Di akhir acara, Sketsanews diberi kesempatan melakukan wawancara dengan Nur Huda Ismail terkait workshop yang baru selesai digelar.

Counter Violence and Extrimism (CVE) Communication Workshop, bisa anda jelaskan terkait kegiatan ini?

Kegiatan ini memfasilitasi tiga komponen penting, satu film maker (orang yang bikin film pendek), dua cara debat dan tiga publik speaking, yaitu bagaimana hubungan dengan media dan kemudian bikin misi-misi kemanusiaan, jenis komunikasi dakwah itu seperti apa saja sih komponennya.

Apa tujuan dari kegiatan ini?

Tujuannya agar kita mempunyai narasi alternatif. Jadi ustadz-ustadz yang ngomongnya masih jadul, one way communication, kemudian mereka bisa untuk ngomong dengan teman-teman generasi milenial, generasi baru dengan ala social media. Inginnya begitu, sehingga ustadz-ustadz itu paham logika media sosial.

Siapa saja yang diundang sebagai peserta?

Pesertanya tiga kelompok, yaitu ustadz, ustadzah dan para mantan narapidana teroris. Ustadz dan ustadzah berasal dari komponen NU, Muhammadiyah dan juga elemen-elemen seperti misalnya orang yang belajar atau studi hadits.

Mantan napi teroris berasal dari kelompok mana saja?

Mantan napi kita sepakati berasal dari empat generasi, satu generasi Afghanistan yang dari Palembang, kedua generasi Moro seperti ustadz Hasanuddin, tiga generasi Poso seperti pak Hasanuddin, pak Ucok, kemudian empat generasi yang dilatih mereka di Poso, generasi yang ada latihan-latihan militer yang lokal di Aceh, Ambon.

Materi apa saja yang disampaikan?

Materi meliputi cara bikin film pendek, cara ngomong di depan umum, cara berdebat, kemudian kalau memungkinkan mereka melakukan kerja-kerja kemanusiaan (humanitarian).

Siapa saja pembicara yang dihadirkan?

Kalau cara bikin film pembicara dari Film Maker Muslim, kalau cara ngomong dari TEDx, yang lain nanti saya kasih listnya, siapa saja yang ngomong, saya kasih modulnya.

Sketsanews coba melakukan cek pada modul dimaksud, pembicara tertulis Muhammad Ali Ghifar (dari Film Maker Muslim), Dewi Wijayanti (profesional di bidang Marketing dan Perubahan Sosial), Kartika Anindya Putri (praktisi Learning & Development/TEDxJakarta), kemudian dari Facebook Indonesia dan terakhir dari Kumparan.

Bagaimana tanggapan peserta terhadap kegiatan ini?

Saya tidak mengerti, tapi mereka asyik-asyik saja, happy, senang.

Dari pengamatan anda, bagaimana perkembangan terorisme saat ini di Indonesia?

Terorisme itu kan definisi politik, orang kan belum sepakat apa itu definisinya. Terorisme di Indonesia ya kita melihat adanya evolusi. Pola lama menjadi pola baru. Pola lama orang terlibat kasus teroris karena lebih jaringan sosial nyata, riil. Teman, kakak, adik, teteh, begitulah ketika ada kelompok. Sekarang kan bergeser menjadi lebih ke konektif, lewat media sosial saja mereka kemudian berkelompok dan melakukan aksi teror.

Apakah counter violence and extrimism dengan pendekatan komunikasi ini akan efektif?

Saya tidak tahu apakah efektif atau tidak. Saya tidak tahu seberapa efektif, tapi saya adalah orang yang super optimis. We need to do samething. Kalau efektif tidak tahu, tapi kalau percaya perlu.

Apakah kegiatan ini baru pertama kali diadakan ?

Ya, ini yang pertama kali. Dan kita awalnya juga khawatir apakah ini bisa berhasil apa tidak, mempertemukan tiga kelompok yang berbeda.

Menurut pengamatan anda apakah kegiatan ini berhasil?

Saya harap begitu. Karena mereka tidak pernah mau pulang kalau saya suruh pulang. Makanya dari sini kita akan ada follow up bikin platform ruang ngobrol. Jadi satu minimal ada grup WhatsApps, kedua kita ada platform ruang ngobrolku.com. Jadi, dimana mereka semua mau ceramahnya kita edit, kita bantu, kemudian kita bikin tulisan-tulisan yang akan menjadi referensi buat mereka. Kemudian kita bikin offline-nya, offline itu campaign-nya. Misalnya kita bikin workshop pelatihan film di Poso, atau di Aceh, atau di Palembang oleh teman-teman yang semua itu alumni dari sini.

Ke depan, apakah kegiatan seperti ini akan berlanjut?

Itu pasti dan akan dilevelkan, misalnya untuk anak SMA, untuk anak pesantren, begitu terus. Fokusnya kita begitu, bagaimana memenuhi dunia digital dengan pesan-pesan positif.

Dari mana sumber dana untuk kegiatan ini?

Banyak pengusaha yang membantu kami, dari swasta. Kita alhamdulillah belum dapat dari negara, dari BNPT belum. Seperti dari Facebook, dari temanku yang pengusaha datang kesini. Saya itu modelnya pekerja sosial tapi citarasa bisnis. Namanya social interpreneur, bisnis tetapi digerakkan oleh ide sosial.

(Ad)

%d blogger menyukai ini: