Nikmatnya Mengunjungi Kota Suci Yerusalem, Pascadeklarasi Trump

Kota Suci Yerusalem (Guardian)

Kota Suci Yerusalem (Guardian)

Sketsanews.com,Yerusalem– Ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pengakuannya atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, mayoritas negara di dunia marah. Demo berlangsung di banyak tempat. Bahkan, PBB sampai mengeluarkan resolusi.

Namun rupanya Wartawan Jawa Pos Indria Pramuhapsari menjadi segelintir orang yang beruntung. Ia berkesempatan datang ke Kota Suci Tiga agama dunia, Kota Suci yang indah, Yerusalem.

Ia menceritakan, Gua Natal itu menarik perhatian bocah-bocah Palestina. Sambil setengah berlari menggandeng sang ibu, seorang bocah perempuan berusia sekitar empat  tahun mendekati gua. Bukan benar-benar gua, tapi lebih mirip panggung yang sengaja dirancang mirip gua.

Kota Suci Yerusalem

Kota Suci Yerusalem (Reuters)

”Ah! Ah!” ujar si bocah sambil menunjuk Gua Natal yang terletak di pelataran depan kompleks Gereja Nativitas, Kota Bethlehem, Tepi Barat, Otoritas Palestina.

Senin malam itu (25/12), halaman depan kompleks Gereja Nativitas yang oleh penduduk setempat disebut Alun-alun Bethlehem masih sangat semarak. Pohon Natal setinggi lebih dari lima meter menghiasi tanah lapang yang ukurannya hanya separo Alun-alun Sidoarjo tersebut.

Pohon terang itu terletak tidak jauh dari Gua Natal yang mengabadikan peristiwa kelahiran Yesus Kristus dalam patung-patung seukuran aslinya. Patung Yusuf dan Maria, orang tua Yesus, para gembala, dan para majus dari timur dibuat seukuran manusia. Demikian juga patung Bayi Yesus.

”Tahun lalu, dekorasi Natal tidak semeriah ini,” kata Abu Zahra, salah seorang petugas keamanan di kompleks Gereja Nativitas, dalam bahasa Inggris patah-patah. Dia lantas menduga, kabar burung tentang kekerasan dan unjuk rasa di Palestina pascadeklarasi Presiden AS Donald Trump tentang Yerusalem pada 6 Desember lalu sebagai pemicunya.

Bethlehem Municipality alias pemerintah lokal, menurut dia, ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kota kelahiran Sang Juru Selamat tersebut aman dan damai. Gua Natal yang dari tahun ke tahun selalu ditempatkan di halaman Kapel Santa Katarina, gereja Katolik di kompleks Gereja Nativitas, kali ini dipindahkan ke alun-alun.

Bagi Abu Zahra dan para pemuda Palestina yang biasa mangkal di Alun-alun Palestina, status Yerusalem bukan hal yang penting. Hal yang penting adalah mereka tetap bisa mencari uang, makan, dan beraktivitas dalam suasana damai. ”Ya seperti sekarang ini. Kami bisa bekerja dengan lancar,” kata Abu Zahra.Seperti diutip dari Jawapos

Di Bethlehem, ungkap dia, tidak ada unjuk rasa yang berarti. Nabil, penduduk Bethlehem yang tinggal tak jauh dari kompleks Gereja Nativitas menyatakan, unjuk rasa relatif jarang. Bahkan, saat deklarasi Trump pada 6 Desember lalu, hanya ada satu dua unjuk rasa dan semua berlangsung damai.

Kendati demikian, banyak protes diam yang bermunculan. Yakni, lewat spanduk. Spanduk berukuran raksasa dibentangkan di beberapa titik keramaian. Sebagian besar terletak di objek-objek wisata. Misalnya, dekat pintu masuk Gereja Padang Gembala, di kantor pemerintah depan alun-alun, serta dekat kantor aktivis HAM. Di sana tertulis aspirasi Palestina yang menentang deklarasi Trump.

”Silly,” kata Erez Sasson, penduduk Kota Yerusalem, saat ditanya tentang serangkaian unjuk rasa menentang deklarasi Trump. Kamis (28/12) dia mengungkapkan bahwa Yerusalem adalah bagian dari Israel sejak dulu. Karena itu, konyol jika Palestina mengklaim kota tersebut sebagai ibu kota. Setidaknya, itu menurut Erez.

Tapi, bagi lelaki Yahudi yang menikah dengan perempuan asal Inggris tersebut, deklarasi Trump pun tak ada artinya. Sebab, yang dideklarasikan taipan 71 tahun itu tentang Yerusalem adalah isu lama. ”Nothing’s change,” ujarnya.

Pater Al Gesu, rohaniwan Indonesia yang sedang tugas belajar S-2 di Kota Tua Yerusalem, menjelaskan, deklarasi Trump tidak banyak mengubah atmosfer Yerusalem. ”Tempat kami tinggal di Kota Tua Yerusalem tepat menghadap jalur yang dilewati para peziarah dan umat muslim yang mau salat Jumat. Jumat setelah deklarasi Trump pada Rabu itu, penjagaan di Kota Tua memang diperketat untuk mengantisipasi bentrokan yang biasanya pecah pada hari Jumat. Tapi, Jumat itu tidak terjadi apa-apa,” paparnya saat dijumpai Rabu (27/12).

Selain pengamanan yang meningkat dan unjuk rasa dengan massa yang lebih banyak selama sekitar sepekan, tidak ada peristiwa khusus atau bentrokan yang terjadi.

Di Israel, wisatawan kebanyakan datang pada April, Mei, Oktober, dan November. ”Turis terbanyak yang datang ke Israel berasal dari AS. Tapi, karena Desember bertepatan dengan Natal, orang-orang AS tidak kemari. Mereka berkum­pul dengan keluarga,” jelasnya.

(tb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: