Sketsanews.com – Jakarta – Dalam dua bulan terakhir, Oktober dan November, Nilai Tukar Nelayan (NTN) menurun. NTN ini mencerminkan kondisi di lapangan karena respondennya adalah nelayan kecil.

 

Nilai Tukar Nelayan Turun 2019

 

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Senin (2/12), perkembangan rutin Nilai Tukar Sektor Nelayan periode November 2019, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Oktober 2019) terjadi penurunan sebesar 0,53 persen. Penurunan ini dari 114,28 (Oktober 2019) menjadi 113,67 (November 2019).

Hal ini terjadi karena penurunan indeks yang diterima nelayan (It) sebesar 0,34 persen, sementara indeks yang dibayar (Ib) naik sebesar 0,19 persen. Penurunan It disebabkan oleh turunnya It di kelompok penangkapan laut, khususnya komoditas ikan cakalang dan ikan lemuru sebesar 0,43 persen.

Untuk kelompok penangkapan perairan umum mengalami kenaikan (khususnya komoditas ikan gabus dan ikan baung) sebesar 0,43 persen. Ib mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen dikarenakan naiknya indeks kelompok KRT dan kelompok BPPBM, masing-masing sebesar 0,27 persen dan 0,07 persen.

Catatan BPS (2019) terlihat bahwa penurunan harga Cakalang sudah terjadi sejak bulan Oktober 2019. Harga Cakalang inilah yang menjadi salah satu faktor terjadinya penurunan NTN Bulan Oktober 2019 dibandingkan dengan bulan September 2019 sebesar 0,44 persen, yaitu dari 114,79 (September 2019) menjadi 114,28 (Oktober 2019).

Hal ini terjadi karena penurunan indeks yang diterima nelayan (It) sebesar 0,35 persen, sementara indeks yang dibayarkan oleh nelayan (Ib) naik sebesar 0,10 persen. Penurunan It disebabkan oleh turunnya It di kelompok penangkapan laut (khususnya komoditas ikan tongkol dan ikan cakalang) sebesar 0,40 persen.

Berdasarkan hal tersebut pemerintah, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu segera dapat mengatasi penurunan beberapa harga ikan, khususnya cakalang. Penurunan harga ikan ditingkat nelayan umumnya disebabkan oleh peningkatan produksi ikan di sentra-sentra perikanan tangkap.

Penurunan harga komoditas ikan ditingkat nelayan tersebut perlu segera diantisipasi, mengingat saat ini produksi perikanan tangkap sedang mengalami musim puncak.*

Sumber :darilaut.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: