Sketsa News
 
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, Headlines, News Pasokan Cadangan Global Terancam Merosot, Harga Minyak Naik

Pasokan Cadangan Global Terancam Merosot, Harga Minyak Naik

Ilustrasi kilang minyak mentah. (Foto: Istimewa)

Sketsanews.com, Jakarta – Harga minyak mentah berjangka Brent menguat pada perdagangan Kamis, waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh sentimen kapasitas cadangan yang terbatas, menyusul terbitnya peringatan dari Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA).

Dilansir dari Reuters, Jumat (13/7), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$1,05 per barel menjadi US$74,45 per barel, pulih dari level terendah sesi perdagangan, US$72,67 per barel. Sehari sebelumnya, harga minyak acuan global ini anjlok US$5,46 atau 6,9 persen, penurunan harian terbesar dalam dua tahun terakhir.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun tipis sebesar US$0,5 menjadi US$70,33 per barel, setelah merosot sekitar lima persen pada sesi sebelumnya.

IEA memberi peringatan bahwa pasokan minyak cadangan global berpotensi dipakai hingga batasnya akibat pasokan yang berkurang di beberapa negara.

Partner Again Capital Management John Kilduff menyatakan sentimen terhadap gangguan pasukan salah satu anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak Venzuela memicu kenaikan harga minyak lebih tinggi.

“Persoalan produksi yang ada hari ini merupakan pengingat bahwa persoalan tersebut sedang berlangsung,” ujar Kilduff.

Beberapa produksi di sejumlah negara merosot dalam beberapa pekan terakhir, termasuk Venezuela, Norwegia, Kanada, dan Libya.

“Kenaikan produksi dari negara Teluk Timur Tengah dan Rusia, meski disambut, terjadi dengan beban bantalan kapasitas cadangan dunia, yang mungkin dipakai hingga batasnya,” ujar IEA dalam laporan bulanannya.

Menurut IEA, kerentanan tersebut menyokong harga minyak saat ini dan akan berlanjut ke depan.

Di saat yang bersamaan, lanjut Kilduff, AS terus menggencarkan retorika pengenaan sanksi terhadap Iran yang juga mendorong kenaikan harga.

Aksi jual besar-besaran pada Rabu lalu dipicu oleh kekhawatiran terhadap memanasnya tensi perdagangan antara AS dan China serta pemberitaan kembalinya produksi minyak di Libya.

Seperti dilansir dari cnninonesia, perusahaan minyak Libya National Oil Corp menyatakan bahwa membuka kembali empat terminal ekspor, mengakhiri tersumbatnya sebagian besar pasokan minyak dari Libya. Beroperasinya terminal ekspor tersebut akan mengembalikan 850 ribu barel per hari (bph) minyak mentah.

Berdasarkan informasi Genscape, pasar juga memperkirakan cadangan minyak dari hub pengiriman AS merosot. Pasokan ke pasar AS juga telah menipis akibat terganggunya produksi dari Kanada.

Analis Teknis Senior ICAP-TA Brian LaRose memperkirakan harga Brent kemungkinan bisa pulih ke atas US$80 per barel pada akhir tahun ini. Sementara, jika harga Brent terseret ke level di bawah US$70 per barel maka kemungkinan pasar minyak kembali pulih dengan cepat akan mengecil. (Im)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: