Pedophil Jadi Guru BP, 18 Siswa SMP Jadi Korban

Oknum Guru SMPN 4 Kepanjen Malang Cabuli 18 Siswa dengan Modus Sumpah Alquran

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung saat mengintrogasi Chusnul Huda. (Toski D) 2019Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung saat mengintrogasi Chusnul Huda. (Toski D) | MalangVoice

Sketsanews.comMalang – Lembaga pendidikan di Kabupaten Malang kembali tercoreng. Kali ini, seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SMPN 4 Kepanjen berinisial CH, tega berbuat asusila. Diduga, CH mengalami kelainan seksual. Pasalnya, guru tidak tetap itu memperlakukan 18 siswa laki-laki dengan perbuatan tidak senonoh.

Kasus tersebut, kini sedang ditangani Satreskrim Polres Malang. Informasi yang diperoleh, kasus tidak senonoh ini terjadi sekitar setahun lalu. Berdasarkan sumber, ada 18 siswa yang menjadi korbannya. Sekarang ini, para siswa yang menjadi korban duduk di kelas IX.

“Siswa yang menjadi korban ada banyak. Mereka dilakukan tidak senonoh tidak berbarengan, melainkan satu per satu,” jelas sumber yang meminta namanya tidak disebutkan.

Modus pelecahan seksual, dengan cara siswa dipanggil ke ruang CH. Kebetulan di sekolah itu, CH adalah seorang guru BK. Saat di ruangannya, CH, warga Desa Kedung Pedaringan, Kepanjen ini, lantas meminta tolong pada korban.

CH mengatakan sedang mengadakan penelitian untuk keperluan lanjutan pendidikan S3. “Sebelum melakukan pelecehan, dia meminta kemauan korban. Setelah korban mau dan disumpah dengan Alquran, lalu CH ini mengatakan penelitiannya,” jelasnya.

Para korban yang tidak bisa berbuat karena telah disumpah hanya pasrah. Kemudian CH menutup pintu dan selambu ruang BK. Selanjutnya melepas celana siswa, yang kemudian mengocok kelamin siswa hingga mengeluarkan sperma.

Modus yang dilakukan terhadap semua korbannya sama. Bahkan, salah satu siswa ada yang sampai tiga kali dilakukan tidak senonoh oleh CH.

Perbuatan tak senonoh ini, baru terbongkar Jumat (29/11/2019) lalu. Bermula dari salah satu siswa yang menjadi korban, mengadu kepada salah satu guru BK. Dari pengaduan ini, kemudian berkembang dan ternyata korban berjumlah 18 siswa.

Atas kejadian ini, pihak sekolah lantas memberhentikan CH, pada Sabtu (30/11/2019). “CH sudah dipecat dari sekolah. Kasusnya sudah dilaporkan ke polisi,” katanya.

Terpisah, Ketua Komite SMPN 4 Kepanjen, Warsito SE menyampaikan bahwa dirinya sangat menyayangkan peristiwa tersebut baru terungkap belakangan ini. Warsito pun mengaku berang ketika mendengar kabar tersebut.

“Perkara ini kan sudah satu tahun lebih. Kan dia (CH, red) sudah lama disitu, takutnya mungkin ada korban-korban lain. Saya saja awalnya tidak diberitahu. Harus ditindak tegas dan diproses hukum, supaya orang lain tidak mengikuti perbuatannya,” tegas Warsito.

Warsito pun memastikan jika CH sudah dipecat dari SMPN 4 Kepanjen. Warsito juga mengimbau kepada para wali murid jika ada anaknya yang menjadi korban, agar segera melapor.

“Kalau orang tua mau lapor, laporkan. Saya dukung, saya dampingi, saya carikan pengacara,” katanya.

Lebih jauh, Warsito membenarkan jika pihak kepolisian sudah turun tangan menyelidiki perkara tersebut. Saat ini, Warsito mengaku hanya berpikir mengenai bagaimana memulihkan kondisi psikis para korban. “Pertimbangannya psikologi anak juga. Tapi kalau saya ya, ini harus diproses hukum,” pungkasnya.

Kepala SMP Negeri 4 Kepanjen, Suprianto, dikonfirmasi membenarkan. Ia mengatakan bahwa CH sudah dipecat. Termasuk menyerahkan kasusnya ke pihak kepolisian. “Tidak sampai 24 jam setelah mendapat laporan, yang bersangkutan langsung saya pecat,” ujarnya.

Dikatakannya, dia mendapat laporan dari salah satu guru pada hari Jumat (29/11/2019) lalu. Kemudian mengembangkan kasusnya dengan mengumpulkan siswa. Setelah memang ada, dirinya lantas melaporkan ke pimpinan untuk mengeluarkan SK pemecatan.

“Kasusnya sekarang sudah kami serahkan ke pihak Kepolisian. Perkaranya sedang dalam proses penyelidikan,” katanya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo, dikonfirmasi membenarkan adanya laporan kasus pelecehan tersebut. Polisi sudah meminta keterangan beberapa saksi, termasuk mengumpulkan barang bukti.

“Sudah kami terima laporannya dan sudah ditindaklanjuti. Sekarang ini, kami masih menyelidiki keberadaan pelakunya,” tegas Tiksnarto. [yog/but] beritajatim.com

Terungkap Pelaku Pencabulan Siswa SMP Miliki Aksi Menyimpang Sejak Usia 20 Tahun

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung menyebutkan, pelaku pencabulan pada belasan siswa SMPN 4 Kepanjen memiliki aksi menyimpang.

“Berdasarkan pengakuan pelaku. Aksi menyimpang itu sudah dilakukan Huda sejak usia 20 tahun. Ia menyukai laki-laki dan perempuan,” ungkap Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung saat menggelar pers rilis di Lobby Polres Malang, Sabtu (7/12).

Menurut Yade, pelaku ini diketahui bernama Chusnul Huda yang yang bekerja sebagai guru Bimbingan Konseling (BK) di SMPN 4 Kepanjen. Pelaku melamar kerja di SMPN 4 Kepanjen dengan menggunakan ijazah palsu.

“Pelaku ini mengaku berijazah S1 bimbingan konseling. Tapi saat kita konfirmasi ke universitasnya (Universitas Kanjuruhan Malang, red), ternyata yang bersangkutan tidak lulus,” ucapnya.

Selain menjabat sebagai guru bimbingan konseling (BK) pelaku ini juga diamanahi sebagai guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

“Dari proses pemeriksaan, ternyata tersangka ini sudah melamar dan menjadi guru sejak 2015. Tahun 2016 itu diterima, awalnya hanya menjadi staf pembantu biasa. Akhirnya tahun 2017, diberi SK (surat keputusan, red) oleh kepala sekolah sebagai guru BK. Kemudian pada 2018, yang bersangkutan juga diberi SK sebagai guru PPKn,” jelasnya.

Kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Polisi menduga masih ada yang menjadi korban aksi menyimpang yang dilakukan guru cabul tersebut.

“Pemeriksaan awal kita sepertinya begitu (kelainan), meskipun sudah mempunyai istri dan anak. Kita akan lakukan pengembangan, kemungkinan ada korban lainnya,” tegasnya.

Sementara itu, Chusnul Huda mengaku selama ini memang menyukai laki-laki dan perempuan sejak usia 20 tahun, walau sudah memiliki anak dan istri.

“Saya mulai SMA. Gak tahu, tiba-tiba perasaan itu muncul begitu saja. Hanya 18 siswa saja,” terangnya.

Huda sendiri diketahui melamar menjadi guru bimbingan konseling (BK) di sekolah tersebut pada tahun 2015 lalu. Belakangan terungkap jika Huda melamar pekerjaan menggunakan ijazah palsu.

“Dulu tahunya dari salah satu guru, saya tanya apa ada lowongan. Ternyata ada, terus saya masuk lamaran. Saya kuliahnya BK di Unikama (Universitas Kanjuruhan Malang, red), tapi tidak lulus. Gak ada yang tahu, sampai kemarin. Itu yang saya kasihkan foto copy semua, waktu itu wakil kepala sekolah yang menerima,” pungkasnya. (Der/ulm) malangvoice.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: