Pelacuran Anak di Penjaringan Ternyata Pindahan dari Kalijodo

Sketsanews.comJAKARTA – Kafe Kayangan, lokasi prostitusi anak di kawasan Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara, ternyata merupakan pindahan dari Kalijodo.

Lokasi prostitusi anak tersebut telah beroperasi selama dua tahun belakangan di Penjaringan. Tercatat, ada 10 anak berusia 14 – 18 tahun yang dipekerjakan secara paksa oleh para tersangka.

“Karena memang hasil pemeriksaan bahwa pemilik itu sudah sejak dua tahun yang lalu pernah membuka tempat yg sama waktu masih ada Kalijodo. Tapi setelah Kalijodo dibersihkan, mereka pindah di Rawa Bebek,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (22/1/2020).

Ia menyebut hingga kini masih mendalami kemungkinan kafe-kafe prostitusi lainnya di sekitar lokasi tersebut.

“Ini terus masih didalami tim penyidik juga akan mendatangi beberapa kafe-kafe yang kemungkinan ada seperti di kafe kayangan tersebut,” sambungnya.

Senada dengan Yusri, Kasubdit Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum AKBP Piter Yanottama juga mengatakan, kafe kayangan merupakan salah satu lokasi pecahan dari Kalijodo.

“Analisa kita begitu, Kalijodo diratakan, otomatis orang-orang yang ada di situ menyebar kemana-mana. Beberapa orang membentuk koloni kantung-kantung (serupa kafe kayangan) itu lah. Salah satu kantungnya itu lah di Rawa Bebek itu,” kata Piter.

Untuk diketahui, Polda Metro Jaya mengungkap kasus human trafficking (perdagangan anak) atau eksploitasi seksual anak.

Setidaknya ada 10 anak dengan rentang usia antara 14 – 18 tahun menjadi korban kejahatan tersebut. Sebanyak enam tersangka pun ditangkap pada Senin (13/1/2020). Enam tersangka tersebut, yakni Mami A alias R, Mami T alias A, D alias F, TW, A dan E.

Keenamnnya ditangkap lantaran bekerja sama untuk mempekerjakan anak dibawah umur dengan memaksa mereka untuk melayani para hidung belang di sebuah kafe di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.

Atas tindakannya para tersangka diancam dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Juncto Pasal 296 KUHP dan Pasal 506 KUHP dengan ancaman penjara di atas sepuluh tahun melansir Sumber : poskota.id.

Miris, Bocah 14 Tahun Dibanderol Rp 150 Ribu

JAKARTA – Polda Metro Jaya mengungkap prostitusi yang memperdagangkan anak-anak usia belasan. Tarif untuk sekali kencan dibanderol Rp 150 ribu.

Cafe Khayangan di Jalan Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara digerebek aparat Ditreskrimum Polda Metro Jaya dilakukan pada Senin (13/1). Ternyata cafe tersebut hanya sebuah kedok untuk menjalankan bisnis prostitusi yang melibatkan anak-anak usia belasan tahun.

“Yang menjadi keprihatinan kita adalah dalam menjalankan aksinya ini, para tersangka sangat sadis karena setiap anak harus melakukan perbuatan itu sehari minimal 10 kali, ini sangat luar biasa,” ujar Kabag bin Ops Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Pujiyarto di Polda Metro Jaya, Selasa (21/1).

Lebih sadis lagi, bila tak memenuhi target, anak-anak tersebut akan dijatuhi hukuman dengan denda.

“Bayarannya Rp 150 ribu per sekali menemani, dengan pembagian Rp 60 ribu untuk anak ini (korban). Sisanya untuk maminya. Apabila enggak mencapai 10 kali (melayani lelaki hidung belang), nanti didenda Rp 50.000 per hari,” tambahnya.

Diungkapkannya, para korban baru bisa mendapatkan uangnya setiap dua bulan sekali. Para anak-anak di bawah umur itu tidak bisa keluar dari tempat penampungan yang telah disediakan.

Mereka juga tidak diizinkan memegang ponsel sehingga tidak dapat berhubungan dengan orang-orang di luar tempat penampungan.

“Omsetnya bahkan mencapai Rp 2 miliar dalam sebulan. Sementara itu, hp (handphone) semua disita, enggak ada hubungan dengan dunia luar,” ujarnya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan penggerebekan dilakukan oleh tim dari Sub Direktorat 5 Remaja, Anak, dan Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Dalam penggerebekan polisi menangkap enam orang yang langsung ditetapkan sebagai tersangka.

“Pada Senin lalu, 13 Januari di sekitar Penjaringan, Jakarta Utara di salah satu kafe di Rawa Bebek, berhasil ditangkap enam tersangka. Mereka semua mengeksploitasi anak di bawah umur,” katanya saat konfernsi pers.

Para tersangka tersebut berinisial R atau biasa dipanggil mami A, lalu mami T, D alias F, TW, A, dan E. Para tersangka pun sudah ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya untuk diperiksa secara intensif.

Dalam menjalankan aksinya, para tersangka memiliki peran yang berbeda-beda. Mulai dari mucikari, mencari dan menjual para korban.

Mami A berperan sebagai mucikari sekaligus sebagai pemilik kafe yang dijadikan lokasi penjualan anak berusia 14-18 tahun.

“Dia juga memaksa anak-anak berusia di bawah umur untuk berhubungan badan dengan pria hidung belang yang datang ke kafe,” ujarnya.

Tersangka mami T berperan memaksa anak-anak berusia di bawah umur untuk berhubungan seksual dengan para tamu.

Tersangka lainnya berinisial D alias F dan TW yang berperan mencari anak-anak di bawah umur melalui media sosial. Keduanya lalu menjual anak-anak tersebut kepada kedua tersangka yang biasa dipanggil mami.

“Anak-anak di bawah umur itu dijual seharga Rp750.000 hingga Rp1,5 juta kepada tersangka yang dipanggil mami,” sambungnya.

Tersangka selanjutnya adalah A dan E. Keduanya merupakan anak buah mucikari tersebut yang juga merangkap sebagai tukang sapu di cafe tersebut.

Saat dilakukan penggerebekan dan penangkapan tersebut polisi hanya menemukan 10 anak-anak di bawah umur yang diketahui sebagai korban eksploitasi komplotan tersebut.

“Anak-anak tersebut diancam membayar sejumlah uang oleh para mucikari jika hendak keluar dari pekerjaannya. Kalau anak ini mau keluar dari area cafe boleh, tapi harus menebus dengan uang 1,5 juta,” ujarnya.

Kasubdit Remaja, Anak dan Wanita (Renakta) Polda Metro Jaya AKBP Piter Yanottama menduga prostitusi anak tersebut disebabkan dibongkarnya praktik prostitusi di Kalijodo pada 2016 lalu.

“Analisa kami, begitu Kalijodo diratakan, otomatis orang-orang yang ada di situ (Kalijodo), menyebar ke mana-mana. Beberapa orang yang membentuk koloni kantong-kantong itu lah, salah satu kantongnya itu lah di Rawa Bebek,” kata Piter.

Piter mengungkapkan, praktik eksploitasi seksual anak itu telah beroperasi selama dua tahun. Bahkan, lokasi eksploitasi anak di kafe di Rawa Bebek tersebut tergolong kumuh dan tak layak ditempati.

“Mereka menyiapkan tempat yang ala kadarnya, sangat tidak layak, mucikarinya di situ. Kemudian, mereka kalau menerima tamu juga di situ. Tempatnya pun sangat kumuh,” ungkap Piter.

Dalam kasus ini polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa telepon genggam, buku daftar tamu Cafe Khayangan, buku catatan sewa kamar, ATM, KTP, dompet, dan beberapa alat kontrasepsi.

Adapun kepada para tersangka dikenakan pasal berlapis yakni Pasal 76I Jo Pasal 88 dan atau Pasal 76F Jo Pasal 83 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 296 KUHP dan atau Pasal 506 KUHP.

Pasal 76I Jo Pasal 88 dan atau Pasal 76F Jo Pasal 83 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000. Pasal 296 KUHP, dengan pidana penjara paling lama 1 tahun. Pasal 506 KUHP, dengan pidana penjara paling lama 1 tahun.

Menanggapi hal tersebut, Komisioner KPAI Ai Maryati Solihah kepada Fajar Indonesia Network mengatakan, dalam menjerat para tersangka, polisi seharusnya bisa mengambil langkah dengan mengenakan tindak pidana perdagangan orang.

Ai menilai, kasus ini sudah mengarah kepada perdagangan orang yang menyasar usia anak. Hal ini bisa dikategorikan extra ordinary crime.

“Karena jika dilihat ini sudah erorganisisr, sudah ada yang bertugas mencari, kemudian menjual sampai dengan mengelola uangnya. Mari kita tingkatkan penegakkan hukum. Agar kita tidak hanya memadamkan api saja,” katanya.

Lebih lanjut, Ai menjelaskan, atas tejadinya peristiwa tersebut, pemerintah harus ikut andil. Yakni mulai dari mencabut izin usaha hingga penyitaan dan penyegelan tempat usaha.

Ia mengkategorikan anak yang biasanya terjerumus dalam perdagangan tersebut, seperti anak putus sekolah, broken home, memiliki utang, hingga mereka yang ingin bekerja tetapi tidak memeliki keterampilan.

“Inilah, mereka yang ingin bekerja tapi sambil happy-happy biasanya mudah terjerumus,” terangnya.

Selain itu, mereka yang memiliki profiling yang sama dengan pelaku sebelumnya juga lebih mudah untuk diajak.

“Karena otak perekrutannya membuka peluang. Sengaja membuka peluang agar mereka mengajak temannya,” bebernya.

Ia mengimbau, agar kasus serupa tidak kembali terulang, permasalahan ini bisa diidentiikasi dari sekolah dan keluarga. Jika ada anak yang diidentifikasi membolos, suka dengan dunia malam, ini harus mendapat perhatian lebih.

“Sekolah atau keluarga harus menegur, jika memang sudah terindikasi suka dengan dunia malam. Dengan harapan, mereka tidak terjerumus dan masuk ke perdagangan orang,” tandasnya melansir sumber fin.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: