Sketsa News
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, News Pelakor vs Non Pelakor

Pelakor vs Non Pelakor

ilustrasi wanita pelakor. foto:Kompas.com

Sketsanews.com, Jakarta – Seminggu yang lalu, dunia medsos dihebohkan oleh video seorang wanita yang duduk di kursi, dilempari/dihujani dengan lembaran uang Rupiah oleh wanita lainnya. Rupanya wanita tersebut adalah pelakor temannya sendiri.

Pelakor adalah akronim dari Perebut laki Orang. Istilah ini sudah lama ada, yakni WIL (Wanita Idaman Lain), berbeda istilah tapi maknanya sama saja, sama-sama perebut suami orang.

Istilah WIL dirasa lebih halus, karena kesan yang diberikan adalah pria yang lebih dahulu bersalah karena punya idaman lain. Sedangkan istilah Pelakor, maka wanita yang terkesan jahat, karena berusaha merebut suami orang lain.

Psikolog ternama sekaligus Dosen di Universitas Tarumanegara, Roslina Verauli mengatakan, tindakan pelakor bisa disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
1.Masa lalu seoranng wanita yang penuh fantasi. Pengalaman pernah disakiti pria atau suaminya pernah direbut wanita lain, menjadikan wanita merasa butuh perlindungan lebih. Maka ia memilih lelaki yang sudah beristri kaena dirasa lebih berpengalaman.
2.Rendahnya kontrol diri, sehingga emosinya cenderung meledak-ledak, rasa empati terhadap sesama wanita pun juga menurun. Diri yang tak terkontrol akhirnya membuat wanita tak memahami norma dan lebih mengikuti rasa cinta.

Ujung dari tindakan pelakor adalah terjadinya perceraian. Dalam hal ini, kebanyakan wanitalah yang mengajukan gugatan cerai. Zaman dahulu ini merupakan suatu hal yang tabu, namun sekarang sudah bergeser nilainya.

Beberapa contoh:
a. Sepanjang tahun 2014, di Kota Sangatta, Kalimantan Timur, perselingkuhan sebagai penyebab perceraian hampir mendekati angka 90 %, jauh lebih tinggi dibandingkan penyebab lainnya yang mengakibatkan keretakan rumah tangga. Menurut Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Sangatta, Syarifuddin Noor, dari 90 % perceraian yang disebabkan oleh perselingkuhan itu rata-rata gugatan cerai diajukan oleh pihak istri.
b. Di tahun yang sama, yaitu 2014, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sebuah kota metropolis di Indonesia bagian timur, telah dijangkiti wabah perceraian yang dipicu oleh perselingkuhan. “Trend-nya, kini istri di Makassar lebih banyak menggugat. Dan, 90% perkara cerai (di PA Kota Makassar) karena selingkuh,” kata Humas Pengadilan Agama Kota Makassar Anas Malik MH, kepada Tribun Timur, Kamis (6/11/2014) siang. Data yang sangat mengejutkan, karena angkanya juga mencapai 90 %.

Lalu, apakah sama antara pelakor dengan wanita yang menawarkan diri untuk dinikahi secara resmi ? Secara kuantitas memang sama, yakni keinginan memiliki lelaki yang sudah jadi istri wanita lainnya. Namun secara kualitas, sangat jauh berbeda.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), perebut mempunyai arti merampas, mengambil secara paksa barang milik orang lain.

Dapat dipastikan bahwa pelakor memang punya tujuan jelek, yakni merusak rumahtangga orang lain, merayu lelaki untuk menceraikan istri sahnya, termasuk juga menjauhkan lelaki dari keluarganya, atau juga sebagai tindakan balas dendam terhadap istri dari lelaki yang diselingkuhinya.

Sedang wanita yang menawarkan diri untuk dinikahi seorang lelaki yang sudah berkeluarga, sudah barang tentu ia tidak akan merongrong keharmonisan rumahtangga calon suaminya, ia tidak akan merayu lelaki untuk menceraikan istri pertamanya, ia akan senantiasa menjaga nama baik wanita yang jadi “saingannya”, tindakannya bukanlah aksi balas dendam tapi sebuah ungkapan rasa sayang.

Intinya, tidak semua wanita yang menikah dengan lelaki yang sudah jadi suami wanita lain dikategorikan sebagai pelakor.

(Fya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: